BALIEXPRESS.ID - Menjelang Hari Raya Nyepi, semangat kreativitas Sekaa Teruna Dharma Pertiwi, Banjar Kauh, Desa Pecatu, Kuta Selatan, Kabupaten Badung, begitu membara. Untuk menyambut Tahun Caka 1947, mereka menghadirkan sebuah ogoh-ogoh megah setinggi 5,4 meter bernama Kala Lipyakara, yang mengusung konsep mendalam: pengingat atas Tri Hita Karana yang mulai terlupakan.
Ketua ST Dharma Pertiwi, Putu Bayu Dea Laksana, mengungkapkan bahwa ogoh-ogoh ini adalah hasil karya gotong royong seluruh anggota Sekaa Teruna.
“Di banjar kami semua bahu membahu, ada yang membuat rangka, ada yang melukis, semua saling melengkapi. Konsepnya pun kami diskusikan bersama hingga tercipta seperti sekarang,” ujar Dea Laksana saat ditemui, Kamis (13/3).
Makna Mendalam di Balik Kala Lipyakara
Nama Kala Lipyakara muncul dari gagasan tentang manusia yang melupakan esensi Tri Hita Karana: hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam.
Konsep ini dituangkan dalam empat simbol kuat yang mempertegas pesan spiritual ogoh-ogoh tersebut.
-
Raksasa Murka di Puncak: Simbol Ida Sang Hyang Widhi yang menunjukkan kemarahan atas perilaku manusia yang melupakan keseimbangan hidup. Raksasa ini menggambarkan kekuatan ilahi yang bisa berwujud apa saja untuk mengingatkan manusia.
-
Timbangan Keseimbangan dan Keadilan: Dibawa oleh salah satu figur manusia, timbangan ini melambangkan pentingnya menjaga keseimbangan dan keadilan dalam hidup.
-
Tiga Manusia yang Tersesat: Figur manusia di bawah raksasa merepresentasikan tiga aspek yang terlupakan: hubungan dengan sesama, alam, dan Tuhan. Mereka menjadi cerminan realitas manusia modern yang kerap abai pada nilai-nilai spiritual.
-
Angin Pengingat dari Sang Kala: Simbol terakhir berupa hembusan angin dari kemarahan sang kala. Angin ini dimaknai sebagai pemicu kesadaran manusia agar kembali mengingat Tri Hita Karana sebagai pedoman hidup.
Baca Juga: Jalan Longsor di Desa Galungan Segera Diperbaiki
Siap Berlaga di Lomba Ogoh-Ogoh Puspem Badung
Karya luar biasa ini tidak hanya menjadi pengingat nilai luhur, tetapi juga siap bersaing dalam Lomba Ogoh-Ogoh yang akan digelar di Balai Budaya Giri Nata Mandala, Puspem Badung, pada 15-16 Maret 2025.
Sebagai juara ketiga Zona 7, ST Dharma Pertiwi optimis bisa memberikan penampilan terbaik untuk mengangkat kembali makna Tri Hita Karana ke panggung utama.
Dengan perpaduan kreativitas, kekompakan, dan pesan filosofis yang kuat, ogoh-ogoh Kala Lipyakara menjadi simbol refleksi bagi kita semua: agar tak lupa menjaga harmoni dalam kehidupan, selaras dengan alam semesta dan Sang Pencipta. ***
Editor : I Putu Suyatra