Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Spirit Hari Raya Nyepi Umat Hindu Nusantara, Dilaksanakan Sejak 78 Masehi, Erat dengan Kisah Raja Kaniskha di India  

I Putu Mardika • Jumat, 21 Maret 2025 | 04:37 WIB

Prosesi mecaru di catus pata Desa Adat Buleleng
Prosesi mecaru di catus pata Desa Adat Buleleng
BALIEXPRESS.ID-Hari Raya Nyepi Saka 1947 yang jatuh pada 29 Maret 2025 mendatang. Umat Hindu di Indonesia kembali merayakan pergantian Tahun Baru Saka sebagai Hari besar keagamaan.

Perayaan Hari Raya Nyepi ini memiliki Sejarah panjang yang erat hubungannya dengan Raja Kaniskha I di India hingga dirayakan sampai saat ini di Indonesia.

Dosen Pendidikan Agama Hindu, STAHN Mpu Kuturan, Nyoman Ariyoga, M.Pd menjelaskan, Hari Raya Nyepi  menurut sejarah sudah dilaksanakan sejak tahun 78 M oleh Raja Kaniskha I di India.

Hari Raya Nyepi di Bali juga sudah dilaksanakan secara turun temurun sejak berabad-abad yang lalu.

Jika mengacu dari Raja Kaniskha I menyebutkan tujuan dari perayaan Hari Raya Nyepi adalah mempersatukan keragaman antar suku beragama di India.

Hal ini sebagai salah upaya Raja Kaniskha I mempersatukan umatnya yaitu dengan memberlakukan kalender Saka sebagai acuan perhitungan setiap ritual keagamaan yang dilaksanakan oleh umat Hindu.

Namun, umat Hindu seluruh Indonesia, menggunakan kalender Saka Caitradi yang bermakna tahun baru yang jatuh pada Tilem Kesanga/ Ngesanga.

Sedangkan di Bali sampai saat ini masih menggunakan acuan perhitungan kalender Saka Bali sebagai alat perhitungan ketika melaksanakan setiap ritual keagamaan umat Hindu.

Pada tahun 1959 setelah kemerdekaan, tokoh agama Hindu bergegas mengadakan pertemuan yang menyatakan bahwa tahun baru Saka disebut juga Hari Raya Nyepi.

Baca Juga: Pernyataan Pelatih Australia Tony Popovic Bikin Tambah Sakit Hati setelah Sukses Bungkam Indonesia 5-1 pada Kualifikasi Piala Dunia 2026

Pertemuan ini menjadi tonggak awal umat Hindu bangkit, pada tahun 1975 disusul dengan seminar keputusan Seminar kesatuan tafsir terhadap aspek-aspek agama Hindu.

Isi dari seminar yaitu Nyepi adalah pergantian tahun baru Saka dan rangkaian Hari Raya Nyepi adalah Ngesange, Melasthi, Amathi Geni/Sipeng, dan Ngembak Geni.

Hal ini merupakan salah satu bukti perjuangan para tokoh umat Hindu dalam mempertahankan kaumnya di Indonesia.

Sejak presiden Soeharto tahun 1983 menyatakan Hari Raya Nyepi resmi sebagai hari libur nasional.

“Untuk menyamaratakan perayaan Hari Raya Nyepi di Indonesia, maka diadakan seminar kesatuan tafsir terhadap aspek-aspek agama Hindu kedua pada tahun 1988 tentang Hari Raya Nyepi di Indonesia, dan berlaku hingga kini,” katanya.

Sebelum hari raya Nyepi di selenggarakan Upacara Melasti dan Tawur Kesanga. Ada sejumlah lontar yang mengulas mengapa melasti itu penting dilaksanakan sebagai bagian dari proses penyucian bhuana agung (makrokosmos) dan Bhuana Alit (mikrokosmos) menjelang Nyepi.

Dijelaskan Nyoman Ariyoga, mengenai tujuan Upacara Melasti maka dalam lontar Sanghyang Aji Swamandala dijelaskan “ ...anggayuntaka laraning jagad, paklesa letehing buana. Maknanya melenyapkan penderitaan masyarakat, melepaskan kepapaan dan kekotoran masyarakat.

Dalam lontar Sundarigama dijelaskan sebagai berikut: atari chaitra tekaning tilem iak pasuciang prawatek dewata kabeh ana ring telening samudera, amerta sarining amerta kamandalu matangiang wenang manusa kabeh, angaturang prakerti ring prawatek dewata.

Artinya pada hari tilem bulan chaitra merupakan hari penyucian para dewata, mengambil air kehidupan di tengah tengah samudra, oleh karena itu patutlah manusia/umat Hindu melakukan persembahan kepada para dewa.

Baca Juga: Nama Shin Tae-yong Menggema di Australia Saat Timnas Indonesia Dikalahkan Tuan Rumah 1-5

“Melasti ini bertujuan untuk menyucikan arca, pratima, nyasa atau pralingga, seperti Arca Brahma, Wisnu, Siwa, Ganapati, dan sebagainya. Semuanya itu merupakan media yang memusatkan pikiran di dalam memuja Hyang Widhi atau manifestasi-Nya, selanjutnya memohon Tirtha Amerta, agar mendapatkan keselamatan, kebahagiaan, dan kesejahteraan dalam hidup,” jelasnya.

Setelah melaksanakan Upacara Melasti barulah melaksanakan Upacara Tawur Kesanga. Dalam Lontar Sri Aji Jaya Kasunu dijelaskan...ring tileming sasih kesanga patut maprakerti caru tawur wastanya. Maknanya, pada tilem sasih kesanga patut mengadakan upacara Bhuta Yadnya yang disebut Tawur.

Begitu juga Lontar Sundari Gama menjelaskan bahwa “...ring prawaning tilem kesanga gaweakane bhuta ya yadnya ring catur pataning desa”. Artinya pada hari prawarni tilem kesanga agar melaksanakan upacara Bhuta Yadnya /Tawur Kesanga diperempatan desa.

Dalam Lontar Agastya Parwa dijelaskan sebagai berikut :...bhuta yadnya angaranya tawur kapuja ring tuwuh.

Artinya :...bhuta yadnya adalah tawur untuk keselamatan mahluk hidup. Sedangkan Lontar Cundamani disebutkan tujuan Bhuta Yadnya adalah untuk menetralisasikan kekuatan-kekuatan alam agar perputaran alam ini tidak goncang.

Dijelaskan Ariyoga, Upacara pangrupukan dalam rangkaian Hari Raya Nyepi dilaksanakan pada bulan mati (Tilem) sasih kesembilan (Sasih Kasanga). Karena pada hari ini (Tilem) merupakan hari yang bertepatan dengan bulan mati.

Baca Juga: Timnas Indonesia Dibantai Australia 1-5, Dukungan Erick Thohir ke Kluivert Tuai Sorotan

“Pada hari Tilem merupakan hari baik terakhir melakukan upacara bhuta kala, kemudian beralih ke hari baik untuk melakukan upacara dewa yadnya (korban suci kepada Dewa),” imbuhnya.

Sesungguhnya, upacara pangrupukan yang jatuh pada hari Tilem Sasih Kasanga itu memiliki makna fisiologis yang sangat mendalam bagi umat Hindu di Bali, yaitu kasanga berarti kesembilan.

Angka sembilan merupakan angka terakhir untuk selanjutnya berganti dengan angka yang mengandung nol (0).

Misalnya setelah sembilan akan disusul oleh angka sepuluh, setelah sembilan belas akan disusul oleh dua puluh, dan seterusnya.

Hal ini mengindikasikan bahwa setelah sembilan akan terjadi peralihan perhitungan. Kecuali itu, menurut kosmologi umat Hindu bahwa angka sembilan juga mengacu kepada ke sembilan penjuru arah mata angin.

Masyarakat Hindu di Bali percaya bahwa di sembilan arah mata angin itu bersemayam para Dewata, yaitu di arah timur Dewa Iswara, di tenggara Dewa Maheswara, di selatan Dewa Brahma, Dewa Rudra di barat daya, Dewa Mahadewa di arah barat, Dewa Sangkara di barat laut, Dewa Wisnu di arah utara, Dewa Sambu di timur laut, dan Dewa Siwa bersemanyam di tengah-tengah.

Baca Juga: Timnas Indonesia Dibantai Australia 1-5, Dukungan Erick Thohir ke Kluivert Tuai Sorotan

“Umat Hindu di Bali juga mengenal konsep Kala Ya Dewa Ya. Maknanya, kala atau waktu itu terdiri atas waktu (hari) baik dan waktu buruk. Hari baik dihubungkan dengan turunnya para Dewa. Kalau hari buruk diasosiasikan dengan berkeliarannya para Bhuta Kala. Oleh karena itu, di samping di sembilan arah mata angin itu bersemanyam para dewa, juga di sembilan arah mata angin itu dihuni para Bhuta Kala,” paparnya.

Proses pengrupukan dan pecaruan di lakukan secara berjenjang. Upacara Bhuata Yajna di tingkat provinsi, kabupaten dan kecmatan, dilaksanakan pada tegah hari sekitar pukul 11.00-12.00 (kala tepet) dengan sarana yang disesuaikan.

Sedangkan di tingkat desa bahan sesajen caru yang digunkan antara lain nasi sasah amancawarna (brumbun) sebanyak 9 tanding, segehan agung dengan warna putih sebanyak 108 tanding, dagingnya olahan ayam brumbun dan tetabuhan serta api takep.

Sesajen/bebanten ini dihaturkan ke hadapan Sang Bhuta Kala. Apabila diperhatikan nasi sasah dan segehan agung itu masingmasing berjumlah sembilan tanding dan 108 tanding.

Ini menunjukkan pada angka kelipatan sembilan, yang berarti bahwa ada kaitannya dengan Dewata Nawa Sanga yang menempati arah mata angin di alam semesta ini dan juga menempati pada bagian-bagian tertentu dari organisme manusia, seperti telah disebutkan di atas.

Ayam brumbun (amancawarna) adalah seekor ayam yang warna bulunya terdiri atas warna merah, putih, kuning, dan hitam.

Baca Juga: Timnas Indonesia Dibantai Australia 1-5, Tuan Rumah Malah Tiru Gaya STY, Netizen Teriak: Kembalikan Shin Tae Yong!

Ayam brumbun biasanya dipakai sesuai dengan urip panca desa (bilangan 33). Kulit ayam brumbun itu dikelupas, dagingnya diolah dijadikan caru sebanyak delapan tanding (takaran), sesuai dengan warna brumbun, seperti telah disebutkan di atas.

Selanjutnya, tetabuhan dibuat dari tetesan darah binatang dengan memotong leher ayam. Inilah yang berkembang menjadi tabuh rah/tajen.

Hal ini dapat dibuktikan dengan pelaksanaan tabuh rah pada setiap upacara pangrupukan dan upacara pecaruan di tingkat desa adat di Pulau Bali.

Menurut kepercayaan umat yang beragama Hindu di Pulau Bali tetabuhan ini adalah minuman sang bhuta kala, sedangkan lauk-pauk yang disukai oleh sang bhuta kala itu adalah segala yang berbau amis dan babad (jejeroan) mentah.

Selain itu, bentuknya seperti tampak dara atau swastika netral yang menyimbolkan arah mata angin. Apinya merupakan simbol penyaksi dan pengantar diselenggarakannya upacara itu

Pelaksanaan upacara pacaruan di tingkat desa adat pada umumnya dilaksanakan di perempatan jalan atau pertigaan jalan, karena tempat itu dipandang keramat dan tempat tinggal para bhuta kala.

Pelaksaan upacaranya dilakukan pada saat tengai tepet (peralihan dari pagi hari ke siang hari) atau pada waktu sandikala (peralihan siang hari ke malam hari), karena menurut keyakinan Umat Hindu bahwa pada saat peralihan itu para bhuta kala berkeliaran.

Baca Juga: AMOR ING ACINTYA! Pria di Buleleng Ditemukan Tewas Tergantung di Perkebunan, Diduga Jadi Korban Judi Online

Dalam hal ini, pada waktu ngayat tangan pemangku/pinandita yang memimpin upacra menghadap ke bawah/ke bumi, karena caru itu disuguhkan kepada bhuta kala yang derajatnya lebih rendah daripada manusia, agar tidak mengganggu keadaan alam semesta (bhuana agung).

“Pelaksanaan upacara pecaruan di tingkat desa adat didahulukan, karena setiap rumah tangga akan memohon tirta caru ke desa setelah selesai pecaruan di desa adat setempat,” paparnya.

Sedangkan di Tingkat rumah tangga, ada sedikit pebedaan dengan di Tingkat desa. Sarananya, tetabuhan dari darah ayam digantikan dengan arak berem, karena maknanya sama.

Caru itu dihaturkan pada saat sandikala di halaman sanggah/pemerajan (tempat suci keluarga) masing-masing.

Kemudin, dilanjutkan dengan menghaturkan segehan agung/pecaruan dan nasi sasah sebanyak 108 tanding di depan pintu rumah.

Selesai menghaturkan segehan agung/pecaruan, anggota keluarga mebyakala, yaitu upacara pembersihan diri (bhuana alit) dari gangguan bhuta kala.

Baca Juga: Kronologi Kecelakaan Dramatis! Seorang Pemuda Diduga Mabuk Tabrak Mobil, Terpental, lalu Jatuh ke Sungai

Oleh karena itu, pada waktu natab sesajen byakala tangan diarahkan ke bawah atau ke bumi pula.

Selanjutnya, diadakan pangrupukan yang bertujuan mengusir para bhuta kala dari pekarangan rumah dan bilik-bilik bangunan rumah agar kembali ke tempatnya masing-masing.

Alat perlengkapan yang digunakan, antara lain obor, kentungan, dan perlengkapan lainnya.

“Caranya adalah obor dinyalakan dan kentungan (kulkul) dipukul-pukul sambil mengelilingi halaman rumah dan berputar ke kiri sebanyak lima kali (kelima arah mata angin), yang berarti menuju ke bawah, mengingat derajat bhuta kala itu lebih rendah dari manusia,” ungkapnya. (dik)

 

Editor : I Putu Mardika
#bali #Saka 1947 #nyepi #kesanga #hindu #melasti