BALIEXPRESS.ID - Bali Darurat DBD! Jumlah kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Pulau Dewata terus meroket. Baru memasuki bulan ketiga tahun 2025, angka kasus sudah mencapai 4.226 orang.
Padahal, sepanjang tahun lalu kasusnya sudah naik dua kali lipat dibandingkan 2023.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali, dr. I Nyoman Gede Anom, mengungkapkan lonjakan kasus ini dalam acara "Bebas Nyamuk, Keluarga Sehat dan Bebas DBD" yang digelar di Denpasar pada Rabu (20/3).
"Tahun 2024 meningkat dua kali lipat dibandingkan 2023," tegasnya.
Baca Juga: Tak Hanya Pelaku Penelanjangan, AWK Desak Tiga Pemuda Curi Tabung Gas Diproses Hukum
Buleleng Jadi Wilayah Terparah
Dari ribuan kasus yang dilaporkan sejak Januari hingga 19 Maret, Buleleng menjadi daerah dengan kasus tertinggi, yakni 900 kasus.
Disusul Badung dengan 800 kasus, serta Gianyar dan Denpasar masing-masing 600 kasus.
Pemerintah pun menggencarkan langkah pencegahan dengan program Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M Plus dan Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik (G1R1J).
Wakil Gubernur Bali, Giri Prasta, turut mencanangkan program 1 rumah tangga 1 jumantik agar nyamuk mematikan Aedes aegypti dan Aedes albopictus tak lagi menghantui warga.
Ada Vaksin, Tapi Berbayar!
Saat ini, vaksin DBD sudah tersedia di fasilitas kesehatan dan rumah sakit, namun masih berbayar. Harganya mencapai Rp 700 ribu untuk dua kali suntik.
Baca Juga: Sosok I Wayan Tama: Dari Politisi Golkar Tiga Periode hingga Kembali ke Dunia Pariwisata
"Bagi yang mampu, vaksin bisa menjadi perlindungan tambahan. Namun, kami berharap ke depan vaksinasi DBD bisa menjadi program nasional agar gratis untuk masyarakat," ujar dr. Anom.
Vaksin DBD ini bisa diberikan kepada anak usia 6 tahun hingga dewasa 45 tahun dan tersedia di rumah sakit serta tempat praktik dokter.
Rumah Sakit Tak Lagi Kewalahan, Tapi Korban Jiwa Tetap Ada
Meski lonjakan kasus tinggi, penanganan pasien kini lebih merata. Jika satu fasilitas kesehatan penuh, pasien akan dirujuk ke rumah sakit lain.
Bali kini memiliki 83 rumah sakit yang siap menangani pasien DBD.
Namun sayangnya, 7 orang telah meninggal dunia akibat DBD, dari anak-anak hingga dewasa. Penyebab utama? Keterlambatan penanganan!
"Rata-rata pasien datang ke rumah sakit dalam kondisi sudah syok. Kami imbau masyarakat segera ke dokter jika mengalami demam berkepanjangan meski sudah minum Paracetamol. Jangan tunggu parah!" pungkas dr. Anom. ***
Editor : I Putu Suyatra