BALIEXPRESS.ID-Di tengah kemeriahan pawai ogoh-ogoh pada Pengerupukan, Jumat (28/03/2025) ada satu ogoh-ogoh yang mencuri perhatian.
Ogoh-ogoh tersebut milik ST Satya Dharma Yowana, Banjar Pagan Kelod, Sumerta Kauh.
Pasalnya, ogoh-ogoh yang diarak oleh pemuda pemudi ini berupa Lembu berwarna merah.
Lembu merupakan sarana yang digunakan dalam upacara ngaben di Bali.
Lembu digunakan sebagai tempat membakar jenazah dan petunjuk jalan ke surga bagi roh yang meninggal.
Sontak saja, ohgoh-ogoh ini Lembu Merah ini pun membuat penasaran.
Baca Juga: SUASANA MENCEKAM! Anak-anak Histeris, Warga Banjar Sental Kangin Dievakuasi ke Polsek Nusa Penida
Kepada Bali Express, Ketua ST Satya Dharma Yowana mengungkap bahwa alasan Banjar Pagan Kelod membuat ogoh-ogoh Lembu Merah.
Hal ini dikarenakan Pemuda Pagan Kelod mengalami krisis dana dan krisis SDM tahun ini.
“Dana yg dimiliki hanya 10juta maximal untuk keseluruhan acara pengerupukan,” jelasnya pada Senin (31/03/2025).
Lebih lanjut, Pemuda Banjar Pagan Kelod berniat untuk absen dalam membuat ogoh-ogoh akan tetapi kurang apdol jika sama sekali tak membuat karena akan berpotensi memutus regenerasi kreativitas anak anak penerus pemuda.
“Lalu saat dirembugkan, rekan rekan “sekaa demen” (masih warga pagan kelod) yg melibatkan pemuda, pemuda yg baru menikah sampai orang tua kami yg semangatnya untuk tetap mengadakan ogoh ogoh agar tetap ada euphoria,” jelasnya.
Baca Juga: Banjir Dukungan Usai Permintaan Maaf, Kedux dan STYSB Tainsiat Janji Evaluasi Ogoh-Ogoh 2025
Akhirnya terbentuk tim yang diberi nama gerakan R.I.P (Relax In Pagan).
“Tetap santai, namun harus tetap berkarya disela sela kevakuman stt saat ini,” imbuh Ketua STT.
Lebih lanjut, jalan satu satunya untuk memangkas anggaran ogoh2 dengan cara “Beli”.
“Namun muncul pertanyaan, Masak ogoh ogoh sube taen me anggo biin tegen?” Akhirnya muncul celetukan ekstrem ‘Lembu anggo’,” tambahnya.
Banjar Pagan Kelod juga menyebut bahwa ogoh-ogoh Lembu terinsipirasi dari pawai pkb 2024 dimana salah satu kabupaten muncul dengan garapan simbolis pengabenan (bade + lembu).
“Secara sekala, kami berani karena pemerintah pernah melalukan hal tersebut,” pungkasnya.
Editor : Wiwin Meliana