BALIEXPRESS.ID – Presiden Baduda, @nanoe_biroe, mengungkapkan rasa sedihnya terhadap banyaknya netizen yang melakukan bullying terhadap ogoh-ogoh Banjar Tainsiat di media sosial.
Menurutnya, kritik yang disampaikan lebih bersifat menghina daripada membangun.
Baca Juga: Arya Wedakarna Desak Pemkab Jembrana Gercep Tangani Infrastruktur; Jangan Tunggu Korban!
“kritik silahkan, tapi jangan menghina dan merendahkan." ujar nanoe biroe.
Dalam sebuah podcast di akun YouTube jeg.bali, Nanoe Biroe menekankan pentingnya menghormati karya seni dari para maestro dan pemuda Banjar Tainsiat yang telah berusaha keras menyelesaikan ogoh-ogoh tersebut.
Ogoh-ogoh Banjar Tainsiat, yang mengangkat konsep “Bhuta Ngawesari” dengan sentuhan teknologi modern seperti sistem mekanik berbasis programmable logic controller (PLC), mendapat sorotan tajam dari masyarakat.
Baca Juga: Parah! Gerombolan WNA Hendak Trek-Trekan Pakai Ninja di Bualu, Begini Tindakan Polisi
Meskipun inovasi tersebut bertujuan menghadirkan gerakan kompleks pada ogoh-ogoh, hasil akhirnya dianggap tidak memenuhi ekspektasi estetika maupun teknis.
Bahkan, penyelesaian ogoh-ogoh baru rampung menjelang malam pengerupukan, sehingga penonton di kawasan Catur Muka sempat kecewa dan meninggalkan lokasi sebelum pementasan selesai.
Kedux, konseptor ogoh-ogoh tersebut, telah meminta maaf secara terbuka melalui surat yang diunggah di akun Instagram @keduxgarage & @stysbtainsiat.
Ia mengakui berbagai kekurangan dalam pengelolaan waktu, tenaga kerja, dan keuangan sebagai penyebab hasil karya yang kurang maksimal.
Kedux juga berjanji untuk menjadikan kritik masyarakat sebagai bahan evaluasi demi menghasilkan karya yang lebih baik di masa depan.
Baca Juga: Baleganjazz; Perpaduan Gamelan dan Saxophone dalam Tradisi Ogoh-Ogoh Bali yang Sarat Makna
Nanoe Biroe melalui podcast jeg.bali berharap agar masyarakat dapat lebih bijak dalam menyampaikan pendapat dan mendukung kreativitas lokal tanpa menjatuhkan semangat para seniman.
Pesan ini juga selaras dengan upaya pemerintah daerah untuk mengevaluasi pelaksanaan parade ogoh-ogoh agar lebih terorganisir di tahun-tahun mendatang.
Unggahan dari akun Insatgram @jeg.bali ramai dikomentari oleh warganet.
"Media yang mengangkat dan menaikan namanya. Media pula yang melempar memberi ruang masyarakat untuk berkomentar. Terutama media-media akun bertia atau ogoh-ogoh sosmed di Bali. Terus diupload dan diframing agar memancing masyarakat demi engagement." tulis akun @anggafuse.
"Yang mengkritik apa bisa buat lebih baik." tulis akun @agung_kresna_47u5.
Baca Juga: Bikin Haru! Curhatan Gala Sky Ingin Mami Papi Hidup Lagi, Bikin Netizen Nangis
"Pokoknya semua tergantung media. Cukup dnikmati saja rame nya. Abulan Pitung Dina kembali normal." tulis akun @gunk_oka.
"Ajang kreatifitas seni yang isinya menjadi penuh kebencian, cacian, makian. Dari puspem sampai catur muka. Gawat gumi jani." tulis akun @adimardangga.
"Mau hujatan apapun....... Tainsiat sdh pnya personal branding. Buktinya tetap ditunggu...... abaikan saja gonggongan itu, yg dominan ada rasa iri sbnrnya." tulis akun @ini_darmawan.
"Medsos jani isine jlema bali tapi be cara jlema luarr, menghina adalah yg utama, apalagi karya peturu jlema bali jeg simalu nyacadin, padahal sing ada ngorin ngantiang ajak mebalih tp ngujang kaden memedih." tulis akun @dwixrebel.
Editor : Wiwin Meliana