Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Dari Panggung ke Hati, Pesan Ekologis Tarian Lawas Bali Utara

Dian Suryantini • Kamis, 10 April 2025 | 00:45 WIB

Penampilan Tari Gelatik oleh penari lawas dari Sekee Gong Legendaris Eka Wakya Banjar Paketan.
Penampilan Tari Gelatik oleh penari lawas dari Sekee Gong Legendaris Eka Wakya Banjar Paketan.

 

SINGARAJA, BALI EXPRESS - Dua tarian lawas yang penuh filosofi, Tari Gelatik dan Tari Kekelik, dipentaskan di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Taman Bung Karno, Selasa (8/4), sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan seni budaya Bali Utara yang lestari dan menyuarakan pesan kepedulian terhadap lingkungan.

Tari Gelatik, yang lahir pada tahun 1981 di Bali Utara, merupakan buah karya kolaboratif dua seniman asal Buleleng, I Nyoman Arcana sebagai penata tari dan I Nyoman Mudana sebagai penata tabuh. Awalnya tarian ini dikenal dengan nama Tari Ngajah Gelatik, yang terinspirasi dari kegelisahan terhadap perlakuan tidak manusiawi terhadap burung gelatik.

Burung kerap dipelihara dengan cara yang menyakitkan. Praktik pemaksaan burung untuk terbang dan hinggap menggunakan tongkat menjadi sindiran halus dalam tarian ini.

Pertunjukan Tari Gelatik menghadirkan enam penari wanita yang membawakan gerak indah layaknya burung gelatik, serta satu penari pria yang memerankan sosok pelatih burung. Melalui gerakan dinamis yang berpadu dengan iringan musik tradisional yang digarap Sekaa Gong Legendaris Eka Wakya dari Banjar Paketan, Paket Agung, tarian ini menjadi lebih dari sekadar hiburan. Ia menjadi media penyampai pesan tentang pentingnya menjaga keseimbangan alam dan memperlakukan makhluk hidup dengan kasih sayang.

Tak kalah memikat adalah penampilan Tari Kekelik, salah satu karya kebanggaan Desa Bontihing, Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng. Tarian ini menggambarkan konflik antara seekor burung besar bernama Kekelik yang angkuh dan semena-mena, dengan burung-burung kecil yang bersatu demi melawan penindasan.

Kisah ini sarat akan nilai persatuan, keberanian, dan solidaritas. Melalui narasi visual ini, masyarakat diajak merenung bahwa dalam kebersamaan, semua tantangan dapat dihadapi bersama-sama.

Di balik pementasan Tari Kekelik, ada pula kehadiran Tabuh Pudak Sumekar, karya musik tradisional yang diciptakan oleh Made Keranca bersama Sekaa Gong Giri Kusuma pada tahun 1966. Garapan tabuh ini terinspirasi dari keindahan bunga pudak putih yang harum, yang tumbuh di sekitar pemandian Kayoan dan Pura Beji di Desa Bontihing. Suasana alam yang menyelimuti bunga tersebut—air yang sejuk dan nyanyian burung yang merdu—melahirkan nuansa musikal yang segar dan spiritual.

Baca Juga: Tari Gelatik Buleleng Bali: Diciptakan Tahun 1981, Ada Pesan Mendalam dari sang Maestro

Putu Sudiarsa, koordinator Sekaa Gong Giri Kusuma, menyampaikan kebanggaannya bisa menampilkan karya seni khas daerahnya dalam perayaan kota. Ia pun menegaskan pentingnya kolaborasi antara seniman dan pemerintah dalam menjaga keberlangsungan budaya. “Kami sebagai masyarakat kecil sangat bersyukur dengan adanya fasilitas seperti ini. Kami cukup bangga,” tuturnya dengan haru.

Pentas malam itu bukan hanya sebuah pesta seni. Ia menjelma menjadi ruang refleksi, di mana masyarakat Buleleng diajak untuk menengok kembali nilai-nilai luhur yang telah lama diwariskan melalui seni tari dan tabuh. Dari Gelatik yang menari dalam jeratan manusia, hingga Kekelik yang akhirnya tumbang oleh persatuan kecil-kecil yang terpinggirkan—semuanya berbicara tentang keseimbangan, kebersamaan, dan penghormatan terhadap kehidupan.

Melalui pentas budaya ini, HUT Kota Singaraja bukan hanya menjadi momentum nostalgia, tetapi juga titik awal penguatan kembali identitas budaya lokal dan kepedulian terhadap lingkungan. Di atas panggung, seni menjadi suara; dan malam itu, Singaraja mendengarkan dengan penuh khidmat. ***

Editor : Dian Suryantini
#bali utara #filosofi #gelatik #Banjar Paketan #kubutambahan #burung