SINGARAJA, BALI EXPRESS - Diah Mutiara Sukmawati Soekarnoputri bukan sekadar nama. Ia adalah bagian dari sejarah panjang negeri ini dan putri keempat Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, dari pernikahannya dengan Fatmawati. Sukmawati lahir di Jakarta pada 26 Oktober 1952, dan sejak kecil sudah dekat dengan denyut kehidupan politik dan budaya Indonesia.
Kedekatannya dengan Pulau Dewata dimulai sejak usia dini. Bersama sang ayah, ia kerap mengunjungi Bali. Kecintaan Sukmawati terhadap kebudayaan Bali pun tumbuh kuat. Ia memilih melanjutkan pendidikan seni di Akademi Tari Bali dan lulus pada tahun 1974. Ketertarikannya khusus tertuju pada Tari Topeng Bali, yang saat itu umumnya hanya ditarikan oleh laki-laki.
“Meskipun ini tari laki-laki, tapi saya ingin. Kenapa perempuan tidak boleh menarikan tarian topeng?” kenang Sukmawati dalam sebuah wawancara. Ia pun tercatat sebagai penari topeng perempuan pertama pada masanya, terinspirasi oleh Anak Agung Ayu Bulan Trisna Djelantik, penari baris Bali perempuan pertama.
Dunia seni memang menjadi bagian penting dalam hidupnya. Bahkan pada usia empat tahun, ia pernah menarikan Tari Kebyar karya maestro I Mario di Istana Tampaksiring, Bali. Namun, hidup Sukmawati tidak hanya tentang seni. Ia juga menjadi saksi sejarah yang penuh gejolak, terutama saat rezim Orde Baru berkuasa.
Baca Juga: Cerita di Balik Menu Sederhana ala Mustika Rasa, Ternyata Makanan Favorit Presiden Pertama Soekarno
Pada usia 14 tahun, Sukmawati menyaksikan langsung peristiwa G30S/PKI pada tahun 1965. Kala itu, ia hendak berangkat sekolah namun dicegah oleh pengasuhnya karena situasi yang mencekam. Dari jendela istana, ia melihat tentara berseragam tempur berjaga. Bahkan sempat terlintas di benaknya bahwa truk besar yang terparkir akan membawa keluarganya pergi.
“Saya melihat tentara itu bukan dari pasukan kepresidenan, dan ada pita di lengannya. Saya merasa tidak tenang,” ujarnya. Suasana istana berubah mencekam, dan sore harinya ia baru bisa keluar setelah dijemput ajudan ayahnya. Saat itulah ia menyadari bahwa peristiwa itu adalah bagian dari kudeta untuk menggulingkan sang ayah dari kursi presiden.
Tahun berikutnya, pada 11 Maret 1966, Presiden Soekarno mengeluarkan Surat Perintah kepada Letjen Soeharto untuk menjaga keamanan negara. Namun, surat itu kemudian dijadikan legitimasi untuk mengambil alih kekuasaan. Menurut Sukmawati, hal tersebut menjadi awal dari masa sulit bagi keluarganya.
Meski mengalami tekanan politik, Sukmawati tetap melangkah. Di usia 23 tahun, ia menikah dengan Pangeran Sujiwa Kusuma dari Mangkunegaran dan dikaruniai dua anak. Setelah pernikahan itu berakhir, ia kembali menikah dengan Muhammad Hilmy dan memiliki seorang anak. Hilmy wafat pada tahun 2018 karena sakit.
Sukmawati juga aktif dalam dunia politik. Pada tahun 1998, di tengah semangat reformasi, ia kembali menghidupkan Partai Nasional Indonesia (PNI), partai yang didirikan ayahnya pada tahun 1927. Langkah ini menjadi bentuk penghormatan sekaligus upaya melanjutkan cita-cita nasionalisme Bung Karno.
Pada tahun-tahun berikutnya, Sukmawati juga dikenal sebagai sosok yang berani mengambil keputusan besar dalam hidupnya. Salah satunya adalah ketika ia memutuskan untuk memeluk agama Hindu, mengikuti keyakinan leluhurnya dari garis sang eyang putri, yakni Ida Ayu Nyoman Rai Srimben dari Bale Agung, Buleleng. Keputusannya ini ia ambil dengan penuh kesadaran, sebagai bentuk kedekatan spiritual yang telah ia rasakan sejak kecil.
“Semua agama saya pelajari sebelumnya. Dan akhirnya keputusan itu saya mantapkan ketika kedua orangtua saya sudah tiada dan suami saya sudah wafat. Jadi saya tidak terikat dengan apapun dan saya merasa lebih sesuai menjalankan keyakinan hindu,” terangnya.
Sukmawati Soekarnoputri adalah sosok perempuan yang tumbuh di tengah pergolakan sejarah, namun tetap mampu menjaga jati dirinya. Dari panggung seni hingga panggung politik, ia hadir sebagai pribadi yang penuh semangat dan keberanian. Kisahnya adalah mozaik dari perjalanan seorang anak bangsa yang tidak hanya mewarisi nama besar, tapi juga terus bergerak untuk memberi makna bagi negeri. ***
Editor : Dian Suryantini