SINGARAJA, BALI EXPRESS – Rambut dibelah tengah, berjalan santai dengan syal selalu tergantung di lehernya. Itulah ciri khas dari atlet berprestasi Gol A Gong. Namun ia adalah atlet difabel. Tangan kirinya patah saat memanjat pohon ketika ia berusia 11 tahun.
Waktu itu Gol A Gong tengah duduk di kelas IV SD. Tangan kirinya itu terpaksa harus diamputasi. Untuk mengatasi rasa mindernya, orangtua Gol A Gong selalu memotivasinya. Ia diminta untuk terus berolahraga, membaca dan mendengar dongeng.
“Waktu tangan saya diamputasi kelas 4 SD, oleh orang tua disuruh baca, olahraga dan dengar dongeng, supaya gak minder. Jadi tiap subuh saya ikut bapak naik motor, bapak bawa motor saya ngikut dari belakang sambil lari. Bapak naik vespa. Sudah gitu saya dikasih raket main badminton. Di Waktu luang saya baca buku. Baca koran. Malam-malam dengerin dongeng. Terus begitu. Tanpa saya sadari kelas 6 SD saya sudah bikin naskah sandiwara radio. SMP juara 2 di sekolah lawan teman yang normal. Itu badminton. Sambil bikin komik saa waktu itu,” tuturnya bersemangat.
Begitu memasuki pendidikan SMA, pria yang memiliki nama asli Heri Hendrayana Harris ini lantas mulai bergeliat dalam bidang iterasi. Ia menulis puisi yang dimuat dalam Majalah HAI. Pun demikian ia tak meninggalkan dunia olahraga kala itu. Ia tetap serius terhadap badminton. Ia lantas menyabet juara kedua.
“Saya selalu di posisi 2 karena tanding dengan tangan satu. Semenatra jawara dengan tangan dua. Saya juga dikirim untuk lomba-lomba di bidang olahraga. Saya juga dikirim untuk menulis puisi. Bikin majalah waktu SMA,” kata dia.
Semangatnya untuk belajar membuat ia melanjutkan pendidikan di Fakultas Sastra, Universitas Padjadjaran. Selama kuliah ia terus berproses. Keterbatasan fisik tak lantas menjadi halangan bagi dirinya untuk menekuni hobi. Akan tetapi atlet adalah yang utama. Hobi membaca selalu dilakukan disela-sela waktu luang.
Baca Juga: Menjejakkan Kata, Merajut Makna : Kiprah Made Adnyana Ole dalam Sastra Bali
Gol A Gong adalah salah satu nama dari sekian banyak nama yang menginspirasi. Pria kelahiran Purwakarta ini tetap meraih jawara pada ajang Pekan Olahraga Penyandang Cacat (Porpenca). Selanjutnya ia dipercaya mewakili mewakili Indonesia dalam FESPIC Games yang kini disebut Asean ParaGames, hingga menjadi utusan Indonesia pada tahun 1989 ke Jepang.
“Saya dikirim ke Solo tahun 1986 saya bawa 3 emas, kategori double, single, beregu. Nah di tahun 1989 dikirim ke Jepang. Disana saya dapat juara 3 single. Doublenya masih dapat emas dan beregu,” terangnya.
Pria kelahiran Purwakarta, 15 Agustus 1963 ini juga sempat bercita-cita menjadi pelatih atlet difabel. Namun ia berubah pikiran menengok nasib atlet yang banyak tak terurus.
“Saat itu saya bercita-cita jadi pelatih. Tapi saya mikir lagi, orang yang normal aja masih belum terurus dengan baik, apalagi yang cacat,” imbuhnya.
Lantaran menjadi pelatih tak terwujud, ia kemudian melamar di Kompas Gramedia. Ia lolos menjadi wartawan. Disela-sela kegiatannya menjadi wartawan, ia menulis. Salah satu tulisannya adalah serial petualangan dirinya yang berjudul Balada Si Roy, yang kemudian dimuat di Majalah HAI. Selama dua tahun bergabung, ia berkontribusi mengirimkan tulisan dari luar negeri. Ia berkeliling Asia.
Pada tahun 1993, Gol A Gong diterima di ANTV. Kemudian pada tahun 1995 ia berpindah ke Indosiar. Begitulah jejaknya dari satu stasiun TV ke stasiun TV lainnya hingga ia bercokol di RCTI dari tahun 1996 sampai 2008.
“Disela-sela kerja saya itu saya menulis novel. Tulisan saya ada yang difilmkan. Dan saat lebaran 2022 tulisan saya yang difilmkan tayang. Judulnya Balada Si Roy,” kata dia.
Keseriusan Gol A Gong dalam dunia literasi tersebut membuatnya mendedikasikan diri membuat komunitas Rumah Dunia. Komunitas Rumah Dunia pun ia buka untuk mewadahi masyarakat yang ingin belajar literasi.
Berbagai kegiatan literasi juga ia lakukan lewat komunitas tersebut hingga ia ditunjuk sebagai ketua forum Taman Bacaan Masyarakat tahun 2010-2015. Seiring berjalannya waktu, Gol A Gong juga ditunjuk sebagai Duta Baca Indonesia meneruskan kiprah Najwa Sihab.
Yang cukup unik, nama pena yang digunakan adalah Gol A Gong. Nama tersebut menurutnya terinspirasi dari orang tuanya. Nama itu memiliki filosofi, semua kesuksesan berasal dari Tuhan.
“Saat itu saya berhasil diterima di Gramedia. Bapak saya bilang oh gol. Lalu kalau bikin karya harus seperti bunyi gong, menggema. Tapi jangan lupa itu semua karena allah. A itu allah. Jadi filosofinya Gol A Gong itu, semua kesuksesan berasal dari tuhan,” tegasnya. ***
Editor : Dian Suryantini