Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Kok Bisa? Pertanian Bali Terancam, Gubernur Koster Suruh Belajar ke Israel

Nyoman Suarna • Kamis, 17 April 2025 | 01:11 WIB
PERTANIAN: Gubernur Bali Wayan Koster meminta Bali belajar ke Israel terkait pertanian.
PERTANIAN: Gubernur Bali Wayan Koster meminta Bali belajar ke Israel terkait pertanian.

BALIEXPRESS.ID – Sektor pertanian di Bali kian menghadapi tantangan serius. Di tengah kondisi ini, Gubernur Bali Wayan Koster justru menyarankan agar Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan belajar dari Israel, negara dengan teknologi pertanian canggih meski memiliki lahan tandus.

Pernyataan tersebut disampaikan Koster dalam Pembukaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) RKPD Semesta Berencana Provinsi Bali Tahun 2026 di Gedung Wiswa Sabha Utama, Selasa (15/4).

Gubernur dua periode itu tak segan melontarkan kritik tajam terhadap kinerja Kepala Dinas Pertanian Bali, I Wayan Sunada, yang dinilainya kurang progresif.

"Lahan di Israel itu tandus, air terbatas. Tapi pertaniannya maju karena teknologi. Di sana embun pun bisa diolah jadi air untuk tanaman. Kalau perlu, belajarlah ke Israel! Jangan kerja gitu-gitu aja, gak bakal maju,” tegas Koster.

Menurut Koster, dengan inovasi dan teknologi yang tepat, pertanian Bali bisa jauh lebih produktif.

Ia mencontohkan bahwa satu hektare sawah yang biasanya hanya menghasilkan dua kali panen, bisa ditingkatkan menjadi tiga kali panen per tahun jika dikelola secara modern.

Meski produksi beras Bali masih surplus, jumlahnya terus menurun. Berdasarkan data tahun 2024, surplus beras hanya mencapai 53 ribu ton, turun drastis dibandingkan periode pertama Koster menjabat, yang saat itu mencapai lebih dari 100 ribu ton.

“Setiap tahun ribuan hektare lahan pertanian produktif hilang karena dieksploitasi untuk pembangunan fasilitas pariwisata dan infrastruktur lainnya,” jelasnya.

Koster mengingatkan bahwa jika lahan pertanian terus menyusut dan tidak dijaga, krisis pangan di Bali hanya tinggal menunggu waktu.

Ia memprediksi bahwa tanpa langkah konkret, ketahanan pangan di Pulau Dewata akan terancam dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Meski begitu, ia menyebut bahwa Bali masih dalam kondisi aman secara keseluruhan, dengan satu-satunya komoditas yang defisit adalah bawang putih.

“Bawang putih defisit karena petani enggan menanamnya. Harga bawang putih lokal lebih tinggi dibanding impor, jadi tidak kompetitif di pasaran,” kata Koster. (*)

Editor : Nyoman Suarna
#gubernur #bali #terancam #israel #koster #pertanian