BANGLI, BALI EXPRESS- Pengelolaan sampah berbasis sumber di Kabupaten Bangli, Bali, masih menghadapi tantangan.
Dari total 73 desa dan kelurahan yang ada di Bangli, baru 14 yang memiliki Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS3R). Bahkan, belum semua berjalan secara optimal.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bangli I Putu Ganda Wijaya mengakui bahwa upaya membangun dan mengelola TPS3R memang tidak mudah.
Pembangunan TPS3R membutuhkan anggaran besar yang mencapai ratusan juta rupiah. Belum lagi soal pengelolaannya yang butuh komitmen.
Menurut Ganda, selama ini Pemkab Bangli mengandalkan bantuan anggaran dari pemerintah pusat melalui Dinas Pekerjaan Umum untuk membangun TPS3R.
Namun, proses pengajuan tidak selalu mudah karena harus memenuhi sejumlah persyaratan.
“Persyaratan tidak mudah, lahan harus jelas, begitu juga dengan komitmen pengelolaanya,” ujar Ganda mencontohkan.
Meski demikian, pejabat asal Lingkungan Tegal, Kelurahan Bebalang, Bangli, ini menegaskan bahwa Pemkab Bangli tidak tinggal diam.
Tahun ini, pihaknya sudah mengusulkan pembangunan delapan TPS3R baru ke pemerintah pusat.
Selain itu, pemerintah juga gencar melakukan sosialisasi pengelolaan sampah berbasis sumber sesuai dengan amanat Pergub Bali Nomor 47 Tahun 2019.
Desa yang belum punya TPS3R tetap didorong untuk memilah dan mengelola sampahnya.
Sampah organik dan residu dibuang ke TPA, sedangkan sampah anorganik bisa dikelola agar bernilai ekonomis.
Sebagai langkah konkret, masyarakat juga diimbau untuk membuat teba modern di pekarangan rumah.
Teba modern merupakan lubang khusus untuk menimbun sampah organik agar bisa terurai menjadi pupuk.
Ini solusi sederhana dan ramah lingkungan yang bisa dilakukan oleh rumah tangga untuk mengurangi volume sampah yang dibuang ke TPA. (*)
Editor : I Made Mertawan