BALIEXPRESS.ID - Kondisi bangunan di Pantai Kuta kini mulai mengalami kerusakan. Hal ini terlihat dari bata merah dari candi bentar yang mulai terlepas. Bahkan ada juga dinding candi yang kusam dan berlumut.
Selain adanya kerusakan akibat temakan usia, sejumlah lampu sorot di bangunan Tsunami Shelter yang dilepas. Lampu di dinding bangunan tersebut ternyata tidak hilang hanya dipindahkan ke dalam gedung.
Bendesa Adat Kuta, Komang Alit Ardana pun membenarkan hal tersebut. Ia menyatakan, fasilitas umum yang ada di Pantai Kuta memang mulai termakan usia dan memerlukan pemeliharaan. Seperti bata tembok memang banyak yang terlepas, karena daya rekat bata kurang bagus.
“Itu masih menjadi tanggungjawab PUPR Badung, karena merupakan aset Pemkab Badung. Kita tidak bisa melakukan perawatan karena belum diserahkan ke kami di desa adat atau belum ada penunjukan," ujar Alit Ardana, Minggu (20/4).
Pihaknya pun menyebutkan, tembok penyengker yang pendek juga menjadi spot pengunjung untuk duduk. Hal ini pun sementara hanya ditegur dan diberikan edukasi oleh Satgas Pantai Kuta. “Takutnya nanti kami salah, walaupun niatnya baik,” ucapnya.
Disisi lain, Desa Adat Kuta sejatinya telah diberikan SK pengelolaan Pantai Kuta tahun 2021 yang diberikan oleh Pemkab Badung. Hanya saja hingga saat ini, Alit Ardana mengaku, pemeliharaan masih ditangani Pemkab Badung. Ia berharap pengelolaan ini segera dapat diberikan kepada desa adat.
“Kami di desa adat masih menunggu tindaklanjutnya. Semoga dengan adanya Bupati Badung yang baru ini bisa segera di clearkan, sebab kondisinya memang perlu perawatan,” harapnya.
Dikonfirmasi terpisah Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) Dinas PUPR Badung, Anak Agung Rama Putra menerangkan, bangunan yang ada masih dalam masa pemeliharaan dari pihak kontraktor yang mengerjakan sebelumnya. Apabila terjadi kerusakan, hal itu masih menjadi tanggungjawab pihak kontraktor. Bahkan ia menyebutkan, Pantai Seminyak, Legian, dan Kuta (Samigita) masih dalam pengawasan Dinas PUPR Badung. "Untuk di Kuta saat ini memang belum ada penganggaran perbaikan atau pemeliharaan, karena masih masuk dalam tanggungan pihak penyedia (kontraktor)," terang Gung Rama.
Sementara untuk kondisi lampu sorot dititipkan sementara di dalam gedung Shelter Tsunami Kuta. Total ada 8 unit kampu sorot yang dititipkan. Untuk lebih jelasnya itu di bidang Cipta Karya yang menangani. "Lampu dan besi pejangga lampu shelter tidak hilang, tetapi kemarin tukang listrik yang mencabut lampu dan lampu dititipkan sementara," pungkasnya. (*)
Editor : I Dewa Gede Rastana