Program ini menjadi bagian integral dari pengembangan sistem Bank Sampah Unit (BSU) yang tersebar di berbagai instansi dan komunitas.
Mulai dari organisasi perangkat daerah (OPD), desa, sekolah, hingga kampus dan lembaga masyarakat, seluruh elemen digerakkan untuk menabung sampah, khususnya plastik.
Sekretaris DLH Buleleng, Kadek Agus Hartika menjelaskan, nilai ekonomi dari program ini cukup signifikan.
“Total nilai sampah yang dikumpulkan mencapai hampir Rp25 juta. Sebagian besar dana tersebut digunakan untuk membeli buah-buahan, yang kami bagikan kembali kepada para penabung menjelang Hari Raya Galungan dan Kuningan,” ungkapnya saat menghadiri kegiatan Bazar Butik, Sabtu (20/4).
Menurutnya, Bazar Butik tidak hanya menjadi bentuk apresiasi kepada para pejuang lingkungan, namun juga sarana edukasi yang membumi.
Melalui kegiatan ini, masyarakat dapat melihat langsung bahwa sampah bukan hanya limbah, tapi juga bisa bernilai ekonomis.
“Ini bukan sekadar kampanye. Kami membuktikan langsung di lapangan bahwa sampah bisa menjadi sumber penghasilan tambahan dan menciptakan lingkungan yang lebih bersih,” tegas Agus Hartika.
Puncak kegiatan Bazar Butik tahun ini juga menghadirkan kolaborasi lintas sektor.
DLH Buleleng menggandeng Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Buleleng, Yayasan Angel Heart, dan komunitas Relawan Bali dalam aksi sosial membagikan 400 paket sembako kepada tenaga harian lepas kebersihan serta petugas angkut sampah di kawasan Kota Singaraja.
Menariknya, seluruh kegiatan ini tidak menggunakan anggaran pemerintah daerah.
“Semua pembiayaan berasal dari hasil tabungan sampah. Ini menunjukkan bahwa sampah bisa membiayai perubahan,” jelasnya.
Penghargaan khusus juga diberikan kepada pegawai dengan tabungan sampah terbanyak dari Bank Sampah “Bima Resik”. Inisiatif ini membangkitkan semangat kompetisi sehat dalam pengelolaan sampah di lingkungan kerja.
Semangat pengurangan sampah kini menjalar ke berbagai OPD lain di Kabupaten Buleleng.
Dinas Pekerjaan Umum memiliki unit Bank Sampah bernama “Ayam Plastik”, sementara Dinas Kominfosanti juga mengembangkan unit BSU dengan pendekatan serupa.
DLH Buleleng terus mendorong sinergi kolektif dalam pengelolaan sampah, tidak hanya sebagai bentuk tanggung jawab lingkungan, tetapi juga sebagai peluang untuk memperkuat ekonomi komunitas.
Mereka meyakini, pola ini bisa menjadi budaya baru di tengah masyarakat.
“Dengan semangat kolektif, kami ingin menjadikan pengelolaan sampah sebagai budaya baru yang berdampak luas, bukan hanya untuk lingkungan, tapi juga bagi kesejahteraan masyarakat,” tutup Agus Hartika. (dik)
Editor : I Putu Mardika