Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Mira, Pemandu dan “Penjaga” Setia dari Banyupoh

Dian Suryantini • Selasa, 29 April 2025 | 17:00 WIB

Mira Darmiasih saat ngayah di Pura Pulaki, Buleleng
Mira Darmiasih saat ngayah di Pura Pulaki, Buleleng

 

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Di usia 10 tahun, Mira Darmiasih sudah memiliki tanggung jawab yang tak biasa bagi anak-anak seumurannya. Sambil tersenyum malu-malu, siswi kelas 3 di SDN 2 Banyupoh ini bercerita tentang kegiatannya ngayah – menjadi sukarelawan, membantu di lingkungan Pura Pulaki sejak ia masih duduk di bangku TK.

Setiap kali ada pemedek atau pengunjung ke Pura Pulaki atau sekitarnya, Mira sigap mengambil peran. Tugasnya sederhana, tapi penting. Ia menjaga barang-barang milik pengunjung atau pemedek yang datang bersembahyang.

Dengan balutan pakaian adat Bali yang sederhana, Mira berdiri di sudut pura, memperhatikan tas, sandal, dan perlengkapan upacara yang dititipkan padanya. Tongkat kayu tak pernah jauh dari genggamannya. Tongkat itulah yang digunakan Mira untuk mengusir monyet-monyet yang ingin menjambret barang-barang milik pemedek. Maka di tangan Mira, barang-barang itu aman.

“Awalnya disuruh sama tante,” tutur Mira polos. “Terus saya coba, eh... keterusan sampai sekarang,” ujarnya malu-malu.

Baca Juga: Kisah Kesetiaan Kera yang Abadi dan Keunikan Pura Pulaki: Tempat Suci Hindu Bali dengan Kawanan Kera dan Ritual Wanara Laba

Kini, ngayah sudah menjadi bagian dari keseharian Mira. Ia tak merasa terbebani, justru menikmati kepercayaan yang diberikan kepadanya. Dari menjaga barang, ia belajar tanggung jawab, ketekunan, dan interaksi dengan banyak orang. Kadang-kadang, pengunjung yang terkesan dengan kebaikan hatinya memberinya sedikit tips sebagai bentuk terima kasih.

“Buat jajan,” katanya sambil tersenyum lebar, menceritakan kegembiraannya ketika menerima upah kecil itu. Namun bukan soal uang yang membuatnya bertahan, melainkan rasa bangga bisa membantu sesama, apalagi di tempat suci.

Mira tinggal di Desa Banyupoh, dekat dengan Pura Pulaki. Ibunya sehari-hari berjualan di area Pura Melanting, menjajakan aneka perlengkapan sembahyang dan kebutuhan umat. Dari kecil, Mira sudah terbiasa berada di lingkungan pura, menyerap nilai-nilai ngayah (pengabdian) tanpa pamrih yang ditanamkan oleh keluarganya.

“Kalau ada upacara besar, banyak teman-teman saya juga ngayah,” ujar Mira. Ia tidak sendirian. Banyak anak-anak Banyupoh, bahkan dari desa lain yang mengambil peran kecil di tengah kegiatan adat dan agama di sekitar Pura Pulaki.

Menjaga barang-barang mungkin terdengar sepele. Namun di tengah keramaian pura, dan banyaknya monyet yang ‘nakal’, kehadiran anak-anak seperti Mira menjadi sangat berarti. Tak jarang, pemedek merasa lebih tenang bersembahyang karena tahu ada yang menjaga barang-barang mereka dengan tulus.

Di sela-sela tugasnya, Mira tetap anak-anak biasa. Ia bercanda, berlari-lari kecil dengan teman seusianya, lalu kembali fokus saat ada titipan baru datang. Ia sudah hafal betul wajah para pemilik barang yang dititipkan, bahkan tak pernah keliru mengembalikannya.

Walaupun sibuk ngayah, Mira tak melupakan tugas utamanya sebagai pelajar. Setiap pagi, ia tetap berangkat sekolah seperti biasa. Belajar dan ngayah berjalan beriringan dalam hidupnya, membentuk karakter kuat yang jarang dimiliki anak seusianya. ***

Editor : Dian Suryantini
#malu-malu #pura melanting #Banyupoh #pemedek #pura pulaki #pengunjung