Kepala Desa Kukuh, I Nyoman Widhi Adnyana, membenarkan kondisi yang meresahkan ini.
"Mulai terlihat itu sebelum Galungan, dan sekarang semakin pekat, hal membuat aktivitas warga yang ada di sekitar TPA Mandung sedikit terganggu," ungkapnya dengan nada khawatir.
Posisi geografis Desa Kukuh yang lebih rendah dari TPA Mandung memperparah situasi.
Setiap pagi, desa ini diselimuti kabut asap misterius yang mengganggu pandangan dan aktivitas sehari-hari.
Lantas, apa sebenarnya yang menyebabkan kepulan asap putih ini?
Kepala UPTD TPA Mandung, I Wayan Atmaja, menjelaskan bahwa pihaknya telah berupaya keras untuk mengatasi situasi ini.
"Salah satu upaya yang kami lakukan adalah upaya mendinginkan dengan menyiram air ke sumber titik api. Kami melakukan pendinginan setiap tiga kali sehari, yakni pagi siang dan malam," terangnya.
Atmaja mengakui bahwa kemunculan titik api memang menjadi "langganan" TPA Mandung di musim kemarau.
Tingginya kandungan gas metan di bawah Gunungan sampah menjadi pemicu utama munculnya api baru.
Bahkan, diakui Atmaja, jumlah titik api saat ini sudah meningkat dibandingkan musim hujan sebelumnya.
Dampak paling terasa dari fenomena asap misterius ini adalah bagi warga di sekitar TPA, terutama di kawasan perumahan.
"Dampaknya ke desa-desa di sekitar dan perumahan. Dan tergantung juga arah anginnya. Kalau dari jam 11 siang hingga 4 sore arah anginnya ke utara. Sedangkan kalau pagi ke selatan atau ke timur," jelas Atmaja.
Pihak Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Tabanan telah menginstruksikan agar pendinginan terus dilakukan setiap hari di TPA seluas 2,7 hektar ini.