Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ketua DPRD Bangli Desak Langkah Pencegahan Bunuh Diri, Minta Pemerintah Bentuk Tim Khusus

I Made Mertawan • Rabu, 30 April 2025 | 16:00 WIB
Ketua DPRD Bangli I Ketut Suastika bicara soal pencegahan kasus bunuh diri.
Ketua DPRD Bangli I Ketut Suastika bicara soal pencegahan kasus bunuh diri.

BALIEXPRESS.ID- Sederet kasus bunuh diri di Kabupaten Bangli, Bali, belakangan ini tidak bisa dianggap sepele.

Pemkak Banlgli diminta hadir secara serius untuk menangani persoalan bunuh diri ini.

Hal tersebut disampaikan Ketua DPRD Bangli I Ketut Suastika menanggapi kasus bunuh diri di Bangli, Selasa (29/4/2025).

Suastika menegaskan pentingnya kehadiran aktif pemerintah karena angka kasus bunuh diri tergolong tinggi.

Pada April ini saja, tercatat sudah terjadi tiga kasus ulah pati (bunuh diri) dengan cara gantung diri, seluruhnya terjadi di wilayah Kecamatan Kintamani.

Ironisnya, salah satu korban merupakan siswa sekolah dasar. “Kasus bunuh diri ini tidak memandang usia, dari anak-anak hingga orang tua,” ujar Suastika.

Oleh karena itu, menurut Suastika, perlu ada revolusi mental di masyarakat agar tidak mudah mengambil jalan pintas.

Selain mengungkap penyebab bunuh diri, perlu dilakukan upaya pencegahan secara komprehensif. Pencegahan  harus menjangkau semua lapisan masyarakat.

“Pemerintah daerah bisa membentuk tim khusus,” saran Suastika.

Tim ini, lanjut Suastika, dapat bergerak di tengah masyarakat untuk memberikan edukasi agar tidak menjadikan bunuh diri sebagai solusi atas persoalan hidup.

Tim bisa melibatkan sekolah untuk menyasar anak-anak, komunitas remaja, dan Majelis Desa Adat (MDA) untuk menjangkau tingkat adat.

Pelibatan Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) juga dinilai penting karena dalam ajaran agama Hindu, bunuh diri sangat tidak dibenarkan.

Pendekatan keagamaan ini bisa menjadi salah satu cara pencegahan. Di samping itu, kepedulian lingkungan sekitar juga dibutuhkan ketika ada orang-orang terdekat yang menunjukkan gejala ke arah bunuh diri.

“Intinya semua stakeholder harus bergerak. Saya melihat, intensitas perhatian pemerintah daerah terhadap isu ini perlu ditingkatkan,” tegas politikus PDIP asal Desa Peninjoan, Kecamatan Tembuku ini.

Berdasarkan data Polres Bangli, jumlah kasus bunuh diri pada tahun 2024 mencapai 20 kasus.

Angka ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang berjumlah 12 kasus.

Sementara itu, pada Januari 2025 lalu, sempat geger kasus bunuh diri seorang perempuan di Kecamatan Kintamani yang diduga karena cemburu melihat suaminya ngibing dengan penari joged. (*)

 

Editor : I Made Mertawan
#Ketut Suastika #bali #bangli #bunuh diri