Acara ini menghadirkan sejumlah stake holder, seperti Kepala Disdikpora Buleleng, Putu Ariadi Pribadi, akademisi Undiksha yang getol meneliti Disleksia, I Ketut Trika Adi Ana, M.Pd, hingga Kordinator Wilayah (Korwil) guru di Buleleng.
Ketua Dewan Pendidikan Buleleng, Dr. Made Sedana, M.Pd menjelaskan polemik ratusan siswa SMP di Buleleng yang belum bisa membaca menjadi tanggung jawab bersama dalam menuntaskannya.
Menurut Sedana, harus ada langkah strategis dan teknis untuk mengatasi persoalan ini. Sebab, tidak serta merta hanya memberikan beban tanggung jawab ini sepenuhnya kepada pihak sekolah maupun guru.
“Dalam FGD ini diharapkan ada sejumlah rekomendasi yang bisa disampaikan kepada Bupati Buleleng dalam penanganan persoalan ini,” kata Sedana.
Sementara itu, Akademisi Ketut Trika Adi Ana menegaskan dari ratusan siswa SMP yang mengalami keterlambatan membaca tidak semuanya mengalami disleksia. Meskipun, orang yang mengalami disleksia memang ditandai dengan gejala kesulitan membaca secara lancar.
Dalam paparannya, Disleksia merupakan gangguan neurologis spesifik yang berdampak pada kemampuan membaca, mengeja, dan mendekode kata. “Kesulitan ini tidak berhubungan dengan tingkat kecerdasan,” kata Trika.
Asosiasi Disleksia Inggris bahkan menegaskan bahwa disleksia adalah perbedaan cara otak memproses informasi. “Banyak individu disleksia justru memiliki keunggulan dalam kreativitas dan intuisi,” ujar Trika.
Ia menyebut, Disleksia tidak selalu terlihat sejak dini. Namun anak dengan kondisi ini menunjukkan karakteristik tertentu, seperti kesulitan membaca lancar, mengeja, memahami instruksi tertulis, dan cenderung menghindari aktivitas literasi.
Trika mengatakan, anak disleksia sering terlambat bicara dan kesulitan memproses instruksi verbal. Kendati begitu, mereka juga sering menunjukkan kelebihan dalam kreativitas dan pemecahan masalah.
Trika menyoroti bahwa penyebab disleksia sangat kompleks, mulai dari faktor genetik, gangguan sistem visual magnoseluler, hipotesis defisit cerebellar, hingga kondisi medis seperti glue ear pada masa kanak-kanak.
Dalam konteks kebijakan sekolah, Trika merekomendasikan modifikasi kurikulum dan akomodasi pembelajaran, seperti ujian lisan, waktu tambahan, dan materi personalisasi. Ini bertujuan agar anak disleksia dapat menunjukkan potensinya secara optimal.
Dukungan lingkungan belajar yang inklusif akan sangat menentukan keberhasilan intervensi. “Anak disleksia bukan anak bodoh, mereka hanya belajar dengan cara yang berbeda,” tegas Trika.
Sebagai penutup, Trika menyampaikan bahwa kelompok riset Pendidikan Inklusif di Undiksha berkomitmen mengembangkan instrumen asesmen, model intervensi, dan pelatihan guru untuk penanganan anak disleksia di Indonesia.
“Semakin cepat kita mengenali gejala dan memberikan intervensi, semakin besar peluang anak disleksia berkembang sesuai potensi terbaiknya,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Disdikpora Buleleng, Putu Ariadi Pribadi mengapresiasi keterlibatan semua pihak untuk turut serta mengatasi ratusan siswa SMP yang belum bisa membaca.
Pihaknya siap untuk berkolaborasi dalam penanganan, termasuk menyiapkan Langkah teknis dalam penanganan persoalan ini. “Kami segera turun melakukan penanganan untuk menuntaskan persoalan ini. Termasuk melibatkan perguruan tinggi di Buleleng agar penanganan bisa secepatnya dilakukan,” pungkasnya.(dik)
Editor : I Putu Mardika