BALIEXPRESS.ID-Media sosial kembali diramaikan dengan beredarnya video perkelahian yang terjadi di Lapangan Renon, Denpasar, melibatkan sejumlah oknum yang diduga merupakan warga pendatang.
Insiden ini terjadi pada Minggu sore, 4 Mei 2025, dan menimbulkan kepanikan di tengah pengunjung yang sedang menikmati waktu santai di kawasan publik tersebut.
Baca Juga: Dipimpin Gus Miftah, Acara Prambanan Bersholawat Picu Pro-Kontra, Begini Klarifikasi Penyelenggara
Video keributan itu pertama kali dibagikan oleh akun @Paskarya Magi Awang dan dipublikasikan ulang oleh akun @jurnalisrakyat.
Dalam rekaman tersebut, tampak sekelompok orang terlibat dalam aksi saling pukul dan pengeroyokan menggunakan tangan kosong.
Bentrokan itu berlangsung di tengah lapangan dan sempat menjadi tontonan banyak orang sebelum akhirnya beberapa pengunjung memilih berlari menjauh karena takut.
Belum ada keterangan resmi mengenai penyebab terjadinya bentrokan tersebut.
Identitas para pelaku dan kronologi lengkap kejadian juga masih belum diungkap pihak berwenang hingga berita ini diturunkan.
Namun, video yang viral tersebut menuai banyak kecaman dari warganet, terutama masyarakat Bali yang merasa resah dengan maraknya kejadian serupa yang diduga melibatkan pendatang.
Baca Juga: Pasek Suardika Dukung Gubernur Koster Tolak Ormas GRIB di Bali; Kita Tunggu Langkah Nyata
“Makane males sank e Renon jani, kene gen isine, Desa Adat Yangbatu punapi niki?” tulis akun @mdshiderta.
“Lagi-lagi ribut sesama pendatang, oh Bali ku kini,” ujar akun @suarba64.
“Ini alasan sya dan anak-anak saya males ke Lap Renon,” kata akun @dek_srik04.
Akun @emp3l juga menambahkan, “Waktu minggu lalu sempat ke Renon, kita sampe heran, saje gengs isinya mereka semua sampe bengong kita nyari-nyari spot buat duduk, dimana-mana ada mereka.”
Keributan ini semakin menambah daftar kejadian serupa yang belakangan kerap terjadi di ruang-ruang publik Bali.
Baca Juga: Gubernur Koster Hadiri Upacara Melaspas di Pura Santa Citta Bhuwana Belanda
Warga lokal pun menyerukan pentingnya ketegasan aparat dan peran aktif desa adat dalam menjaga ketertiban dan kenyamanan ruang publik, terutama yang menjadi ikon wisata dan rekreasi keluarga.
Pihak kepolisian maupun aparat desa setempat hingga kini belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait langkah penanganan kasus tersebut.
Editor : Wiwin Meliana