SINGARAJA, BALI EXPRESS - Di balik meja dosen STAHN Mpu Kuturan, ada sosok pria bersahaja yang gerak-geriknya masih menyerupai jurnalis. Penuh rasa ingin tahu, tak gampang percaya, dan selalu haus data. Namanya I Putu Mardika. Dahulu ia dikenal sebagai wartawan yang aktif menulis, kini ia menjelma menjadi akademisi yang tak hanya bicara teori, tapi juga lihai menyigi persoalan pendidikan dari akar rumput.
Mardika bukan tipe akademisi menara gading yang nyaman duduk di ruang ber-AC sambil membahas kurikulum. Ia adalah pejalan kaki yang tak segan turun ke lapangan, menyambangi sekolah-sekolah, berdiskusi dengan guru, hingga mengumpulkan data yang kadang bikin miris. Salah satunya, temuan tentang masih adanya siswa SMP yang belum bisa membaca dengan lancar. Temuan itu bukan hanya bikin geleng-geleng kepala, tapi juga menjadi alarm keras bagi dunia pendidikan Bali.
Tentu Mardika tak sendiri. Bersama tim Dewan Pendidikan, dan didukung koordinator yang tak kalah mumpuni, I Made Sedana, mereka membedah persoalan pendidikan bukan hanya dari angka statistik, tapi dari cerita-cerita nyata yang sering kali luput dari sorotan. Inilah seni jurnalisme yang dibawanya masuk ke dunia pendidikan, menyajikan data dengan rasa, menyentuh nalar sekaligus nurani.
Baca Juga: Ni Wayan Eka Pranita Dewi : Melodi Puisi dari Denpasar ke Dunia
Menariknya, meski kini lebih banyak bergelut di dunia akademik dan organisasi, Mardika belum sepenuhnya menanggalkan topi kejurnalistikannya. Ia masih rajin menulis, tapi dengan bumbu yang kini lebih beragam, pengalaman mengajar, kisah mahasiswa, riset lapangan, hingga lika-liku kebijakan pendidikan. Tulisan-tulisannya pun semakin matang—seperti kopi yang diracik pelan-pelan, dengan rasa yang dalam.
Di rumah, Mardika adalah ayah dari dua anak. Mungkin ini pula yang membuatnya makin peka terhadap isu pendidikan. Sebab di balik gelar akademik dan profesi, ada hati seorang ayah yang ingin anak-anak tumbuh di ekosistem belajar yang sehat dan manusiawi.
“Ini fenomena ya. Kalau kelas 1 tidak bisa membaca masih bisa dimaklumi. Mungkin saja tidak dapat masuk TK. Kelas 3 mestinya harus sudah lancar,” kata dia.
I Putu Mardika adalah potret seorang jurnalis tak pernah benar-benar pensiun. Ia hanya berganti medan, dari ruang redaksi ke ruang kelas. Tapi semangatnya tetap sama, mencari kebenaran, menyuarakan suara-suara kecil, dan menjaga akal sehat tetap hidup dalam dunia yang kian gaduh. ***
Editor : Dian Suryantini