SINGARAJA, BALI EXPRESS - Suasana di Subak Beji, Desa Sangsit, Kecamatan Sawan, Selasa (6/5), tak seperti biasanya. Di tengah terik matahari yang menyengat pukul 12.10 WITA, puluhan petani tak sendirian memanen padi.
Sosok gagah berseragam loreng turut berdiri di barisan depan. Dialah Brigjen TNI Ida I Dewa Agung Hadisaputra, Danrem 163/Wira Satya. Dalam balutan semangat nasionalisme dan kecintaan terhadap tanah air, jenderal bintang satu ini tak ragu turun ke sawah memegang sabit, dan memanen bulir padi bersama rakyat.
Bukan sekadar simbolik. Hadirnya Hadisaputra dalam panen raya padi varietas Ciherang ini memberi pesan kuat. Ketahanan pangan adalah bagian tak terpisahkan dari ketahanan nasional.
“Sawah adalah medan juang. Petani adalah pahlawan. TNI hadir sebagai pengawal mereka,” ucap Hadisaputra di hadapan sekitar 100 peserta yang hadir, termasuk Forkopimda Buleleng, para petani, serta masyarakat sekitar.
Baca Juga: TMMD ke-124 Fokus pada Infrastruktur dan Perlindungan Mangga Lokal Depeha
Panen raya ini memang jadi bukti sinergi lintas sektor. Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra dan Wakil Bupati Gede Supriatna turut serta dalam kegiatan yang memanen padi dari 1 hektar lahan ini, bagian dari total 4,5 hektar sawah di Subak Beji yang ditanami varietas unggul Ciherang.
Hasil panen mencapai 5,2 ton per hektar, dan disebut masih bisa ditingkatkan dengan perbaikan teknik tanam. Namun kehadiran TNI, khususnya Danrem, jadi sorotan utama. Militer kini tak hanya mengangkat senjata, tapi juga mengangkat cangkul dan menjaga lumbung pangan bangsa.
“Kami di TNI punya tanggung jawab moril dan strategis. Kalau rakyat lapar, negara bisa runtuh. Maka sawah-sawah ini harus dijaga, jangan sampai berubah jadi beton atau aspal,” lanjutnya.
Bupati Sutjidra menegaskan bahwa pertanian adalah prioritas utama dalam pembangunan Kabupaten Buleleng. Ia pun menyambut baik langkah TNI yang turut mendukung sektor ini.
“Kami sudah instruksikan Dinas Pertanian turun langsung, temui petani, dampingi mereka. Tapi dengan TNI hadir, seperti mendapat perisai tambahan,” ujar Sutjidra.
Dalam waktu dekat, Pemkab Buleleng juga akan mencoba menanam bibit padi baru, yaitu varietas Semeton Bali, setelah masa panen ini usai. Selama 90 hari, prosesnya akan dipantau ketat. Diharapkan langkah ini menjadi akselerator bagi terwujudnya ketahanan pangan lokal yang kuat dan berkelanjutan. ***
Editor : Dian Suryantini