Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ical dan Nomaden Coffee, Cerita dari Sebuah Campervan yang Menjelajah Desa-Desa Nusantara

Dian Suryantini • Rabu, 7 Mei 2025 | 21:26 WIB

Ical saat sedang menyeduh kopi di kedai kecilnya bersama Espresso.
Ical saat sedang menyeduh kopi di kedai kecilnya bersama Espresso.

 

SINGARAJA, BALI EXPRESS - Di tengah geliat gaya hidup modern yang serba cepat, ada sosok yang justru memilih jalur berseberangan. Namanya Ical, seorang pemuda asal Sumatera yang kini akrab dikenal lewat gerai kopinya yang tak biasa: Nomaden Coffee, sebuah kedai berjalan yang hadir dari balik bagasi campervan tua dengan nama Twntytoo Coffee.

Campervan itu bukan kendaraan biasa. Mobil jenis Suzuki Zebra keluaran lama yang sudah disulap menjadi rumah berjalan. Sejak 2024, kendaraan tersebut menjadi tempat tinggal sekaligus wujud nyata mimpi Ical. Berkeliling Indonesia sambil menyeduh kopi, bukan di kafe kota besar, tetapi di pelosok desa yang tenang dan bersahaja.

Keputusannya meninggalkan pekerjaan lama dan berkelana dimulai sejak 2018. Kala itu, Ical hanya mengandalkan sepeda motor dan sebuah box khusus untuk membawa perlengkapan seduh kopinya.

Dari satu tempat ke tempat lain ia menjajakan kopi sambil menikmati hidup yang lebih bebas. Tahun demi tahun berlalu, dan keberuntungan pun menghampirinya. Ia berhasil mewujudkan mimpi memiliki sebuah campervan, yang kini menjadi rumah kecilnya di jalan.

Namun, perjalanan Ical bukan sekadar petualangan. Ia membawa semangat berbagi dan membangun koneksi antarmanusia.

Di setiap desa yang ia singgahi, Ical membuka bagasi campervan-nya, menurunkan kursi-kursi kecil, gelas, dan meja lipat, lalu menghadirkan pengalaman minum kopi yang sederhana namun penuh kehangatan.

Tidak jarang, obrolan hangat dan tawa akrab terjadi di bawah atap tenda seadanya. Atau di sebuah trotoar jalan yang damai.

“Saya tidak begitu suka kalau ke kota. Saya Sukanya ke desa-desa. Ke pelosok. Tenang, adem,” kata dia.

Baca Juga: Menu Simpel, Dipanggil Kakiang dan Niang Bila Ngopi di Kedai Kakiang

Kini ia tengah menjelajahi Bali bagian utara. Setelah menapaki jalan-jalan sunyi di Jembrana, petualangannya berlanjut ke Buleleng. Di sini, Ical bertemu komunitas-komunitas kreatif dan memperluas lingkaran pertemanannya. Sosoknya yang bersahaja, lengkap dengan campervan klasik dan senyum hangat, membuatnya mudah diterima dimanapun ia berhenti.

Menemani Ical dalam setiap perjalanan adalah seekor kucing oranye bernama Espresso, pemberian seorang teman. Selama enam bulan terakhir, Espresso menjadi sahabat setia—menyaksikan matahari terbit dari balik gunung, menemani malam-malam sunyi di pinggir hutan, hingga duduk santai di antara para penikmat kopi.

Meski sudah menjelajahi banyak tempat, Ical masih menyimpan satu destinasi dalam hatinya, desa Waerebo, kampung adat yang terkenal di Nusa Tenggara Timur. Hingga kini, ia belum berhasil mencapai sana, namun bukan berarti ia berhenti bermimpi. 

Bagi Ical, hidup bukan soal mencapai tujuan, melainkan soal menikmati perjalanan. Ia tidak pernah memimpikan satu tempat tetap, sebab hatinya telah terpaut pada kebebasan untuk terus bergerak—menyusuri jalanan panjang, meneduh di desa-desa yang bersahaja, dan menyeduh kopi di bawah langit Indonesia yang luas. Bahkan, tidak hanya di Indonesia, roda nomaden itu membawanya sampai ke Thailand dan Malaysia.

“Dari dulu saya memang ingin berkeliling. Sekarang tercapai. Dan sekarang karena sudah tercapai, saya bingung, mau ngapain lagi ya,” ujarnya sambil tertawa.

Keberadaan Ical dan kedai kopinya itu memang tidak dapat ditemukan di Google Maps.  Cukup ikuti aroma kopi dan suara tawa dari sudut desa—di sanalah Nomaden Coffee menanti.  ***

Editor : Dian Suryantini
#kota #bali #kopi #suzuki #Utara #kucing #zebra #espresso #sepeda motor #indonesia #kafe #campervan #jembrana #buleleng