Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Peringati Waisak, Umat di Vihara Buddha Dharma Gelar Pemandian Tiga Buddha Rupang: Begini Maknanya

Putu Resa Kertawedangga • Selasa, 13 Mei 2025 | 02:19 WIB

Prosesi pemandian Patung Buddha Rupang di Vihara Buddha Dharma, Jalan Sunset Road, Kecamatan Kuta, memperingati Hari Raya Waisak Senin (12/5).
Prosesi pemandian Patung Buddha Rupang di Vihara Buddha Dharma, Jalan Sunset Road, Kecamatan Kuta, memperingati Hari Raya Waisak Senin (12/5).

BALIEXPRESS.ID - Hari Raya Waisak dirayakan penuh khidmat dan sukacita di Vihara Buddha Dharma, Jalan Sunset Road, Kecamatan Kuta, Senin (12/5).

Dalam memperingati hari suci tersebut diawali dengan kebaktian pagi dan pembacaan doa, dilanjutkan dengan pemandian Buddha Rupang dengan air bunga.

Prosesi ini pun diikuti sejumlah umat Buddha dengan secara bergantian menyiramkan air bunga ke tiga Buddha Rupang.

Baca Juga: Pemerintah Percepat Legalitas Tambang MBLB, Pajak Aman, Izin Jalan

Bhikuni Bhadravajira mengatakan, makna dari pemandian Buddha Rupang adalah ajakan untuk membersihkan pikiran dari tiga racun utama yakni loba (keserakahan), dosa (kebencian), dan moha (kebodohan).

Hal ini juga bermakna agar umat Buddha senantiasa berbuat baik dan melakukan kebajikan, karena melalui kebajikan itulah kebodohan dalam diri dapat dihapus.

“Sebagai siswa Buddha yang perlu kita lakukan harus menghapus semua kekotoran batin kita. Terutama batin kita yang berkaitan dengan keserakahan, kebencian, kebodohan sehingga kita sebagai manusia tidak terikat oleh hal-hal tersebut,” ucapnya.

Baca Juga: Gerak-Geriknya Mencurigakan, Kapal China Ditangkap di Perairan Bali: Diduga Ada Indikasi Penyelundupan Manusia

Selain pemandian rupang, momen Waisak di vihara ini juga ditandai dengan penyalaan 1.000 lilin oleh umat.

Lilin-lilin yang menyala membawa makna penerangan batin, harapan, serta semangat kebajikan yang menerangi tidak hanya diri sendiri, tetapi juga seluruh makhluk.

“Untuk 1.000 lilin yang dinyalakan itu maknanya sebagai penerangan menerangi diri sendiri dan semua makhluk. Ketika kita membuat sebuah kebajikan maka itu bisa dirasakan oleh semua makhluk,” ungkapmya.

Baca Juga: Tari Nyenuk, Warisan Leluhur yang Bangkit Setiap Tujuh Dekade

Pihaknya menyebutkan, tema Waisak tahun ini yang diusung, yakni Sangha Agung Indonesia adalah Semangat Kebersamaan untuk Indonesia Maju.

Tema ini menegaskan pentingnya toleransi antarumat beragama dan antar suku bangsa di Indonesia.

“Terciptanya Indonesia maju, bukan hanya dari segi pembangunan saja, tetapi itu dari setiap individu. Kalau setiap individu melakukan kebajikan dengan berbuat baik maka negara Indonesia yang kita cintai ini lebih maju,” terangnya.

Bhikuni Bhadravajira pun menjelaskan, jika perayaan Waisak di Vihara Buddha Dharma sudah dimulai sejak 11 Mei 2025 dengan rangkaian puja bakti dan pradaksina yakni ritual berjalan mengelilingi vihara sebanyak tiga kali.

Hal ini sebagai bentuk penghormatan kepada Triratna, yaitu Buddha, Dhamma, dan Sangha. Kemudian keesokan harinya umat kembali berkumpul untuk pembacaan parita (kitab suci) serta kegiatan pindapata, yakni tradisi turun-temurun para bhikku yang berjalan mengumpulkan dana makanan dari umat.

“Umat tentu sangat antusias menyambut Hari Raya Tri Suci Waisak. Karena kita ketahui ini adalah tiga peristiwa perjalanan kehidupan Buddha. Karena kita tahu Beliau adalah putra mahkota dan seorang pangeran bisa meninggalkan kehidupan duniawi untuk mencapai pencerahan. Bukan hanya untuk diri Beliau sendiri tetapi untuk kepentingan semua makhluk,” jelasnya. (*)

Editor : Putu Resa Kertawedangga
#sunset road #vihara #buddha #waisak #kuta