BALIEXPRESS.ID – Pemerintah Provinsi Bali melalui Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) mengakomodasi keberpihakan terhadap pelestarian seni dan budaya lokal dalam pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun 2025.
Salah satu bentuknya adalah pemberian nilai tambahan atau pembobotan bagi siswa yang terlibat dalam perhelatan Pesta Kesenian Bali (PKB).
“Mereka bisa nanti ada pembobotan. Misalnya tampil di PKB apakah mereka juara atau sekedar jadi panitia atau cuma ikut di pawai saja. Ada pembobotan nanti. Yang jelas ini menjadi perhatian bagi kita karena ini kan dalam rangka keberpihakan kita pada seni budaya Bali,” kata Kepala Disdikpora Bali, KN Boy Jayawibawa, saat ditemui di Kantor DPRD Bali, Rabu (14/5).
Boy menjelaskan bahwa siswa yang mengikuti kegiatan seni dan budaya, khususnya dalam event resmi seperti PKB, wajib melampirkan sertifikat sebagai bukti.
Penilaian akan dilakukan melalui sistem pembobotan yang sudah disiapkan dalam aplikasi resmi Disdikpora.
“Sertifikatnya yang dilampirkan kemudian nanti dia ada pembobotan itu,” jelasnya.
Baca Juga: Ketua DPRD Klungkung Apresiasi Kegiatan Seni Budaya dan Festival UMKM ST Kertha Mandala Kemoning
“Itu aplikasi yang membobot sudah ada nanti. Kita akan transparankan bahwa inilah sistem pembobotannya sehingga seorang siswa bisa dia, bukan kami yang menilai tapi pembobotan itu,” lanjut Boy.
Sementara itu, SPMB merupakan sistem baru yang menggantikan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB), dengan sejumlah jalur penerimaan yakni domisili, afirmasi, prestasi, dan mutasi.
Boy menegaskan bahwa jalur domisili bukan didasarkan pada surat keterangan domisili, melainkan pada kartu keluarga (KK), serta mempertimbangkan nilai rapor.
Baca Juga: Aksi Nekat! Maling Bobol Plafon Toko Perhiasan di Seminyak, Kerugian Capai Ratusan Juta
“Iya, memang kalau sistem penerimaan murid baru sekarang kan pengganti daripada PPDB. Jadi jalurnya adalah jalur domisili, kemudian jalur afirmasi, jalur prestasi dan juga jalur mutasi. Tetapi jangan salah duga bahwa jalur domisili itu bukan berarti surat keterangan domisili, itu justru tidak kami terima. Harus memakai kartu KK,” tegasnya.
“Jadi, sekarang domisili itu lebih mengedepankan nilai raport. Tidak berarti orang yang anak siswa yang dekat dengan sekolah otomatis diterima kalau itu sistem zonasi yang dulu PPDB. Sekarang dengan sistem domisili, raport yang berperan. Itu nilainya supaya anak-anak bagaimana mereka berprestasi di jenjang SMP. Supaya mereka terpacu juga bisa diterima di sekolah SMA maupun SMP,” tambah Boy.
Adapun pembagian kuota penerimaan murid dalam SPMB adalah 30% untuk jalur domisili, 30% afirmasi, 35% prestasi, dan 5% untuk mutasi perpindahan orang tua.
Baca Juga: PINTU Raih Penghargaan Kepatuhan Hukum di Indonesia Regulatory Compliance Awards 2025
“Nah, sesuai dengan juknis dari Kemendikdasmen,” ujarnya singkat.
Selain jalur kesenian, SPMB tahun ini juga membuka perhatian khusus untuk anak guru.
Boy menyebut tidak ada kuota khusus, tetapi siswa dari kalangan guru dapat difasilitasi agar tidak mengganggu konsentrasi orang tua dalam mengajar.
Baca Juga: Di Tengah Isu Ijazah Palsu, Jokowi Unggah Video Kunjungi Dosen Pembimbing UGM
“Anak guru karena ini menjadi perhatian dari Bapak Menteri bahwa supaya seorang guru tidak sampai terpengaruh dalam mengajar karena anaknya belum dapat sekolah. Jadi ini menjadi perhatian Bapak Menteri supaya seorang anak guru juga difasilitasi dan diterima di sekolah tersebut,” katanya.
“Itu enggak pakai kuota karena kita kan melihat keberpihakan. Yang jelas seorang guru harus melampirkan bahwa anaknya memang butuh sekolah ya kita rekomendasi,” tambahnya.
Namun, kebijakan ini hanya berlaku jika sang guru mengajar di sekolah yang dituju anaknya. “Bisa diterima di sekolah itu,” tegasnya.
Baca Juga: Viral! Kisah Siswi SMP Korban Kekerasan di Denpasar, Nang Etonk Galang Donasi Hingga Rp20 Juta
Di sisi lain, jalur kepemimpinan juga turut diperhitungkan dalam pembobotan, khususnya bagi siswa yang pernah menjabat sebagai ketua OSIS atau ketua pramuka.
“Kalau kepemimpinan ini misalnya untuk memotivasi seorang siswa dia aktif di kepemimpinan misalnya di jalur pramuka atau ketua OSIS. Sehingga anak-anak termotivasi untuk menjadi seorang pemimpin. Ini yang menjadi penekanan juga,” ujarnya.
“(Yang berlaku) Ketua OSIS. Ketuanya saja dan juga ketua pramuka,” tandasnya.(***)
Editor : Rika Riyanti