Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

GEMPAR TABANAN! Siswa Lulus SMA Tak Bisa Baca? Ketua DPRD Bongkar Fakta Pahit Dunia Pendidikan di Bali!

IGA Kusuma Yoni • Kamis, 15 Mei 2025 | 03:49 WIB

Ketua DPRD Tabanan, I Nyoman Arnawa
Ketua DPRD Tabanan, I Nyoman Arnawa

BALIEXPRESS.ID – Sebuah temuan mencengangkan mengguncang dunia pendidikan di Kabupaten Tabanan, Bali! Ketua DPRD Tabanan, I Nyoman Arnawa, saat melakukan inspeksi mendadak menemukan fakta memilukan: masih banyak siswa yang buta huruf, bahkan hingga lulus Sekolah Menengah Atas (SMA)!

Temuan mengkhawatirkan ini sontak menjadi bola panas dalam rapat kerja dengan pihak eksekutif, Rabu (14/5), di kantor DPRD Tabanan.

Arnawa dengan nada prihatin mengungkapkan, "Ini saya temukan langsung di lapang, tepatnya di SD 3 Mangesta, ada sekitar dua siswa yang belum cakap membaca. Salah satu siswa itu bahkan tahun ini lulus SMA, tapi saat saya tanya, ternyata masih belum bisa membaca dengan baik!"

Baca Juga: Mobil Penjual Rambak Tiba-tiba Ludes Terbakar Dekat Balai Desa: Korsleting atau Misteri Lain?

"Aib" Pendidikan Tabanan: Dinas Diminta Bertindak Cepat!

Arnawa mendesak Dinas Pendidikan Tabanan untuk segera mencari solusi tuntas atas permasalahan serius ini.

Menurutnya, ketidakmampuan siswa membaca hingga lulus Sekolah Dasar (SD) adalah alarm bahaya bagi kualitas tenaga pendidik di Kabupaten Tabanan.

Tak hanya itu, Arnawa juga mempertanyakan efektivitas metode pengajaran guru sebagai salah satu akar masalah.

"Ini kan sudah menjadi urusan dinas. Perlu ditelusuri, apakah masalahnya ada di metode mengajar guru atau ada faktor lain," tandasnya.

Pengakuan Mengejutkan Kadisdik: Fenomena Nasional, ABK Jadi Sorotan!

Menanggapi kritik pedas tersebut, Kepala Dinas Pendidikan Tabanan, I Gusti Putu Ngurah Darma Utama, tak menampik adanya siswa yang belum cakap membaca.

Baca Juga: MIRIS! 13 Jiwa Berdesakan di Kontrakan Sempit, Gubernur Dedi Mulyadi Sentil Program KB: Banyak Anak, Banyak...?

Bahkan, ia menyebut kondisi ini mirisnya terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia.

Darma Utama membuka data: saat ini terdapat sekitar 23 siswa jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Tabanan yang masih bergelut dengan huruf.

Mereka kini tengah menjalani penanganan intensif.

"Masalah ini juga dipengaruhi oleh keberadaan anak berkebutuhan khusus (ABK) yang mengikuti sekolah reguler melalui program inklusi. Jadi pasti ada beberapa siswa yang belum cakap membaca karena keterbatasan tersebut," jelasnya.

Calistung "Diharamkan" di TK? Faktor Ekonomi Ikut Bicara!

Selain faktor keterbatasan mental, Darma Utama juga mengungkapkan alasan lain di balik fenomena ini. Sesuai aturan, pelajaran membaca, menulis, dan berhitung (calistung) baru diberikan di jenjang Sekolah Dasar (SD).

Akibatnya, sebagian siswa yang masuk SMP terlanjur masuk dalam kategori belum cakap membaca.

Baca Juga: Kisah Pelaku Pembunhan Sadis 12 Tahun Lalu yang Ditangkap Gara-gara Jual Tanah untuk Beli Rumah di Tempat Persembunyian

"Selain itu, ada juga faktor ekonomi keluarga. Dari total 23 siswa tersebut, tiga orang berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi," imbuhnya.

Dinas Tak Tinggal Diam: Tim Khusus Dibentuk!

Dharma Utama menegaskan, pihaknya telah melakukan berbagai upaya serius untuk mengatasi masalah pelik ini.

Pembentukan Unit Layanan Disabilitas di dinas pendidikan untuk menangani siswa berkebutuhan khusus, serta tim penguatan literasi dan numerasi di tingkat sekolah dan kabupaten menjadi bukti nyata tindakan yang diambil.

"Tim ini bertugas mendampingi anak-anak yang belum cakap membaca, menangani kekerasan terhadap anak, dan mengatasi keterlambatan belajar," pungkasnya.

Lantas, mampukah langkah-langkah ini menyelamatkan masa depan pendidikan di Tabanan?

Temuan Ketua DPRD ini menjadi peringatan keras bahwa PR besar masih menanti untuk mewujudkan pendidikan yang berkualitas dan merata bagi seluruh anak bangsa. ***

 

Editor : I Putu Suyatra
#bali #DPRD Tabanan #I Nyoman Arnawa #kabupaten tabanan #sma #tak bisa baca