Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Dari Kapal Pesiar ke Bank Sampah: Ini Rekam Jejak Eka Darmawan Aktivis Lingkungan asal Buleleng

I Putu Mardika • Jumat, 16 Mei 2025 | 02:05 WIB

Sosok Aktivis lingkungan, Putu Eka Darmawan
Sosok Aktivis lingkungan, Putu Eka Darmawan
BALIEXPRESS.ID Di tengah tantangan pengelolaan sampah yang kian kompleks di Bali, nama Putu Eka Darmawan mencuat sebagai tokoh muda inspiratif yang sukses mengubah tumpukan sampah menjadi sumber daya ekonomi berkelanjutan.

Uniknya, Pada tahun 2016, Putu Eka Darmawan memilih untuk mengakhiri kariernya sebagai bartender di kapal pesiar milik Amerika Serikat.

Ia kemudian kembali ke tanah kelahirannya di Buleleng, Bali, dan memutuskan untuk terjun langsung dalam aktivitas pengelolaan sampah plastik—sebuah langkah yang ia gambarkan layaknya menjadi “pemulung”.

Kini, Eka telah berhasil mengembangkan beragam produk hasil daur ulang plastik, mulai dari furnitur dan material bangunan hingga elemen interior, campuran aspal, serta item fesyen yang bernilai ekonomi.

Rekam jejak Eka pun menarik ditelisik. Lahir di Buleleng pada 11 Desember 1989, Eka telah merintis berbagai inisiatif berbasis masyarakat yang memperkuat kesadaran lingkungan sekaligus memberdayakan desa-desa di Bali.

Berbekal latar belakang pendidikan Food and Beverage Management dari Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua, Eka sempat berkarier sebagai butler di Laguna Luxury Collection (2010) dan bartender di Carnival Cruise Line (2011–2015).

Namun, perjalanan profesionalnya berubah haluan sejak 2016 ketika ia memutuskan pulang kampung dan mengabdikan diri pada isu lingkungan.

Tahun itu, ia mendirikan Rumah Plastik, sebuah gerakan bank sampah yang menyasar desa-desa di Buleleng. Program ini tidak hanya fokus pada pengumpulan sampah, tetapi juga menyusun sistem kerja, manajemen keuangan, hingga membangun jejaring dengan pabrik daur ulang.

Tak berhenti di sana, pada 2019 Eka meluncurkan Rumah Plastik Mart, inovasi yang mengintegrasikan pengelolaan sampah dengan sistem pembayaran di desa dan sekolah.

Ia juga memperkenalkan skema kredit mikro bagi bank sampah aktif, membuka akses pembiayaan bagi pelaku pengelolaan sampah skala kecil.

Tahun 2021, Eka memperluas langkahnya dengan membentuk Kerambitan Daur Sampah (KEDAS) di Tabanan.

Di sini, Eka tidak hanya mengatur harga beli dan jual sampah anorganik, tetapi juga bekerja sama dengan BPD Tabanan untuk membangun sistem perputaran uang secara digital.

Masih di tahun yang sama, ia menggagas Bali Waste Cycle (BWC) Buleleng sebagai titik hilir pengolahan sampah plastik seluruh Bali. BWC turut membantu pengelolaan TPST Samtaku serta limbah medis non-B3 dari rumah sakit di Buleleng, sekaligus mencarikan pasar daur ulang untuk produk olahannya.

Di ranah kelembagaan, Eka tercatat sebagai Ketua Bank Sampah Induk Buleleng sejak 2017, dan aktif dalam Bank Sampah Induk Bali sejak 2019. Ia juga menjabat di berbagai organisasi seperti Pemuda Peduli Lingkungan Bali, Bali Rare Paduraksa, dan Singaraja Green Partnership yang ia cofounded pada 2020.

Pada tahun 2022, kepercayaan terhadap kiprahnya semakin diperkuat saat ia didaulat sebagai penasihat Asosiasi Bank Sampah Indonesia (DPD Buleleng) dan pengurus Divisi Daur Ulang di tingkat Korwil Bali.

Dalam posisi ini, ia berperan dalam pembinaan bank sampah, pengembangan mesin daur ulang, dan ekspansi pasar produk daur ulang.

Seluruh perjalanannya itu berpijak pada prinsip bahwa sampah bukan hanya masalah, tetapi peluang.

 “Saya ingin masyarakat melihat bahwa sampah plastik bisa menjadi aset ekonomi jika dikelola dengan benar,” ujar Eka.  (dik)

 

Editor : I Putu Mardika
#bali #plastik #Putu Eka Darmawan #sampah