BALIEXPRESS.ID - Kontroversi kasus pecalang yang diduga dipukul pemedek di Pura Besakih dan justru menjadi tersangka, menuai tanggapan dari berbagai pihak.
Melalui akun Instagram resmi @niluhdjelantik pada 18 Mei 2025, anggota DPD RI asal Bali Ni Luh Djelantik menyuarakan pendapatnya untuk menyelesaikan kasus tersebut melalui jalur adat, bukan hukum formal.
"Mohon agar keluarga pemedek dapat mengedepankan empati. Permasalahan terjadi di lingkungan pura suci Besakih, selesaikan dengan cara adat dan beradab, bukannya malah main lapor begini," ungkap Ni Luh Djelantik.
Dalam tanggapannya, Ni Luh Djelantik menekankan pentingnya peran pecalang dalam kehidupan bermasyarakat di Bali.
Ia mengingatkan bahwa pecalang selalu menjadi garda terdepan dalam berbagai kegiatan masyarakat.
"Nanti kalau di desa kita ada perlu, pasti panggil pecalang. Kalau ada keributan pasti minta tolong pecalang. Rumah kemalingan, sebelum mengadu ke polisi, pasti pecalang duluan yang rempong mengurusi. Upacara adat di pura-pura pasti pecalang yang menjaga keamanan dan kenyamanan pemedek," jelasnya.
Ni Luh Djelantik juga menegaskan bahwa pecalang bukanlah preman, melainkan warga biasa yang bertugas menjaga keamanan dan ketertiban adat.
"Pecalang bukan preman, pecalang manusia seperti kalian. Mereka bekerja dengan ngayah," terangnya.
Lebih lanjut ia mengusulkan agar pecalang diberikan gaji untuk meningkatkan semangat dan fokus dalam menjalankan tugas.
"Mbok terus perjuangkan agar pecalang diberikan gaji untuk mereka semangat dan fokus bertugas menjaga masyarakat dan desanya," tambahnya.
Sebagai solusi kasus ini, Ni Luh Djelantik menyarankan penerapan Restorative Justice. "Panjangkan empati, cabut laporan dan Restorative Justice solusinya. Jangan seperti pisau yang tajam ke dalam tapi tumpul keluar," pungkasnya.
Unggahan ini mendapat sorotan dari warganet di media sosial.
“Tolong bantu kawal mbok Niluh,” tulis akun @dayuastami
“Astaga kasian banget,” tulis akun @balidogassociation
“Proses mbok,” tulis akun @paapoocello. (*)
Editor : Nyoman Suarna