Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Harapan Baru di Atas Rabat Beton

Dian Suryantini • Selasa, 27 Mei 2025 | 02:47 WIB

Warga di perbatasan desa Depaha-Desa Bukti sedang melihat truk yang membawa material untuk perbaikan jalan dalam program TMMD ke-124.
Warga di perbatasan desa Depaha-Desa Bukti sedang melihat truk yang membawa material untuk perbaikan jalan dalam program TMMD ke-124.

SINGARAJA, BALI EXPRESS - “Senjata saya sekarang bukan senapan, tapi cangkul dan sekop. Perang saya adalah melawan kemiskinan,” ujar Muhammad Toha sambil terus mengaduk semen dan pasir.

Ia merupakan satu dari ratusan prajurit TNI yang turut dalam TMMD (TNI Manunggal Membangun Desa). Bintik-bintik keringat memenuhi dahi dan sedikit membasahi topinya. Muhammad Toha yang kemudian disapa Toha, telah bekerja sejak pra TMMD, 10 April 2025 di Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng.

“Jalannya ekstrim, mental harus kuat. Saya mantan tugas di Timor-Timur, jadi ya sudah biasa,” ujar Toha sambil tersenyum. Nafasnya masih memburu. Tangannya tetap erat pada gagang cangkul.

Muhammad Toha, juga seorang Babinsa Munduk Bestala berpangkat Serka, dengan sigap dan terampil mengaduk campuran semen dan pasir. Ia bagian dari pasukan yang bertugas membangun rumah layak huni untuk 3 KK di desa itu. Bersama empat rekannya, ia mengerjakan semua dengan semangat tinggi meski cuaca tak selalu bersahabat. “Dari sipil saya sudah biasa kerja begini,” kata Toha pagi itu, Senin (26/5).

Rumah pertama yang ia kerjakan adalah milik Gede Kandia. Rumah itu dibangun di atas lahan pribadi yang dibeli oleh lelaki 54 tahun itu. Lelaki paruh baya ini tak henti-hentinya mengucap syukur. Bukan karena mendapat pekerjaan baru, bukan pula karena anaknya lulus kuliah, tapi karena akhirnya—ya akhirnya—setelah puluhan tahun hidup nomaden, ia akan punya rumah sendiri. Sebuah tempat berteduh yang benar-benar miliknya. Rumah yang ia sebut sebagai rumah impian.

Tahun ini, semesta seperti menyusun ulang keberuntungan untuk Kandia. Dari begitu banyak warga yang berharap, namanya muncul dalam daftar penerima bantuan bedah Rumah Tidak Layak Huni (RTLH), bagian dari program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-124 Kodim 1609/Buleleng. Dia satu dari tiga orang warga kurang mampu yang dipilih.

Dalam waktu sepuluh hari, rumah seluas 5x6 meter dengan dua kamar tidur, satu kamar mandi, dan sebuah teras kecil sudah hampir rampung berdiri. Padahal, langit Desa Depeha belum sepenuhnya bersahabat. Hujan masih kerap datang tanpa permisi. Tapi tekad dan semangat para prajurit, serta harapan besar Kandia, jauh lebih kuat dari guyuran air langit.

Progres pembangunan rumah untuk Gede Kandia, warga Dusun Seganti, Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng
Progres pembangunan rumah untuk Gede Kandia, warga Dusun Seganti, Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng

Kandia bukan orang baru dalam perjuangan. Bersama istrinya, Nyoman Budiasih, dan tiga anaknya yang kini sudah dewasa, menjalani kehidupan berpindah-pindah. Tidak punya rumah, penghasilan serabutan, dan sering menumpang tinggal di kebun milik orang, itu adalah realitas hidupnya. Kadang memelihara kebun milik warga dengan imbalan bisa mendirikan pondok kecil di sudut lahan. Namun saat pemilik kebun menarik kembali lahannya, Kandia harus angkat kaki lagi.

“Sejak tahun 2019 kami tinggal numpang di rumah keluarga,” kisah Kandia lirih, namun tetap memancarkan semangat.

Tapi jangan kira Kandia hanya menunggu keajaiban. Sejak 2019, dia sudah mulai menabung dari hasil kerja serabutan dan memelihara babi. Sedikit demi sedikit, ia kumpulkan uang untuk membeli lahan seluas dua are. Bahan bangunan pun ia cicil satu per satu. Genteng, semen, kayu—semua dikumpulkan diam-diam, seperti orang menenun mimpi.

Kini, mimpi itu hampir sempurna. Dalam waktu dekat, ia akan menempati rumah sendiri. Bukan lagi pondok dari triplek reyot, bukan lagi tenda darurat di tengah kebun, tapi rumah sungguhan. Rumah hasil kolaborasi antara kerja kerasnya sendiri dan tangan-tangan terampil dari TNI yang menjalankan program TMMD.

Para prajurit dari Kodim 1609/Buleleng bekerja tanpa kenal lelah. Mereka bukan hanya tukang bangunan, tapi juga membawa semangat solidaritas dan kemanusiaan. Di balik seragam militer dan wajah tegas, terselip empati dan ketulusan untuk membantu rakyat kecil.

“Rasanya kayak lebaran, semua kompak dan saling bantu,” ujar Prada Christian Andre Agansi, prajurit muda dari Manado yang tergabung di TMMD.

Hampir selama sebulan penuh Prada Christian bekerja dalam program TMMD, ia mampu berbaur dengan masyarakat. Sapaan komandan tidak lagi melekat seperti awal ia tiba. Kini ia lebih akrab disapa Bli Chris oleh warga.

“Nyaman sekali. Seperti bekerja di rumah. Kami bekerja bersama dan makan bersama,” kesannya.

 

Progres pembuatan drainase dan betonisasi jalan
Progres pembuatan drainase dan betonisasi jalan

Program TMMD bukan sekadar proyek pembangunan fisik. Ini adalah intervensi sosial yang menyentuh langsung akar rumput. Akses jalan yang kini dibangun juga menjadi jembatan untuk hasil perkebunan warga. Mangga yang menjadi komoditas unggulan di desa Depeha seperti ladang emas.

Buah mangga tak hanya sekadar komoditas. Ia adalah napas ekonomi, aroma perjuangan, dan warisan desa yang manis legit. Tapi selama ini, manisnya mangga seringkali kalah oleh pahitnya akses jalan.

Namun, semua itu berubah sejak TMMD (TNI Manunggal Membangun Desa) hadir. Jalan utama desa yang selama ini lebih mirip jalur off-road akhirnya dibenahi. Jalur itu melintasi beberapa lahan milik warga termasuk Gede Tamba.

Gede Tamba, warga Dusun Seganti, Desa Depeha, punya 50 are kebun mangga. Dulu, untuk mengangkut hasil panen, ia harus memikul atau menyewa ojek hanya untuk sampai ke jalan raya.

Itu pun butuh waktu 30 menit, dengan risiko mangga berjatuhan karena jalanan curam dan berlubang. “Sekarang, cukup 10 menit, bahkan dengan mobil,” kata dia.

Dalam sekali panen, satu pohon mangganya bisa menghasilkan 50 kg sampai 1 kuintal. Dan dulu, ia harus berjuang ekstra hanya untuk keluar dari dusunnya. Tamba tak masalah meski lahannya tergerus sekitar 3 are. Demi jalan yang bagus dan mangganya meluncur dengan mulus dari puncak Depeha, ia mengorbankan tanahnya.

“Hasil panen jadi cepat sampai. Tidak apa-apa tanahnya hilang yang penting jalannya bagus,” tuturnya ketika lahan kebun mangga miliknya terdampak pembuatan jalan dari program TMMD.

Tak banyak yang tahu, mangga Depeha pernah harum hingga Gedung Putih, Amerika Serikat, pada 2007. Tapi kejayaan itu perlahan memudar. Pestisida dan zat perangsang pertumbuhan mulai merusak karakter asli mangga arumanis khas Depeha. Panen cepat, tapi rasa dan kualitas merosot.

Kondisi mangga yang demikian disadari Kepala Desa Depeha, I Gede Srinyarnya. Ia memutuskan untuk melawan arus dengan beralih ke budidaya mangga organik. Perlahan, desa membangun TPS3R, fasilitas pengelolaan sampah yang kini mulai memproduksi pupuk organik dan eco enzyme. Ini bukan sekadar pengolahan limbah, tapi perjuangan mengembalikan cita rasa dan kejayaan mangga Depeha.

“Saat ini harganya tembus Rp48.000 per kg. Ini harga emas. Belum pernah setinggi itu,” ujarnya.

 

Warga yang melintas di jalan yang sudah dibeton.
Warga yang melintas di jalan yang sudah dibeton.

Kemasyuran mangga Depeha telah banyak diakui. Ironisnya, mangga yang lahir dari tanah legit Depeha kehilangan nama aslinya saat menyeberang laut. Selama ini, saat keluar dari Bali, mangga mereka kerap berganti label.

“Kami susah payah membangun branding tapi diklaim orang. Saya harap dengan TMMD ini kejayaan mangga Depeha bisa bangkit,” kata Srinyarnya.

Upaya untuk membangkitkan kejayaan mangga itu tidak saja diupayakan oleh pemerintah desa maupun program TMMD. Pemerintah Kabupaten Buleleng juga menyingsingkan lengan agar produk-produk dari Buleleng tidak lagi diakui daerah lain.

“Kami akan carikan Indeks Geografisnya (IG). Dengan itu mangga Depeha tidak lagi seenaknya bisa diklaim,” kata Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra.

Proyek TMMD di Depeha bukan hanya tentang beton dan gorong-gorong. Ini adalah urat nadi baru yang mengalirkan harapan. Ada 300 pohon mangga yang ditanam di sejumlah titik di puncak Desa Depeha. Pohon-pohon mangga itu pun diharapkan dapat memberikan celah harapan untuk masyarakat kelak.

Mangga yang bertumbuh pada suburnya tanah Depeha yang legit juga diharapkan dapat menopang kesejahteraan masyarakat. Akses penjunjang seperti jalan pun sudah dilengkapi, sehingga bila mangga tersebut tumbuh dan berbuah dengan baik, mereka dapat meluncur dengan mulus di jalan itu.

Total panjang jalan yang dibangun mencapai 1.255 meter dengan lebar 6 meter, menghubungkan Desa Depeha dengan Desa Bukti. Dulu, jalan ini hanya tanah selebar 3 meter. Sekarang jalan itu dibuat rabat beton lebar dan kokoh.

Jalan yang dibangun dalam TMMD ini juga mendukung pertumbuhan ekonomi di desa itu. Pembangunan infrastruktur dari TMMD ini disebut telah menghemat pengeluaran APBD senilai Rp 2 miliar.

Bukan hanya tentang jalan. Infrastruktur lain juga dibenahi. Total ada 501 meter drainase, Gorong-gorong sepanjang 6 meter, Pipanisasi air bersih sepanjang 2 km, 3 unit pembangunan bedah rumah, 3 unit MCK dan 1 unit reservoir air bersih.

Reservoir ini menjadi salah satu kebutuhan vital untuk warga. Terlebih bagi mereka yang tinggal di wilayah perbatasan desa, seperti Putu Nangra.

Putu Nangra, yang selama ini harus minta air ke saudara, reservoir ini seperti oasis di tengah padang perjuangan.

“Air dari desa belum sampai ke sini. Sekarang mulai dibangun pipanisasi, harapannya nanti saya bisa dapat air sendiri,” ucapnya penuh harap.

Total ada 60 KK yang belum tersentuh air bersih. TMMD menjawab itu. Bersama pamsimas desa, mereka membangun saluran hingga ke rumah terakhir.

“Kami lakukan pipanisasi sampai nanti bisa dinikmati oleh masyarakat,” kata Dansatgas TMMD ke-124 yang juga Dandim 1609/Buleleng, Letkol Kav. Angga Nurdyana.

TMMD memang jadi solusi konkret, tapi juga sekaligus cermin bahwa banyak PR pembangunan belum tuntas. Di Desa Depeha, masih ada 78 ruas jalan desa dengan kondisi serupa sebelum TMMD. Dana desa jelas tak cukup.

“Desa Depeha sudah dua kali mendapat program TMMD. Yang pertama tahun 2005 dan kedua tahun 2025,” ujarnya.

Jalur TMMD ini bukan jalur biasa. Ia jalur strategis. Jalur pendidikan, karena menghubungkan warga dengan SMA/SMK Bali Mandara dan SMK Kesehatan Kubutambahan. Jalur wisata, karena jadi akses menuju pemandian kolam Air Sanih, di desa Bukti. Jalur religi, karena memudahkan umat saat odalan (acara keagamaan) ke pura-pura yang berada di luar desa tapi masih bagian wilayah Desa Depeha.

Pembangunan jalan, penanaman pohon, pembangunan rumah layak huni hingga pengairan untuk warga adalah program unggulan Kasad. Program TMMD di Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng tahun ini terasa lengkap.

Meski cuaca masih murung dan tanah becek oleh hujan, pembangunan rumah Kandia dan 2 warga lainnya terus berjalan. Bahkan pembangunan reservoir tidak berhenti. Tak ada yang bisa menghentikan proyek ini selain waktu itu sendiri. Targetnya jelas, rumah dan pembangunan lainnya harus selesai sebelum TMMD ke-124 ditutup pada 4 Juni 2025.

Begitu juga dengan rabat beton pada jalan sepanjang 1.255 meter dengan lebar 6 meter, yang menghubungkan Desa Depeha dengan Desa Bukti. Pekerjaan ini mesti tuntas!

Dan begitulah, di tengah semak dan tanah merah, akan tampak perubahan yang menjadi simbol kemenangan kecil bagi rakyat biasa. Rumah yang menjadi saksi betapa kerasnya hidup seorang buruh serabutan, jalan yang menjadi tumpuan mangga-mangga manis dan bantuan yang datang tepat waktu. ****

Editor : Dian Suryantini
#mangga #reservoir #tmmd