Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ragam Jenis Taksu dalam Hindu: Taksu Bekel Kekuatan sejak Lahir, Taksu Paica Diperoleh Melalui Doa  

I Putu Mardika • Rabu, 28 Mei 2025 | 04:18 WIB

 

Taksu bagi pragina atau penari memberikan kekuatan dalam pementasan
Taksu bagi pragina atau penari memberikan kekuatan dalam pementasan
BALIEXPRESS.ID-Taksu bagi umat Hindu memiliki makna mendalam sebagai kekuatan suci untuk meningkatkan intelektualitas. Secara nyata, Taksu menjadi tempat pemujaan keluarga (sanggah atau pelinggih) yang memberikan kekuatan magis.

Dosen Upakara STAHN Mpu Kuturan, Dr. Wayan Murniti, M.Ag menjelaskan, Taksu itu dapat dimaknai sebagai objek material berupa sanggah atau pelinggih taksu. Untuk mendapatkan kekuatan taksu tersebut, sebelum melakukan suatu aktivitas pekerjaan sesuai dengan profesi yang ditekuninya, biasanya masyarakat Bali berdoa memohon anugrah pada tempat suci tersebut.

“Keberadaan tempat suci berupa pelinggih atau sanggah taksu pada setiap pemujaan keluarga menunjukkan betapa pentingnya taksu itu dalam berbagai aspek kegiatan dan kehidupan sosio-kultural masyarakat Hindu Bali,” jelasnya.

Tempat suci berupa pelinggih taksu ini merupakan stana dari sang Kala Raja yaitu lambang sumber energi. Kala artinya energi atau kekuatan, dan kala juga dapat diartikan waktu.

Pelinggih taksu ini digunakan untuk memohon kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa agar dianugrahi kekuatan spiritual, untuk memelihara semangat hidup yang penuh dengan godaan.

Baca Juga: Menteri LHK Pastikan Kajian Ketat Proyek Terminal LNG di Sidakarya, Tiga Aspek Harus Dipenuhi

Ia menambahkan, saat hendak mendirikan pelinggih Taksu baik pada areal sanggah atau mrajan maupun pada arel natah (halaman ruma) sesungguhnya adalah upaya untuk memohon keindahan dan kekuatan luar biasa sesuai dengan profesi yang kita tekuni.

“Sesungguhnya taksu itu berkaitan dengan pekerjaan atau swadharma atau profesi. Dari pekerjaan atau profesi seseorang bisa mendapatkan bekal sebagai biaya hidup,” imbuhnya.

Murniti menambahkan, ada tiga jenis taksu, diantaranya taksu bekel, taksu paica dan taksu gegaen.

Taksu bekel pada dasarnya adalah kekuatan spiritual atau kekuatan dalam diri (inner power) yang dimiliki oleh setiap orang sejak lahir, yang muncul dari dalam diri sendiri dan tumbuh secara internal.

Embrio taksu sesungguhnya sudah dimiliki oleh setiap orang sejak lahir, meskipun setiap individu memiliki cara yang berbeda untuk mengaktifkan kekuatan suci yang sudah ada didalam dirinya.

Kekuatan suci ini kemudian akan berkembang menjadi kekuatan taksu setelah diaktifkan melalui pelatihan fisik yang berat, di tambah dengan latihan mental dan spiritual sehinnga bisa mengakibatkan seseorang menjadi lebih matang atau dewasa dalam profesi mereka.

Baca Juga: Koster Sebut Proyek Terminal LNG Sidakarya Dorong Bali Mandiri Energi dan Tekan Harga LPG

Selanjutnya Taksu paica pada dasarnya adalah kekuatan suci yang dianugrahkan atau diturunkan oleh Hyang Kuasa. Taksu paica ini dapat diperoleh melalui doa dan upacara-upacara lain yang menggunakan berbagai jenis sesaji.

Di Bali secara umum tidak ada tempat suci atau pura khusus untuk mendapatkan taksu, akan tetapi setiap desa pada khususnya memiliki tempat keramat untuk memohon taksu. Hal ini berkaitan dengan kepercayaan sosio religius masyarakat Bali yang meyakini kekuatan taksu untuk pregina (seniman Bali).

Baik yang menekuni bidang tari, kerawitan, pedalangan, dan bidang seni lainnya bisa diperoleh di tempat suci setempat, sesuai dengan kepercayaan masyarakat setempat.

Para pregina (seniman Bali) juga bisa berdoa di sanggah atau pelinggih taksu milik mereka masing-masing guna memohon keselamatan dan keberhasilan sebelum meninggalkan rumah menuju tempat pentas.

“Mereka umumnya juga bisa berdoa di suatu pura di lokasi tempat pentas untuk memohon agar dewa taksu bisa turun dan masuk ke dalam diri mereka. Hal ini mengandung arti bahwa setiap desa memiliki pura khusus yang diyakini sebagai tempat untuk memohon taksu,” ungkapnya.

Selanjutnya, Taksu gegaen pada dasarnya adalah sejenis ajimat buatan manusia yang memiliki ilmu sihir. Taksu seperti ini dapat dipadukan dengan aji-ajian seperti pengeger, guna-guna dan rerajahan. Taksu seperti ini dapat diperoleh dari dukun atau pendeta yang telah mahir membuat aji-ajian.

Sementara, dalam pustaka-pustaka lontar disebutkan sebagai dibya caks yakni laku, gerak dan suaranya utama itu benar’. Dalam mencapai taksu, seorang seniman (pregina) atau pelaku profesi lainnya harus senantiasa menyatukan pikiran, perkataan dan perbuatan sesuai dengan prinsip tri kaya parisudha

Baca Juga: Berstatus Ilegal, Pemulangan Jenazah PMI asal Sangkaragung di Jepang Terkendala: Begini Upaya Dilakukan Pemkab Jembrana

Kejujuran adalah penentu bagi pencapaian taksu. Umat Hindu di Bali pada umumnya percaya bahwa insan-insan seni yang berani berbuat tidak jujur dalam berkesenian akan kehilangan taksunya.

“Jika kekuatan taksu tidak lagi terpancar dari dalam diri seorang seniman (pregina) atau pencipta seni maka karya-karya seni yang dilahirkan tidak akan memiliki jiwa dan tidak mampu membangkitkan rasa lango bagi para penikmatnya,” sebutnya.

Ada beberapa tahapan atau proses yang harus dilalui oleh seorang seniman (pregina) agar bisa memperoleh kekuatan taksu,

Dijelaskan Wayan Murniti, pertama seorang seniman (pregina) tersebut harus mampu menguasai hal-hal yang bersifat fisik atau material (aspek bayu) dari suatu kesenian yang ingin ditekuninya,

Kedua, setelah menguasai hal-hal yang bersifat fisik atau material dari suatu kesenian yang ingin ditekuninya, tahap berikutnya adalah memahami hal-hal yang berhubungan dengan sikap mental dan moral, termasuk etika berkesenian (aspek sabda),

Ketiga, keberhasilan suatu pertunjukan seni sangat tergantung sekali kepada kepekaan seniman (pregina) terhadap aspek spiritual atau kekuatan magis suatu bentuk kesenian (aspek idep).

Baca Juga: Tak Lagi Jalan Sendiri, RPJMD Bali Satukan Arah Pembangunan Se-Pulau

“Kepekaan seniman (pragina) ini harus mampu membangkitkan atau menghidupkan kekuatan magis (taksu) yang ada pada diri seniman tersebut, termasuk kekuatan magis (taksu) yang ada pada kesenian yang bersangkutan,” katanya.

Dalam seni pertunjukan di Bali, setiap bentuk kesenian seperti; topeng, wayang kulit, arja, drama tari calonarang dan kesenian lainnya memiliki formulasi yang dirahasiakan untuk menghidupkan kekutan spiritual tersebut (taksu) jika ingin pertunjukan seninya berhasil dan mampu memukau serta menghipnotis para penontonnya.

“Hampir semua aktivitas pertunjukan seni dan budaya Hindu di Bali melibatkan prosesi ritual. Tujuannya guna memohon anugrah kekuatan spiritual (taksu) dari Hyang Maha Kuasa agar diberikan kejernihan pikiran dan yang kedua guna mohon perlindungan, keberhasilan serta keselamatan dari berbagai gangguan yang datang dari luar,” pungkasnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#bali #pelinggih #sanggah #taksu