Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Setelah Blackout, Pemerintah Pusat Dorong Kemandirian Energi Bali Lewat Terminal LNG Sidakarya

Wiwin Meliana • Kamis, 29 Mei 2025 | 14:45 WIB

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Hanif Nurofiq, melakukan kunjungan langsung ke lokasi rencana pembangunan Terminal LNG di Sidakarya
Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Hanif Nurofiq, melakukan kunjungan langsung ke lokasi rencana pembangunan Terminal LNG di Sidakarya

BALIEXPRESS.ID-Setelah pulau Bali sempat dilanda blackout besar-besaran awal Mei lalu, perhatian terhadap ketahanan energi kembali mengemuka.

Pemadaman listrik yang melumpuhkan aktivitas masyarakat dan sektor pariwisata ini menjadi pengingat keras bahwa Bali masih terlalu bergantung pada pasokan listrik dari Jawa.

Baca Juga: Brutal! OPM Tembak Mati Wanita ODGJ di Intan Jaya, Dituduh Mata-Mata TNI

Sebagai respon atas krisis tersebut, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Hanif Nurofiq, melakukan kunjungan langsung ke lokasi rencana pembangunan Terminal LNG di Sidakarya, Denpasar, Selasa (27/5).

Dalam kunjungannya, Menteri Hanif menyatakan bahwa dari sisi lingkungan, proyek ini memungkinkan untuk dilanjutkan, dengan catatan penerapan mitigasi dampak ekologis dilakukan secara ketat.

“Bali sebagai destinasi pariwisata dunia harus bisa menjadi contoh pengembangan energi bersih dan mandiri. Kita tidak hanya bicara soal sampah, tapi juga tentang bagaimana Bali tidak terus hidup dalam ketergantungan energi,” ujar Hanif di hadapan media dan tokoh masyarakat Sidakarya.

Namun, ia juga mengingatkan bahwa pembangunan terminal LNG tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Kajian lingkungan, sosial, dan keselamatan harus menjadi syarat utama.

Baca Juga: Nekat Curi Motor di Parkir Swalayan, Wanita Asal Jember Diringkus Polsek Kuta Selatan

 “Dampaknya terhadap terumbu karang, ekosistem laut, dan kesehatan masyarakat harus ditelaah secara komprehensif. Proyek ini harus memberi manfaat, bukan justru menciptakan risiko baru,” tegasnya.

Menteri Hanif turut menekankan pentingnya memasukkan aspek kesehatan dalam dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL).

Menurutnya, jika mitigasi berjalan sesuai rencana, Terminal LNG Sidakarya berpotensi menjadi solusi strategis: menjawab krisis energi, mendorong pertumbuhan ekonomi, sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.

Kunjungan ini dinilai sebagai sinyal kuat bahwa pemerintah pusat serius dalam membangun kemandirian energi Bali.

Peristiwa blackout pun kini dilihat sebagai momentum untuk mempercepat langkah menuju sistem energi yang lebih tangguh.

Baca Juga: Makin Mudah dan Cepat, Nasabah Kini Bisa Apply Kartu Kredit Easy Card Lewat Website Resmi BRI

Penolakan terhadap proyek LNG yang sebelumnya muncul dari sebagian masyarakat kini mulai mereda. Dukungan juga datang dari komunitas adat. Jero Bendesa Adat Sidakarya, Ketut Suka, menyebut bahwa paruman desa sudah dilakukan sejak 2022, dan mayoritas warga telah menyatakan dukungan mereka.

“Kami mendukung proyek ini karena kami melihat manfaat nyatanya. Tapi kami juga meminta agar pembangunan dilakukan dengan penataan yang menyeluruh, tidak hanya membangun infrastruktur tapi juga menjaga kenyamanan dan kelestarian lingkungan sekitar,” ujarnya.

Dengan lampu hijau dari Kementerian LHK dan dukungan dari masyarakat lokal, proyek Terminal LNG Sidakarya kini tidak lagi hanya menjadi wacana. Ia hadir sebagai langkah nyata untuk mewujudkan Bali yang lebih mandiri dalam energi—lebih bersih, lebih kuat, dan lebih siap menghadapi masa depan.

Editor : Wiwin Meliana
#bali #sidakarya #LNG Bali #blackout #kemandirian energi