SINGARAJA, BALI EXPRESS – Kabupaten Buleleng tampaknya tak main-main dalam memoles potensi desanya. Tak tanggung-tanggung, tiga desa wisata sekaligus dipastikan mewakili Bali dalam ajang bergengsi tingkat dunia: Best Tourism Village (BTV) ke-5 yang digelar oleh UN Tourism, organisasi pariwisata di bawah naungan PBB.
Tiga desa tersebut adalah Desa Les di Kecamatan Tejakula, Desa Sudaji di Kecamatan Sawan, dan Desa Pemuteran di Kecamatan Gerokgak. Ketiganya telah mencatat prestasi gemilang di tingkat nasional dan kini tengah dipacu untuk bersaing di level global.
“Melalui keikutsertaan ini, desa-desa wisata di Buleleng akan memiliki daya tawar dan branding yang kuat. Kami ingin mengikuti jejak sukses Desa Penglipuran dan Jatiluwih yang telah lebih dulu mencatatkan nama di panggung internasional,” ujar Kepala Dinas Pariwisata Buleleng, Gede Dody Suksma Oktiva Askara, Jumat (30/5).
Namun, jalan menuju panggung dunia tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Ada satu hal yang justru menjadi tantangan terbesar, formulir. Bukan sembarang formulir, melainkan lembaran penilaian yang harus diisi secara rinci dan dalam bahasa Inggris.
“Mirip dengan formulir Jadesta seperti di ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI), tapi versi internasional. Mulai dari jumlah penginapan, kamar, karyawan, sampai rincian usia dan gender karyawan pun ditanyakan,” jelas Kadis Dody.
Tantangan ini justru membuka mata banyak pihak tentang pentingnya tata kelola administrasi desa wisata. Ketelitian data bukan hanya menjadi syarat, tapi juga jadi cermin kesiapan sebuah desa bersaing di level dunia.
“Dari sini kami belajar. Ini bukan hanya lomba, tapi momen refleksi. Kita diajari untuk lebih mengenali potensi diri dan mengelola desa wisata secara lebih profesional,” tambahnya.
Bicara soal tantangan, Kadis Dody juga menyoroti soal sistem kunjungan wisata yang masih bersifat konvensional di desa-desa Buleleng. Tidak seperti Jatiluwih yang memiliki pos tiket terpusat sehingga mudah menghitung jumlah kunjungan, tiga desa di Buleleng belum menerapkan sistem serupa.
“Kalau wisatawan masuk ke desa-desa wisata di Buleleng, tidak ada tiket masuk. Tidak berbayar. Ini jadi tantangan tersendiri dalam pencatatan data kunjungan,” ungkapnya.
Baca Juga: Nelayan Buleleng Temukan Puluhan Penyu Terikat di Pesisir Pantai Pemuteran
Sebagai contoh, wisatawan yang datang ke Desa Pemuteran untuk snorkeling atau diving, atau menyeberang ke Pulau Menjangan, belum terdata secara digital.
Namun Pemkab tak tinggal diam. Solusi mulai disiapkan, salah satunya dengan mendorong revisi Peraturan Daerah tentang pajak distribusi daerah. Dalam usulannya, kawasan Pantai Tanjung Budaya dan Biorock diharapkan menjadi daya tarik wisata berbayar dengan sistem ticketing digital.
“Kalau ini bisa diwujudkan, kita bisa menghitung kunjungan secara real time dengan sistem e-post. Ini juga akan membantu pengelolaan dan perencanaan desa wisata ke depan,” tambahnya penuh harap.
Meski persaingan BTV 2025 dipastikan ketat — Indonesia sendiri hanya mengirimkan 13 desa dari seluruh nusantara — namun Buleleng punya harapan besar. Tiga desanya lolos mewakili Bali, dan ini sudah jadi prestasi tersendiri.
“Harapan kami, salah satu dari tiga desa ini bisa ditetapkan sebagai Best Tourism Village 2025. Tapi yang lebih penting lagi, proses ini membuat kita semakin siap dan sadar bahwa tata kelola adalah kunci,” tutup Kadis Dody. ***
Editor : Dian Suryantini