AMOR ING ACINTYA! I Made Sutama alias Minggik Tutup Usia, Sang Anak Ungkap Kisah Pilu dan Julukan Kontroversi!
Putu Resa Kertawedangga• Senin, 2 Juni 2025 | 02:03 WIB
I Made Sutama alias Minggik
BALIEXPRESS.ID – Sebuah kabar duka menyelimuti Denpasar. I Made Sutama alias Minggik, sosok yang selama ini dikenal sebagai tokoh sentral Ormas di Bali, telah meninggal dunia pada Kamis, 29 Mei 2025, sekitar pukul 23.45 WITA di RSUD Wangaya, Denpasar.
Kepergian Minggik yang mengejutkan ini diikuti dengan prosesi Upacara Ngaben sekaligus Nyekah yang digelar pada Minggu (1/6).
Ngaben "Ngelanus": Harapan Cepat Menjadi Pitara di Balik Kepergian Minggik
Agus Suwitra, putra pertama almarhum Minggik, menjelaskan alasan di balik prosesi Ngaben Ngelanus (cepat) yang dipilih pihak keluarga.
"Sebenarnya bisa saja Ngaben dan Memukur ini dilaksanakan di hari yang berbeda sesuai dewasa ayu yang ada.
Tujuan saya sebagai anak ingin menjadikan bapak sebagai Pitara dengan cepat, dari keluarga juga menginginkan Bapak cepat melinggih," ujar Agus saat ditemui di Genah Nyekah Atma Wedana Desa Adat Denpasar, Setra Badung.
Keinginan keluarga untuk segera melepas kepergian Minggik secara spiritual menjadi alasan utama di balik kecepatan upacara ini.
Jejak Penyakit Misterius: Dari Radang Tenggorokan Hingga Sesak Napas Akut
Sebelum meninggal dunia di usia 73 tahun, Minggik sempat dirawat intensif di RSUD Wangaya selama empat hari.
Agus menceritakan bahwa ayahnya mulanya mengalami radang tenggorokan yang membuatnya kesulitan makan dan minum.
Namun, ada satu hal yang menjadi sorotan: almarhum tak pernah mau merepotkan keluarga dan sering menolak diajak berobat.
Meski sempat jengkel, Agus tak pernah menyerah untuk membujuk sang ayah.
Setelah dilarikan ke rumah sakit, kondisi Minggik sempat stabil dan bahkan masih bisa berkomunikasi dengan penjenguk.
Namun, sehari sebelum menghembuskan napas terakhir, kondisi Minggik memburuk drastis akibat sesak napas.
Tim dokter berusaha memberikan oksigen, namun denyut nadinya terus melemah hingga akhirnya dirawat di ruang ICU.
"Di sana (ICU) dokter memberikan pertimbangan, kalau perawatan ini berjalan lancar maka Bapak akan selamat. Kalau tidak kemungkinan terburuk meninggal," tutur Agus, mengulang perkataan dokter.
Dua jam penanganan intensif tak membuahkan hasil. Tim dokter memompa jantungnya, namun nyawa ayah empat anak ini tak tertolong.
"Meninggalnya Kamis (29/5) Malam, sekitar jam 23.43," ungkap Agus.
Semasa hidupnya, Minggik dikenal aktif berorganisasi. Pria kelahiran 15 Juni 1952 ini sempat bergabung dengan Armada Racun di tahun 1970-an, sebuah perkumpulan anak muda Denpasar.
Kemudian, ia mendirikan Forum Peduli Denpasar (FPD).
Agus tegas menyatakan Almarhum Minggik tidak pernah berbuat jahat.
"Ayah saya adalah panutan, sebagai anak ayah saya selalu memberikan contoh yang baik. Bapak saya anggap seorang tokoh, sebagai teman, sebagai pahlawan saya. Tentunya yang terbaik untuk keluarga saya,” tandasnya.
Kepergian Minggik membuka kembali lembaran kisah hidupnya yang penuh warna, meninggalkan dua istri, empat anak, dan dua cucu.
Di balik julukan yang melekat, tersimpan cerita seorang ayah, suami, dan tokoh yang dihormati keluarganya. Apakah kepergiannya akan menjadi penutup bagi kontroversi yang melingkupinya? ***