Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Putu Ayu Reika Nurhaeni, Perempuan Tangguh di Balik Roda Pembangunan Buleleng

Dian Suryantini • Senin, 2 Juni 2025 | 18:28 WIB

Putu Ayu Reika Nurhaeni, Kepala Bappeda Kabupaten Buleleng.
Putu Ayu Reika Nurhaeni, Kepala Bappeda Kabupaten Buleleng.

 

SINGARAJA, BALI EXPRESS - Di balik berbagai kebijakan strategis pembangunan Buleleng, berdiri sosok perempuan yang tak hanya piawai merancang program, tapi juga piawai membangun komunikasi dari hati ke hati.

Dialah Putu Ayu Reika Nurhaeni, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Buleleng, yang telah mengabdi selama hampir tiga dekade sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN). Saat ini ia ditunjuk sebagai Plt (Pelaksana Tugas) Asisten II Setda Buleleng yang membidangi perekonomian dan Pembangunan.

Lahir di Desa Bila, Kecamatan Kubutambahan, pada 9 Agustus 1972, Reika meniti karier dari bawah dengan penuh kerja keras dan dedikasi. Lulusan Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN) angkatan ketiga ini resmi menjadi ASN sejak tahun 1994, dan langsung ditugaskan sebagai Kepala Sub Seksi di Kantor Camat Banjar, Buleleng. Dari sinilah perjalanan panjang dan menantang itu dimulai.

Tak butuh waktu lama, Reika dipercaya naik jabatan sebagai Kepala Seksi, hingga pada tahun 2008 mencatat sejarah sebagai camat perempuan pertama di Buleleng. Sebuah pencapaian besar, namun juga awal dari berbagai ujian yang mengasah ketangguhannya.

“Sehari setelah saya dilantik, langsung dihadapkan pada konflik perobohan tapal batas di Desa Kayuputih dan Banyuatis,” kenangnya.

Baca Juga: Gagal Jadi Creative Hub, ‘Kamar Bola’ Singaraja Akan Jadi Rumah Dinas Wakil Bupati

Tapi Reika tak gentar. Ia memilih pendekatan khas perempuan. Turun ke desa, menggandeng tokoh masyarakat, dan menyentuh hati warga lewat kegiatan-kegiatan budaya seperti lomba desa adat dan sekaa gong.

Keberhasilan menjaga stabilitas di wilayah rawan konflik itu tak lepas dari sinergi bersama unsur Muspika—Polsek, Koramil, hingga perbekel. “Kuncinya komunikasi yang terbuka dan koordinasi yang kuat,” ujarnya.

Ibu tiga anak ini juga menyebut dukungan penuh dari sang suami, Putu Dana Harta, sebagai pilar penting dalam hidup dan kariernya. Reika pun memegang prinsip sederhana namun kuat. Di kantor, ia adalah pemimpin, tapi di rumah, ia sepenuhnya berperan sebagai istri dan ibu. “Harus tahu kapan meletakkan jabatan dan kembali ke peran keluarga,” ujarnya lugas.

Setelah empat tahun menjabat Camat Banjar, karier Reika terus menanjak. Tahun 2012, ia dimutasi ke Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) sebagai Kepala Bidang. Setahun kemudian, ia ditunjuk sebagai Sekretaris Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol), lalu kembali menjabat camat—kali ini di Kecamatan Buleleng.

Puncak karier berikutnya datang pada 2015 saat Reika dipercaya sebagai Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Buleleng. Selama 7,5 tahun memimpin instansi yang bersentuhan langsung dengan data dan dokumen kependudukan, ia menyebut masa itu sebagai salah satu pengalaman paling menantang sekaligus membanggakan.

Kini, di posisi strategis sebagai Kepala Bappeda, Reika kembali memainkan peran penting di balik arah pembangunan daerah. Namun, ia tak pernah merasa harus mengejar ambisi pribadi.

“Saya hanya menjalani semuanya seperti air mengalir. Tidak ada target khusus, yang penting bisa menjalankan amanah dengan baik,” tutur anak sulung dari pasangan I Wayan Sadha Wijaya dan almarhumah Ni Ketut Nurasihani ini.

Meski telah meraih banyak pencapaian, Reika tetap membumi. Ia percaya bahwa keberhasilan seorang perempuan bukan diukur dari tinggi jabatannya, melainkan dari kemampuannya menyeimbangkan peran publik dan domestik. ***

Editor : Dian Suryantini
#Bappeda #STPDN #asn #kubutambahan #buleleng