BALIEXPRESS.ID - Seniman legendaris asal Bali, I Nyoman Subrata yang dikenal luas dengan nama panggungnya, Petruk, terancam tidak ikut ambil bagian dalam pementasan drama gong klasik pada Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVII tahun 2025.
Hal ini disebut-sebut sebagai hasil dari arahan tim kurator PKB yang menekankan pentingnya penggunaan bahasa Bali alus (halus) serta penerapan etika dalam setiap pertunjukan.
Sebelumnya, Petruk sempat menuai kritik lantaran penggunaan bahasa yang dinilai terlalu sarkastis dalam pertunjukan.
Baca Juga: Gudang Papaya Fresh Gallery di Kuta Kebakaran, 11 Armada Diterjunkan, Pemadaman Terkendala Akses
Beberapa istilah seperti “ba**sat” dianggap tidak pantas dalam konteks pertunjukan budaya yang mengedepankan nilai-nilai kesopanan.
Menanggapi situasi tersebut, Ketua DPD Gerindra Bali, Made Muliawan Arya atau yang lebih dikenal dengan nama De Gadjah, turut memberikan pernyataan.
Ia menyebut bahwa pelarangan terhadap Petruk bukan semata karena faktor etika pertunjukan, melainkan berbau politik.
“Pada tanggal 1 Juni kemarin, momen ketika Pekak Petruk bercerita tentang dirinya yang job-nya di-block atau tidak diizinkan tampil di Pesta Kesenian Bali oleh oknum ASN di Dinas Kebudayaan, karena mendukung saya saat Pilgub kemarin dan juga karena dalam tampilan Petruk ada kata-kata kasar," ujar De Gadjah.
Ia menyayangkan jika alasan tersebut menjadi penghalang bagi seniman untuk berkarya.
Menurutnya, dalam seni tradisional seperti drama gong, penggunaan bahasa yang lebih ekspresif sudah menjadi bagian dari gaya pertunjukan dan justru memberi warna tersendiri.
“Kita semua tahu drama gong kan?! Kata-kata seperti itu biasa. Jika drama gong semua pakai bahasa Bali sor singgih, bagaimana jadinya? Siapa yang mau nonton? Kreativitas seniman jangan dibatasi,” tegasnya.
De Gadjah juga menyinggung agar rivalitas politik yang telah usai tak dibawa ke ranah kesenian dan budaya.
Ia menilai tindakan membatasi ruang berkesenian hanya karena perbedaan politik adalah sikap yang tidak bijak.
Baca Juga: Jarang Dimainkan, Fitrul Eks Persib Bandung Tetap Dipercaya Bali United Dua Musim ke Depan
“Jika sampai urusan politik yang sudah selesai masih dibawa-bawa sehingga artis-artis atau seniman-seniman yang mendukung saya di pilgub kemarin job-nya di-block atau tidak diizinkan tampil di mana-mana, itu hal yang sangat tidak baik dan tidak dewasa dalam berpolitik,” lanjutnya.
Lebih jauh, De Gadjah menyampaikan bahwa dirinya telah menjalin komunikasi langsung dengan Gubernur Bali, Wayan Koster, terkait persoalan ini.
“Saya sudah bicara dengan Pak Gubernur via telepon. Dan saya bicara bukan hanya untuk Pekak Petruk saja, tapi untuk semua seniman dan artis yang job-nya di-block dan tidak diizinkan tampil di Bali. Respons beliau baik, beliau tidak tahu dan tidak ada menginstruksikan seperti itu,” jelasnya.
Baca Juga: 463 Titik WiFi Gratis Segera Terpasang di 133 Desa di Tabanan, Target Rampung 4 Bulan
Selain membahas nasib para seniman, De Gadjah menyebut komunikasinya dengan Gubernur Koster juga mencakup program-program pembangunan Bali yang memerlukan sinergi dengan pemerintah pusat.
"Dan kita memang sering diskusi dengan beliau," tambahnya.
Ia pun menyampaikan bahwa Gubernur Bali akan segera memberikan arahan kepada Dinas Kebudayaan dan jajaran terkait agar tidak melakukan pembatasan terhadap seniman yang berbeda pandangan politik.
Baca Juga: Remaja Perempuan di Bangli Meninggal Usai Minum Racun, Diduga karena Masalah Asmara
“Mari kita bersinergi bersama membangun Bali. Hajatan politik sudah selesai, sekarang adalah hajatan bersama membangun Bali agar Bali semakin baik. Intinya saya bicara mengenai semua artis atau seniman yang berbeda pandangan politik, janganlah dizolimi,” tutup De Gadjah.(***)
Editor : Rika Riyanti