BALIEXPRESS.ID - Ketidakhadiran pelawak Bali, I Nyoman Subrata alias Petruk, dalam ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVII tahun 2025 menuai sorotan publik, terutama warganet.
Banyak di antara mereka yang mencurigai alasan di balik absennya tokoh legendaris drama gong lawas itu, bahkan mengaitkannya dengan situasi politik.
Pasalnya, saat Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Bali 2024 lalu, Subrata diketahui menyatakan dukungan terhadap pasangan calon De Gadjah dan Putu Agus Suradnyana.
Baca Juga: Tahanan Kasus Pelecehan Anak Diduga Tewas Usai Dikeroyok di Rutan Polresta Denpasar
Hal inilah yang memicu spekulasi bahwa absennya Petruk dari panggung PKB tak lepas dari sikap politiknya.
Menanggapi isu tersebut, Ketua Paguyuban Peduli Seni Drama Gong Lawas, Anak Agung Gede Oka Aryana, SH., M.Kn, membantah keras anggapan itu.
Ia menegaskan bahwa keputusan tidak melibatkan Petruk murni berdasarkan evaluasi dan arahan kurator, bukan karena unsur politis.
Baca Juga: 63 Tahun Perjalanan Bank BPD Bali, Berkontribusi bagi Pertumbuhan Ekonomi Bali
“Tidak dilibatkkanya Petruk dalam pementasan drama gong lawas di PKB nanti memang karena ada syarat dari tim Kurator PKB agar penampilan para seniman drama gong lawas menyajikan tontonan yang mendidik sarat dengan anggah unguhang bahasa Bali alus dan etika tatanan kehidupan di masyarakat Bali,” katanya, Kamis (5/6).
Menurut Agung Aryana, salah satu alasan kuat tim kurator tidak mengikutsertakan Petruk adalah karena dalam penampilannya sebelumnya, ia menggunakan istilah yang dianggap kasar di ruang publik.
“Nggak ada itu (ke arah politik) sama sekali gak ada hubungannya (dengan politik). Karena dia (Petruk) di Bangli juga enggak ikut (PKB), jadi diarah-arahkan kesana, padahal sama sekali gak ada itu,” tegasnya.
Baca Juga: Lansia 96 Tahun Ditemukan Tewas di Dalam Sumur, Evakuasi Dramatis 2 Jam
Ia menjelaskan, PKB tahun ini memang memberikan perhatian khusus pada kualitas pementasan drama gong lawas, yang dijadikan acuan bagi kelompok lainnya.
Kurator meminta agar seluruh pemain mengedepankan penggunaan bahasa Bali halus dan mencerminkan tata krama kehidupan masyarakat Bali.
Agung Aryana juga mengungkap bahwa berdasarkan evaluasi tahun lalu, masih ditemukan adegan atau dialog yang dianggap tidak pantas, meski sebelumnya hal itu sudah diingatkan.
Baca Juga: Petruk Batal Tampil di PKB 2025, Buka Suara soal Gaya Lawakan yang Jadi Sorotan
“Kami sudah sampaikan kepada Petruk dan rekan-rekannya bahwa mereka hanya tidak dilibatkan untuk pentas di PKB saja. Di luar itu, mereka tetap bisa tampil seperti biasa,” tambahnya.
Ia pun menegaskan komitmen Paguyuban Peduli Seni Drama Gong Lawas dalam mendukung visi Pemerintah Provinsi Bali, yakni "Nangun Sat Kerthi Loka Bali", khususnya dalam pelestarian seni budaya.
Paguyuban juga menerima dengan terbuka setiap arahan pemerintah untuk kebaikan seni pertunjukan Bali ke depan.
Baca Juga: Miris! SD Saribi di Papua Tak Belajar Selama 4 Bulan Lantaran Tak Ada Kapur Tulis
“Kita fiur ngajegin seni, tidak ada yg lain,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, I Gede Arya Sugiartha, juga membantah adanya intervensi politik terkait ketidakhadiran Petruk di PKB.
Ia memastikan tidak ada upaya pemerintah untuk menghalangi seniman tampil dalam acara tahunan tersebut.
Baca Juga: Terekam CCTV, Aksi Pencurian Besi Penutup Drainase di Jalana Ratna Negara
“Prinsipnya gak mungkin kita pemerintah menjegal seniman untuk tampil di PKB. Mohon diluruskan itu,” cetusnya.(***)
Editor : Rika Riyanti