BALIEXPRESS.ID-Sorotan terhadap penampilan lawakan khas tokoh Petruk dalam ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) memantik reaksi keras dari tokoh masyarakat dan pegiat budaya, Ni Luh Djelantik.
Setelah 50 tahun menjadi bagian dari tradisi seni rakyat, kini lawakan Petruk dianggap oleh sebagian pihak melanggar norma kesopanan.
Namun, Ni Luh Djelantik menegaskan bahwa membungkam ekspresi budaya seperti Petruk justru bisa menjadi bentuk pelecehan terhadap warisan budaya lokal.
“PETRUK HARUS TAMPIL ATAU PEJABAT YANG MELARANG AKAN DIHUJAT SELURUH RAKYAT BALI,” tegas Ni Luh dalam akun instagram resminya, dikutip pada Kamis (5/6).
Lebih lanjut, ia menyindir keras pihak-pihak yang sibuk mengurusi penampilan seni tradisional ketimbang menyelesaikan persoalan-persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.
“Sebaiknya urus joget jaruh, jalan rusak, sampah, insentif untuk pecalang, daripada urus norma kesopanan Petruk,” tegasnya.
Menurut Ni Luh Djelantik, PKB adalah ajang budaya untuk rakyat, bukan panggung elite yang alergi terhadap ekspresi rakyat kecil.
Baca Juga: Tahanan Pelecehan Anak Tewas Dikeroyok, Propam Periksa 3 Petugas Rutan Polresta Denpasar
Ia menyebut bahwa tokoh Petruk telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Bali sejak lama dan tidak pernah menimbulkan keresahan berarti.
“PKB adalah event untuk rakyat. Petruk sudah menjadi bagian dari hidup kami sejak kami masih kecil, toh kami baik-baik saja. Kalau telinga tak bisa terima joke Petruk, lebih baik kalian yang tidak usah datang,” pungkasnya.
Pernyataan Ni Luh menuai dukungan luas di media sosial. Banyak netizen yang menyuarakan hal serupa, bahwa ekspresi budaya seperti lawakan Petruk seharusnya dilestarikan, bukan dibungkam atas nama tafsir sempit norma kesopanan.
“50 thn mare komen pemerintahnya, berkat legend kak petruk semua masyarakat bali bisa tertawa,” tulis akun @putu_sugix_
“Lah!! 50 tahun kemana aja sih,” tulis akun @didiroa77
“Memperbaiki/mengkoreksi orang lain itu bagus, namun jauh lebih bagus jika memperbaiki/mengkoreksi diri sendiri terlebih dahulu. Pekak petruk sedari dulu berusaha menghidupkan drama, bukan seperti anda sekarang yang selalu mendramakan kehidupan!!!,” tulis akun @cikho.cis
Editor : Wiwin Meliana