BALIEXPRESS.ID - Festival Film Internasional Bali (Balinale) 2025 resmi ditutup dengan penuh semarak pada Sabtu (7/6) malam di Sanur.
Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, memimpin penutupan dalam sebuah acara layar tancap yang menyuguhkan film-film pilihan dari Bali dan Indonesia, dihadiri para sutradara terkemuka, tokoh masyarakat, serta pemangku kepentingan budaya lokal.
Malam penutupan juga menandai sejarah baru perfilman di Bali dengan pemutaran perdana film IMAX 3D, yakni Under the Sea karya Howard Hall dan Born to be Wild karya David Lickley.
Kedua film produksi Amerika Serikat dan Kanada tersebut disuguhkan sebagai bentuk apresiasi terhadap teknologi sinema canggih yang kini menyapa penonton Bali.
Balinale tahun ini menghadirkan lebih dari 72 film dari 32 negara selama tujuh hari penyelenggaraan.
Di antaranya, terdapat 8 film dunia, 25 film Asia, 16 film internasional, serta 23 film Indonesia.
Baca Juga: KPK Siap Periksa Ridwan Kamil Terkait Dugaan Korupsi Proyek Iklan Bank BJB
Festival ini terus memperluas pengaruh globalnya dalam merayakan hampir dua dekade penyelenggaraan, sekaligus mendorong pertumbuhan sinema independen dan keberagaman suara kreatif.
Pada malam sebelumnya, dewan juri Balinale 2025 mengumumkan deretan pemenang untuk lima kategori utama kompetisi film pendek dan panjang.
Sebagai satu-satunya festival di Indonesia yang memenuhi syarat untuk Academy Award Qualifying Festival bagi Film Pendek Terbaik, para pemenang tahun ini berkesempatan untuk masuk seleksi Oscar.
Baca Juga: Sempat Kejang, Seorang Pelajar Meninggal Dunia di Kapal Ferry
“Ini adalah tahun pertama kami menjadi festival yang memenuhi syarat Oscar, dan kami sangat senang dengan film-film yang terpilih,” ujar Founder & Director of Balinale, Deborah Gabinetti.
Ia menambahkan bahwa pihaknya ingin terus mengembangkan festival ini sebagai wadah bagi berbagai elemen seni lintas disiplin, sekaligus menjembatani kolaborasi internasional.
“Indonesia sudah memiliki semua unsur seni—musik, tarian, kostum, dan lainnya—kalian seperti terlahir dengannya. Tugas kami hanya membawa program yang bisa menumbuhkan kreativitas itu,” tambahnya.
Baca Juga: Lima Finalis Adu Gagasan di Tahap Akhir Penilaian Adhyasta Prajaniti 2025
Untuk kategori Film Dokumenter Pendek Terbaik, gelar juara diraih oleh AMAL / Hope karya Eros Zhao.
Film ini dipuji karena kemampuannya menyampaikan pesan universal tentang persamaan manusia di tengah perbedaan yang mencolok.
Lewat visual yang menyentuh dan momen musikal yang emosional, AMAL dinilai sebagai karya yang reflektif sekaligus menggugah.
Baca Juga: Tahanan Tewas Dikeroyok di Rutan Polresta Denpasar, Enam Orang Ditetapkan Tersangka, 3 Polisi Disel
Dalam kategori Film Narasi Pendek Terbaik, film asal Prancis The Boy with White Skin karya Simon Panay keluar sebagai pemenang.
Juri menilai film ini menghadirkan realisme magis yang kuat dan menggetarkan, serta sinematografi yang mendalam.
Sementara itu, film A Lifelike Fairytale karya Rinaldas Tomaševičius dari Lithuania mendapat penghargaan khusus berkat energi pertunjukannya dan pengamatan karakter yang tajam dan jujur.
Baca Juga: Bunda PAUD Kecamatan Susut Kunjungi Tiga TK, Dukung Pendidikan Anak Usia Dini Berkualitas
Untuk kategori Film Animasi Pendek Terbaik, penghargaan utama jatuh kepada Retirement Plan karya John Kelly dari Irlandia.
Film ini berhasil menyampaikan emosi yang mendalam tanpa dialog, dengan pendekatan visual yang sederhana namun menyentuh.
Sebagai pengakuan atas kreativitasnya, film Crow, Starfish, Unicorn karya Xiaoxuan Han menerima penghargaan khusus berkat desain animasi yang segar, puitis, dan abadi.
Di kategori Film Dokumenter Panjang Terbaik, Champions of the Golden Valley karya Ben Sturgulewski dari Amerika Serikat meraih penghargaan utama.
Film ini menyajikan potret kehidupan di Afghanistan melalui lensa kompetisi olahraga ski, dengan sorotan kuat terhadap perjuangan perempuan dan dinamika sosial di wilayah konflik.
Sementara itu, Film Narasi Panjang Terbaik diberikan kepada Seeking Haven for Mr Rambo karya Khaled Mansour.
Baca Juga: Tak Tampil Di PKB 2025, Musisi Ary Kencana Galang Donasi untuk Petruk
Film ini menelusuri kisah emosional seorang pria dan persahabatannya dengan anjing peliharaan di tengah kehidupan keras di Kairo.
Lewat penampilan memukau dari Essam Omar, film ini berhasil membawa penonton menyelami ruang batin karakter dan kompleksitas sosial perkotaan.
Dalam rangka mendukung talenta lokal, Balinale memberikan Gary L Hayes Award untuk Sineas Indonesia Pendatang Baru kepada Suintrah karya Ayesha Alma Almera.
Baca Juga: Pernyataan Petruk yang Absen di PKB 2025: Ada Apa dengan Sang Maestro Lawak?
Film ini disebut sebagai thriller yang memikat, dengan naskah dan penyutradaraan yang membangun ketegangan melalui keheningan dan karakterisasi yang kuat.
Selain itu, Committee Choice Award diberikan kepada Ravens karya Mark Gill.
Film ini dinilai berhasil mengeksplorasi kehidupan seniman Jepang Masahisa Fukase dengan narasi yang mendalam, berlapis, dan emosional.
Baca Juga: Isu Tambang Nikel di Raja Ampat Makin Memanas, Niluh Djelantik Sentil Menteri Bahlil
Penampilan Asano Tadanobu dan Kumi Takiuchi disebut memberikan warna kuat pada kisah lintas era yang ditampilkan dalam film ini.
Sementara itu, Menteri Kebudayaan RI, Fadly Zon, yang turut hadir dalam penutupan, menyatakan dukungan penuh terhadap Balinale yang telah konsisten berjalan selama 18 tahun.
“Film adalah salah satu platform yang sangat penting dalam memajukan kebudayaan, karena di dalamnya terkandung begitu banyak ekspresi budaya seperti akting, sastra, musik, bahkan kuliner,” ujar Fadly Zon.
Ia menambahkan, Kementerian Kebudayaan akan terus memperluas kolaborasi dan dukungan terhadap berbagai festival film di Tanah Air.
“Saya sangat mengapresiasi dan mendukung semakin banyaknya festival film di Indonesia, termasuk Balinale. Festival seperti ini membangun ekosistem perfilman sekaligus memperkuat jaringan dan kolaborasi internasional,” tegasnya.
Dewan Juri Balinale 2025 terdiri dari para profesional perfilman internasional, termasuk Matthieu Rytz, Donna Smith, Sam Buckland, Agustini Rahayu, Andibachtiar Yusuf, Dr. Lawrence Blair, Nirartha Bas Diwangkara, dan Joe Yaggi.
Baca Juga: TRAGIS! Pria Buleleng Hilang Ingatan Usai Tabrak Lari, Kini Butuh Uluran Donasi
Balinale 2025 sekali lagi membuktikan diri sebagai ajang penting dalam lanskap sinema Asia Tenggara, tidak hanya sebagai tempat bertemunya para sineas dunia, tetapi juga sebagai panggung bagi bakat-bakat muda Indonesia untuk tampil dan diakui secara internasional.(***)
Editor : Rika Riyanti