Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Kisah I Made Adnyana, Jurnalis yang Tak Pernah Lelah Belajar

Dian Suryantini • Rabu, 11 Juni 2025 | 00:15 WIB

I Made Adnyana
I Made Adnyana

 

SINGARAJA, BALI EXPRESS — Di sebuah desa sejuk di Pupuan, Tabanan, aroma pisang goreng (godoh) dulu jadi teman harian seorang anak lelaki kecil. Namanya I Made Adnyana. Sejak kelas 2 SD hingga kelas 3 SMP, ia tak hanya mengunyah godoh—ia menjualnya. Bukan karena keterpaksaan, tapi karena suka. Suka berjualan, suka bertemu orang, dan suka belajar mandiri.

Kini, puluhan tahun kemudian, anak penjual godoh itu berdiri gagah di Aula Fakultas Hukum Universitas Udayana, Senin 19 Mei 2025. Suaranya lantang, tapi tubuhnya gemetar menahan haru.

“Dagang godoh itu bukan lagi dagang godoh, kini sudah menjadi Doktor,” ucapnya sambil tersenyum tipis, disambut tepuk tangan para hadirin—termasuk para wartawan yang diundangnya secara khusus.

Hari itu, Made Adnyana resmi menyandang gelar akademik tertinggi, Doktor Hukum Pers, dengan IPK 3,92. Ia tercatat sebagai lulusan doktor ke-149 dari Fakultas Hukum Universitas Udayana. Gelar ini diraihnya lewat disertasi berjudul “Pengaturan Perlindungan Hukum Jurnalisme Warga dalam Penguatan Demokrasi Indonesia.” Bukan sekadar karya ilmiah, tapi bentuk kegelisahan dan kecintaannya pada dunia jurnalistik.

“Jurnalisme warga harus diberi ruang, tapi juga perlu pengaturan agar tak berujung kriminalisasi,” ujarnya dalam sidang terbuka.

Baca Juga: Kisah Ni Nengah Widhi Astuti! Sejak Kecil Suka Dengarkan Radio: Kini Jadi Penyiar dan Guru

Kehidupan Adnyana memang tak bisa dilepaskan dari jurnalistik. Ia pernah aktif di pers kampus saat kuliah, kemudian melanjutkan karier sebagai jurnalis, bahkan menjadi pelatih jurnalistik keliling sekolah.

Kini, ia mengajar di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI Bali) sebagai dosen konsentrasi jurnalistik dan kewarganegaraan. Insting wartawannya tetap menyala, bahkan sampai di ujung pidato, ia sempat berseloroh.

“Saya mengundang wartawan untuk antisipasi. Besok-besok kalau ada yang meragukan ijazah atau disertasi saya, sudah ada buktinya,” kata dia lantang.

Lelucon itu disambut gelak tawa hangat. Tapi di balik candanya, ada keteguhan hati dan semangat belajar tanpa batas. Bagi Adnyana, usia bukanlah halangan untuk meraih cita-cita. Ia pernah dicibir saat memutuskan kembali ke bangku kuliah di usia kepala lima.

Kesibukannya kini tak hanya di ruang kuliah. Ia mengelola podcast “Oke Made”, membesut media daring musikbali.com, dan rutin diundang sebagai pembicara di berbagai forum jurnalistik dan musik. Ia percaya, belajar adalah proses seumur hidup.

“Selama cangkir itu masih kosong, saya akan terus menuangkan kopi ke dalamnya,” ujarnya mantap.

Kini, kopi itu tak lagi sekadar simbol. Ia telah menjadi minuman pekat penuh makna—diracik dari ketekunan seorang anak kampung, dari godoh hingga doktor. Dr. I Made Adnyana, S.H., M.H., adalah bukti bahwa perjuangan, tak peduli berapa usia dan dari mana bermula, akan selalu menemukan tujuannya. ***

Editor : Dian Suryantini
#doktor #pupuan #jurnalisme warga #Universitas udayana #Mei #tabanan