Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pekak Petruk Diserang Isu Politik, Blauk Tegaskan Dibayar Karena Jasa, Bukan Suara

Putu Ayu Aprilia Aryani • Rabu, 11 Juni 2025 | 17:59 WIB

Pekak Petruk Diserang Isu Politik usai mundur dari PKB 2025
Pekak Petruk Diserang Isu Politik usai mundur dari PKB 2025

BALIEXPRESS.ID-Isu politisasi di balik mundurnya Pekak Petruk dari Pesta Kesenian Bali (PKB) 2025 terus bergulir di media sosial.

Banyak warganet menduga keputusan tersebut berkaitan dengan dukungan politik saat Pilkada sebelumnya, khususnya terhadap sosok De Gadjah.

Baca Juga: Polemik Mundurnya Petruk dari Drama Gong Lawas: Blauk Tegaskan Tak Ada Unsur Politik

Dalam tayangan podcast Jeg Bali, yang dipandu Erwin sebagai, Blauk dan Pekak Petruk akhirnya buka suara.

“Jujur ya saya tahu masalah nika dari akunnya Pak De Gadjah. Nah itu berarti bukan itu yang pertama viral ya,” ujar Erwin membuka perbincangan.

“Nggak bukan, jadi sebelum nika sudah viral,” jawab Blauk.

Erwin kemudian mengangkat isu yang ramai dibicarakan netizen.

“Nah ampura nika tyang metakon, dulu Pilkada nika Pekak Petruk mendukung De Gadjah atau gimana?” Tanya Erwin.

Menanggapi pertanyaan tersebut, Pekak Petruk menjelaskan bahwa saat masa kampanye Pilkada, De Gadjah memang sempat datang ke rumahnya.

Baca Juga: Petruk Beber Alasan Keluar dari Paguyuban Drama Gong Lawas

“Yen ade ne mulih, apa saya tolak, logika dong,” ujar Pekak Petruk singkat.

Blauk pun menegaskan bahwa dukungan politik adalah ranah pribadi dan tidak ada hubungannya dengan profesionalisme sebagai seniman.

“Menurut tyang, artinya selama niki berjalan semua seniman apakah sama dengan tyang. Tapi tyang berprinsip sama seperti Pekak. Nyen gen dadi ngalih bli, tapi kita dibayar jasanya bukan suaranya,” tegas Blauk.

Erwin kemudian mengungkapkan kebingungannya soal simpang siurnya informasi di publik.

“Tyang bingung, pidan Pekak taen dukung Pak Giri Prasta tapi kok jani beritane De Gadjah.”

Menanggapi hal itu, Blauk menjawab lugas bahwa masalah mendukung merupakan suatu hal privasi.

“Masalah dukung mendukung nika kan hak privasi. Yen tyang ten taen metakon ke Pekak, nyen ke dukung, ga pernah. Karena itu privasi dan tidak ada yang boleh mengintervensi.” Jawab Blauk.

Blauk juga menegaskan kembali posisi mereka sebagai seniman.

“Satu sisi tyang bukan politisi, Pekak juga bukan. Jadi seniman kami profesional, muda-mudahan politisinya juga profesional ke kita.” Jelas Blauk.

Blauk turut membantah tudingan bahwa dirinya terlibat politik saat Pilkada Bangli.

“Dirumah pun sempat saat Pilkada Bangli, katanya tyang dukung ini dukung itu, tyang jeg bingung. Contoh, di Bangli kan ada 3 Paslon, tyang masalah hati nurani nyen sing ngidang melawan. Pang sing nika di plintir, digoreng.” Jelasnya.

Baca Juga: Loyalitas untuk Timnas Indonesia! Ultras Garuda Bali Tetap Semangat Nyanyi Indonesia Pusaka Setelah Kalah dari Jepang

Blauk menyayangkan sikap sebagian pihak yang menurutnya terlalu cepat mengaitkan keputusan mereka dengan politik.

“Banyak yang Pekak Petruk dipolitisasi, mangkin Pekak kan ten ngidang. Misal Bli Erwin tokoh politik trus datang ke rumah Pekak, ngidang nolak? Masalahnya tyang yakin niki bukan ranah politik, tapi empati kemanusiaan.” Ujar Blauk.

Erwin mengonfirmasi bahwa narasi tentang dukungan politik dan nama Pekak Petruk memang beredar di media sosial.

“Soalnya ade narasi begitu di media sosial kan, Pak De Gadjah memosting begitu. Bahwa Pekak begitu karena dulu waktu Pilkada mendukung De Gadjah.” Kata Erwin.

Menanggapi hal itu, Blauk menyatakan bahwa wajar jika seorang politisi membuat asumsi seperti itu.

“Ampura nggih dengan segenap hati titiang, kalo bicara politik kan beliau wajar seperti itu.”

Dalam kesempatan yang sama, Erwin pun mengklarifikasi bahwa saat Pilkada, ia selaku host Jeg Bali sudah mengundang semua pasangan calon tanpa keberpihakan.

Blauk menutup pernyataannya dengan pesan untuk publik agar tidak menilai sesuatu secara gegabah.

“Nah situasi nika sama bli, jangan menilai sesuatu dengan singkat, jangan menilai sesuatu dari rasa suka dan tidak suka.” Pungkas Blauk.

 

Editor : Wiwin Meliana
#petruk #politisasi #Blauk #pkb