BALIEXPRESS.ID-Sosok seniman kawakan Pekak Petruk kembali angkat suara mengenai penggunaan kata “bangsat” yang sempat menjadi sorotan publik saat dirinya tampil di Pesta Kesenian Bali (PKB).
Baca Juga: PKB 2025 Tanpa Petruk, Blauk Ungkap Kekecewaan: Video Internal Harusnya Tak Disebar ke Publik
Dalam sebuah podcast di kanal YouTube Jeg Bali, Petruk menjelaskan bahwa hal tersebut bukan pertama kalinya ia lontarkan, bahkan sudah pernah disampaikannya saat PKB 2024 di hadapan Penjabat (Pj) Gubernur Bali saat itu, Sang Made Mahendra Jaya.
“Tampil di panggung, Pekak nunas ampura teken Pak Kadis, Pak Kadis ngorang sing kengken, Pak PJ ngakak kedek. Pak Kadis dulu juga gitu,” ujar Petruk mengenang.
Ketika ditanya oleh Erwin apakah kata “bangsat” juga sudah digunakan pada pentas tahun sebelumnya, Petruk dan Blauk kompak mengiyakan.
Baca Juga: NGERI! Sindikat Penipuan Love Scam di Bali Dikendalikan dari Kamboja, 38 Orang Ditangkap
“Wenten, yang dikatakan bangsat nika kan sekee gong. Artinya sekee gong nika kan bagian dari kru kita, makanya ada istilah dalam pementasan nika gladi dan nyetel gamelan, tan nyetel penonton apalagi undangan,” jelas Blauk.
Lebih lanjut, Blauk menegaskan bahwa persoalan ini seharusnya tidak dibesar-besarkan karena sepenuhnya berkaitan dengan urusan internal dalam proses pementasan.
“Ampunang nika digoreng kesana sini, nika mutlak masalah di organisasi,” ujar Blauk tegas.
Petruk juga mengungkap asal muasal kebiasaannya menyebut kata “bangsat”.
Ternyata, kebiasaan itu terinspirasi dari masa lalunya saat bekerja sebagai PNS di Rumah Sakit Jiwa Bangli.
Saat itu, ia kerap berinteraksi dengan seorang pasien asal Buleleng yang membawa samurai dan secara mengejutkan mengenalnya.
Pasien tersebut, yang kemudian dekat dengannya, juga sering melontarkan kata “bangsat” dalam pergaulan sehari-hari.
Karena sering bergaul dengan para pasien, Petruk pun terbiasa menggunakan istilah itu untuk membangun kedekatan.
Petruk menjelaskan, penggunaan kata itu justru menjadi strategi komunikasi untuk menjalin hubungan baik dan mengatur pasien dengan lebih mudah.
“Uli nto akhirnya ada inspirasi Pekak, nganggo kata ne nto,” ujar Petruk
Editor : Wiwin Meliana