Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Komang Alam Pergi Sebelum Janur Kuning Terpasang

Dian Suryantini • Minggu, 15 Juni 2025 | 22:36 WIB

Komang Alam Sutawan alias Komang Toris semasa hidup.
Komang Alam Sutawan alias Komang Toris semasa hidup.

 

SINGARAJA, BALI EXPRESS – “Hari ini mungkin jadi hari terakhir saya boncengan,” begitu ucap Komang Alam Sutawan, sekitar 20 hari lalu saat bertemu Nyoman Wihendi di Desa Madenan. Wihendi sendiri merupakan Kepala Dusun Kelodan di Desa Madenan, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng. Ia telah berteman sejak kecil dengan Komang Alam Sutawan.

Lahir dan pernah besar di Madenan, jejak masa kecil Komang Alam tak pernah benar-benar pudar dari desa ini. Ibunya berasal dari sini, dan meski ia sempat pindah ke Songan pada usia 29 karena diangkat anak oleh pamannya, ikatan emosionalnya pada Madenan tak pernah lepas. Di sinilah ia tumbuh, bermain, dan membangun persaudaraan yang tulus.

“Secara administrasi memang dia warga Songan, tapi secara rasa dia tetap warga kami. Dia bukan hanya teman. Sudah kami anggap seperti adik kandung sendiri,” ujar Nyoman Wihendi, Kepala Dusun Kelodan Madenan yang juga kerabat almarhum, Minggu (15/6).

Komang Alam sering dipanggil Komang Toris. Ia adalah anak ketiga dari lima bersaudara. Kakak pertamanya perempuan, kakak keduanya laki-laki dan ia memiliki sepasang adik perempuan kembar. Namun sosok Komang Alam selalu tampil menonjol—bukan karena keras kepala atau suka cari masalah, justru sebaliknya. Ia dikenal sebagai pelindung, garda terdepan saat teman atau keluarga menghadapi masalah.

Di lingkungan pergaulannya, Komang Alam disegani. Di desa, ia tak pernah absen menyama braya—datang saat ada upacara, membantu bila ada yang kesusahan. Ia pun dikenal sangat hormat pada kakak dan penyayang pada adiknya.

Belakangan, Komang Alam tengah bersiap untuk sebuah babak baru dalam hidupnya. Ia sudah melakukan sesi prewedding dengan kekasihnya. Rencana pernikahan sempat tertunda karena adanya upacara kematian di pihak keluarga perempuan. Namun harapan itu belum sirna—bulan ini, rencananya akan jadi saat yang tepat.

“Iya betul, almarhum memang mau menikah. Bahkan persiapannya sudah sangat matang,” kata Wihendi.

Baca Juga: PILU! Mang Alam Ternyata Tengah Persiapkan Pernikahan dalam Waktu Dekat, Sudah Jalani Foto Prewed

Untuk menyambut pernikahannya, Komang Alam menyelenggarakan Tajen—pertarungan ayam aduan—sebagai bentuk penggalangan dana. Tapi perlu dicatat, dia bukanlah pengadu ayam yang rutin. Ia hanya sesekali ikut, lebih sering hadir sebagai penjaga kondusifitas arena.

“Bapaknya bahkan tidak suka tajen. Bapaknya kerja sebagai satpam. Jadi mungkin karena pergaulan saja dia bisa metajen,” tambah Wihendi.

Namun siapa sangka, rencana-rencana itu akhirnya membeku dalam kabut misteri. Komang ditemukan tak bernyawa. Tragis. Banyak yang tidak percaya, bahkan Wihendi sendiri mengaku tak menyangka.

“Sekitar 20 hari lalu terakhir saya boncengan sama dia. Dia bilang, mungkin itu terakhir kali kami boncengan. Tapi saya pikir dia bercanda. Dia ngomong begitu sambil tersenyum, seperti biasa,” kenangnya dengan nada bergetar.

Yang mengejutkan, pelaku dan korban ternyata saling kenal. Tapi motif dan penyebab peristiwa memilukan ini belum sepenuhnya jelas. Bahkan Wihendi sendiri enggan berspekulasi.

“Selama ini tidak pernah ada cerita dia punya musuh. Dia hanya sering curhat tentang hidupnya yang berat. Tapi soal konflik dengan orang, saya tidak pernah dengar,” ungkapnya.

Kini, Komang Toris telah tiada. Tapi sosoknya masih melekat di hati banyak orang—khususnya warga Madenan yang menganggapnya bagian dari keluarga besar.

Ia sering datang, menyapa, dan membuat siapa pun merasa dihargai. Dalam senyumannya yang tenang, ia menyimpan cerita hidup yang mungkin tak semua orang tahu. Tapi bagi mereka yang mengenalnya, Komang Alam atau Komang Toris adalah pribadi yang tidak pernah setengah-setengah dalam mencintai, mencintai keluarga, teman, dan desanya.

“Di Songan almarhum juga disegani. Kami juga mengenal sosok Komang Toris dengan baik,” tutup Wihendi.

Seperti diketahui, Komang Alam Sutawan atau Komang Toris meninggal dengan cara tragis. Ia meninggal akibat perselisihan yang terjadi di Desa Songan, Kintamani, Bangli saat melaksanakan tajen atau sabung ayam.

Komang Alam didatangi oleh Jro Mangku Luwes yang saat itu dalam kondisi mabuk miras. Dalam waktu singkat mereka berkelahi di arena tajen dengan membawa senjata tajam. Komang Alam terkapar dan meninggal terkena sabetan pisau dari Jro Mangku Luwes.***

 

Editor : Dian Suryantini
#Madenan #Komang Alam #tajen #tejakula #songan