BALI EXPRESS.ID– Nyoman Wihendi, Kepala Dusun Kelodan, Desa Madenan mengenang sosok Komang Alam Sutawan atau yang akrab disapa Komang Toris, korban meninggal tragis dalam insiden tajen di Desa Songan, Bangli.
Menurut Nyoman Wihendi, secara administrasi Komang Alam adalah warga Songan, tetapi secara rasa dia diakui sebagai warga Madenan.
Bagi Wihendi dan warga Madenan, Komang bukan hanya sekadar nama. Ia adalah bagian dari keluarga besar desa.
Lahir dan menghabiskan masa kecilnya di Madenan, ikatan emosional Komang pada tanah kelahirannya tak pernah pudar, meski secara administratif ia tercatat sebagai warga Songan sejak diangkat anak oleh pamannya pada usia 29 tahun.
“Dia bukan hanya teman, tapi seperti adik kandung. Kami tumbuh bersama, dan dia selalu menjadi pelindung bagi yang lemah. Sosoknya tenang, santun, dan punya rasa empati yang besar,” tutur Wihendi dengan suara lirih, Minggu (15/6).
Komang dikenal bukan sebagai sosok pembuat onar, melainkan sebaliknya—penjaga kondusifitas dalam lingkaran pertemanan dan kegiatan desa. Ia jarang terlibat dalam pertarungan ayam, dan jika pun hadir di arena tajen, ia lebih sering menjadi penengah, bukan pelaku.
Baca Juga: DPRD Bali Siapkan Draf Legalisasi Tajen, Soroti Aspek Budaya, Ekonomi, dan Hukum
“Bapaknya sendiri tak suka tajen, bekerja sebagai satpam. Komang hanya sesekali ikut, mungkin karena pergaulan. Tapi dia bukan pecandu tajen. Bahkan kalau ada yang ribut, dia yang melerai,” tambah Wihendi.
Beberapa pekan sebelum kepergiannya, Komang sedang dalam masa-masa bahagia. Ia telah menjalani sesi foto prewedding dan sedang mempersiapkan pernikahannya.
Meskipun sempat tertunda karena upacara keluarga calon istrinya, rencana itu tetap berjalan. Ia bahkan sempat menyelenggarakan tajen sebagai bagian dari penggalangan dana untuk pernikahan tersebut.
Namun takdir berkata lain. Dalam suasana yang seharusnya penuh harapan, Komang justru kehilangan nyawanya akibat pertikaian mendadak. Ia meninggal setelah dianiaya oleh Jro Mangku Luwes, seseorang yang dikenalnya, dalam kondisi terpengaruh minuman keras.
“Sekitar 20 hari lalu, dia bilang ke saya, ‘Hari ini mungkin jadi hari terakhir saya boncengan.’ Saya kira dia bercanda, seperti biasa. Tapi ternyata… itu benar,” ujar Wihendi, menahan emosi.
Baca Juga: Cedera Saat Mendaki Gunung Agung, Turis Slovakia Berhasil Dievakuasi Tim SAR
Bagi warga Madenan, Komang adalah sosok yang hangat dan selalu hadir di setiap kegiatan adat. Ia menyama braya tanpa diminta, selalu ada untuk membantu, dan menghormati semua orang tanpa pandang usia atau jabatan.
Kini, Komang Alam tinggal kenangan. Tapi kenangan itu tak akan mudah pudar. Di Madenan, namanya melekat kuat sebagai simbol persaudaraan, pengabdian, dan ketulusan.
“Dia tidak pernah setengah-setengah dalam mencintai orang-orang di sekitarnya. Baik di Madenan maupun di Songan, Komang Toris adalah pribadi yang dicintai,” tutup Wihendi.
Kehilangan ini bukan hanya milik keluarga, tapi juga milik seluruh warga yang mengenalnya. Dan di balik tragedi itu, masyarakat Desa Madenan mengenang Komang Alam bukan dari cara ia pergi, tapi dari cara ia hidup: penuh cinta dan pengabdian.
Editor : Wiwin Meliana