BALIEXPRESS.ID – Wakil Gubernur Bali, I Nyoman Giri Prasta, angkat suara terkait insiden maut di arena tajen (sabung ayam) di Desa Songan, Kintamani, Bangli, yang menewaskan seorang warga pada Sabtu (14/6/2026).
Ia menyesalkan peristiwa berdarah tersebut dan menekankan pentingnya menjaga nilai kebersamaan di masyarakat Bali.
“Kami sangat menyayangkan hal itu bisa terjadi. Harapan kami, ini menjadi yang terakhir. Kita harus kembali memperkuat konsep menyama braya di Bali,” ujar Giri Prasta saat ditemui di Kantor Gubernur Bali, Senin (16/6).
Wagub Giri Prasta mengungkapkan kekhawatirannya bahwa insiden tersebut bisa jadi dipicu oleh emosi tak terkendali serta dugaan pengaruh alkohol, yang menyebabkan tindakan di luar batas nalar dan kesabaran.
“Kekerasan semacam ini sangat tidak sejalan dengan budaya kita. Kami hanya khawatir, pelaku dalam pengaruh alkohol hingga emosinya tak bisa dikendalikan,” ujarnya.
Ia juga menyoroti aktivitas tajen yang ilegal dan meminta sinergi antara aparat keamanan, seperti Polri dan TNI, dengan masyarakat adat agar keamanan bisa ditegakkan secara maksimal.
“Kita apresiasi Tim Yustisi dan aparat keamanan yang selama ini bekerja menjaga ketertiban. Tapi sinergi ini harus terus diperkuat,” tegasnya.
Giri Prasta menambahkan, Pemerintah Provinsi Bali tidak tinggal diam dan telah melakukan langkah antisipatif.
Bahkan, pihaknya akan menyambut langsung kedatangan Kapolri dalam waktu dekat untuk membahas penanganan keamanan di Bali.
Salah satu program konkret yang terus digencarkan adalah penguatan sistem keamanan lingkungan (siskamling) berbasis desa adat.
Melalui peran aktif kelian banjar dan kepala dusun, pendataan masyarakat lokal dan pendatang pun sudah dilakukan secara ketat.
“Kita galakkan pendataan warga asli dan pendatang melalui program KIPem. Semua desa sudah bergerak, kami dari provinsi sebagai pengawas,” ungkapnya.
Menanggapi anggapan bahwa insiden ini menunjukkan kelalaian sistem keamanan, Giri Prasta menjawab bijak.
“Bahkan di negara seperti Amerika yang keamanannya ketat pun bisa kecolongan. Tapi dengan kerja sama masyarakat, aparat, dan tokoh adat, kita bisa meminimalisir potensi kriminal di Bali,” tegasnya.
Ia juga memastikan bahwa operasi keamanan terpadu telah berjalan rutin, termasuk di malam hari, melibatkan TNI, Polri, Bakamda, dan desa adat.
“Operasi keamanan dilakukan tiap hari, termasuk malam. Kami apresiasi Polri, TNI, dan semua pihak yang bersinergi menjaga Bali tetap aman,” ujarnya.
Di akhir pernyataannya, Giri Prasta kembali menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi Bali untuk menjaga harmoni dan ketertiban, serta mencegah agar insiden serupa tidak terulang di masa depan. (*)
Editor : Nyoman Suarna