DENPASAR, BALI EXPRESS - Insiden berdarah yang terjadi di arena tajen atau sabung ayam di Desa Songan, Kintamani, Bangli, menuai sorotan serius dari Gubernur Bali, Wayan Koster.
Peristiwa yang terjadi baru-baru ini tersebut menewaskan satu orang akibat penusukan, sehingga memunculkan kekhawatiran terhadap keamanan penyelenggaraan tajen di Bali.
Menanggapi insiden tersebut, Gubernur Koster menyampaikan keprihatinannya atas tindakan kekerasan yang terjadi di tengah tradisi tersebut.
Baca Juga: DPRD Bali Gelar Rapat Paripurna Bahas RPJMD 2025-2029 dan Pertanggungjawaban APBD 2024
“Pertama, sangat menyayangkan kejadian tindak kekerasan di arena tajen yang mengakibatkan korban jiwa,” ujar Koster, Senin (16/6).
Ia meminta aparat penegak hukum bertindak cepat dan tegas dalam menangani kasus ini, guna mencegah terulangnya insiden serupa di kemudian hari.
“Kepada aparat keamanan dan penegak hukum agar bertindak tegas terhadap pelakunya,” tegasnya.
Di sisi lain, Gubernur juga mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak terprovokasi oleh situasi yang berkembang.
Ia mengingatkan pentingnya menjaga ketertiban dan keamanan lingkungan dengan menyerahkan proses hukum sepenuhnya kepada pihak berwenang.
“Masyarakat setempat agar tidak terprovokasi oleh pihak manapun terkait peristiwa tersebut, agar menahan diri dan menjaga situasi tetap kondusif,” tambahnya.
Baca Juga: Satgas Percepatan Pariwisata Segera Dibentuk, Komisi III DPRD Klungkung Rumuskan Langkah Ke Depan
Koster juga mendesak Bupati Bangli bersama jajaran forum koordinasi pimpinan daerah (Forkopimda) untuk segera mengambil langkah cepat menyikapi insiden ini.
Ia menekankan pentingnya menjaga stabilitas wilayah, terutama setelah peristiwa tragis yang terjadi dalam arena sabung ayam.
Lebih jauh, Gubernur menyatakan akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap penyelenggaraan tajen di Bali.
Baca Juga: Polres Bangli Periksa Sejumlah Saksi Usai Insiden Berdarah di Arena Tajen Kintamani
Ia menilai aktivitas tajen saat ini sudah mengalami pergeseran dari nilai-nilai tradisi menuju praktik perjudian, yang rentan memicu konflik dan kekerasan.
“Ke depan penyelenggaraan tajen perlu diawasi dengan ketat agar peristiwa demikian tidak terjadi secara berulang-ulang,” pungkasnya.(***)
Editor : Rika Riyanti