Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ni Putu Anita Sofia Veronia, Penari Muda Penuh Taksu dari Jagaraga

Dian Suryantini • Selasa, 17 Juni 2025 | 22:30 WIB

Ni Putu Anita Sovia Veronia, penari Bali muda asal Desa Jagaraga, Buleleng.
Ni Putu Anita Sovia Veronia, penari Bali muda asal Desa Jagaraga, Buleleng.

 

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Sore yang sejuk menyelimuti Banjar Dinas Kauh Teben, Jagaraga. Di teras rumah yang luas dan penuh perangkat gamelan, tampak seorang gadis muda duduk manis di samping sang ayah. Dialah Ni Putu Anita Sofia Veronia—penari muda Bali dari Desa Jagaraga, Buleleng.

Anita lahir di Jagaraga, 4 Desember 2000, dari keluarga seniman. Ayahnya, Nyoman Arya Suriawan, adalah tokoh tari ternama asal Jagaraga, sedangkan ibunya juga seorang penari. Darah seni yang mengalir deras dalam dirinya membuat Anita seperti ditakdirkan untuk menari. Sejak kecil, ia sudah ikut pentas dan latihan bersama kedua orang tuanya. Bahkan, ia mengaku sudah menari sejak masih dalam kandungan.

“Aku mulai belajar Tari Condong sejak umur tiga atau empat tahun. Tapi mungkin sebenarnya sudah dari dalam kandungan juga,” ujarnya sambil tertawa renyah.

Kedekatannya dengan dunia seni tak lepas dari lingkungan tempat tinggalnya. Di pelataran rumahnya, anak-anak sekitar kerap berkumpul untuk belajar menabuh dan menari. Anita tumbuh dalam suasana yang kental dengan budaya. Tidak heran, jika kemudian ia menjadi salah satu penari muda Bali yang cukup menonjol.

Kakek buyut Anita adalah adik kandung dari maestro legendaris Gde Manik. Hubungan darah dengan sang maestro membuat nama Anita makin diperhitungkan di dunia seni tari Bali. Tak hanya karena silsilah, tetapi karena kerja keras dan pencapaian nyatanya.

Perjalanan panjang Anita di dunia tari dimulai sejak mengikuti lomba Tari Condong di usia 10 tahun. Ia meraih juara pertama, dan pengalaman itu menjadi batu loncatan. Saat duduk di bangku SMPN 3 Singaraja, ia mulai menarikan Tari Terunajaya—tari kebanggaan yang diciptakan oleh Gde Manik. Kedua orang tuanya sendiri yang melatihnya, dan hasilnya ia kembali meraih juara.

Sejak saat itu, langkah Anita makin mantap. Ia mulai menari di berbagai daerah, dari Kalimantan hingga Banyuwangi. Selain menambah pengalaman, aktivitas itu juga menambah uang jajannya semasa sekolah.

Baca Juga: Kisah Wayan Sukarta Teknisi LPJU Dishub Buleleng, Sering Dapat Laporan Fiktif Hingga Mata Hampir Buta

Saat kuliah di Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, Anita terus menari. Bahkan, pada 2021 ia didaulat menjadi Putri Tari Provinsi Bali dan mewakili Bali dalam ajang Putra-Putri Tari Indonesia di Maumere, NTT.

Perjalanan menuju ajang nasional itu pun penuh drama. Dua hari sebelum berangkat, nenek tercintanya meninggal dunia. Anita sempat ingin membatalkan keberangkatan, namun dukungan keluarga membuatnya tetap berangkat. Bahkan, prosesi ngaben ditunda hingga ia kembali dari kompetisi.

“Rasanya seperti alam pun memberi waktu agar semuanya bisa berjalan,” kenangnya.

Perjalanan ke Maumere juga tak mudah secara finansial. Namun, berkat bantuan Ibu Putri Koster dan Pemerintah Provinsi Bali, Anita akhirnya bisa berangkat. Meski tidak membawa pulang gelar juara, pengalaman itu sangat berarti baginya. ***

Editor : Dian Suryantini
#Jagaraga #undiksha #penari #budaya #gamelan #menari #buleleng