BALIEXPRESS.ID – Peristiwa penembakan yang terjadi di sebuah villa di Bali baru-baru ini kembali menimbulkan kekhawatiran publik dan memunculkan pertanyaan besar soal jaminan keamanan di destinasi wisata unggulan Indonesia tersebut.
Kasus ini tidak hanya mengganggu rasa aman masyarakat, tetapi juga dapat memengaruhi persepsi wisatawan terhadap Bali.
Pengamat pariwisata yang juga Guru Besar Universitas Udayana, Prof. Dr. I Putu Anom, B.Sc., M.Par., menyayangkan kejadian tersebut.
Baca Juga: Pemerintah Pusat Siapkan Penulisan Ulang Sejarah, Begini Tanggapan Disbud Bali
Menurutnya, peristiwa kriminal yang melibatkan senjata api menimbulkan keresahan, terlebih ketika hal itu terjadi di daerah tujuan wisata.
“Dengan adanya peristiwa-peristiwa seperti ini kan orang, wisatawan berpikir datang ke Bali. Dan sekarang ada media sosial yang membuat berita cepat tersebar,” ujar Prof. Anom, Selasa (17/6).
Ia menilai, penggunaan senjata api oleh pelaku kejahatan menunjukkan bahwa tingkat ancaman telah meningkat.
Hal ini memerlukan perhatian serius dari pihak berwenang agar keamanan Bali tetap terjaga, baik bagi penduduk lokal maupun pelancong asing.
“Sudah ada yang membawa senjata api selain aparat,” tambahnya.
Terkait kemungkinan melakukan seleksi terhadap wisatawan yang berpotensi menimbulkan masalah, ia menyebut hal itu tidak mudah dilakukan.
Baca Juga: Baru 3 Hari Lahiran, Aaliyah Massaid Tuai Kritik Usai Hadiri Pernikahan Al Ghazali
Sebab, turis yang datang biasanya telah melewati sistem pemeriksaan dari negara asal maupun pihak imigrasi Indonesia.
“Jika dia datang ke Bali diijinkan oleh negaranya dan data kita juga meloloskan, kan bisa saja,” ujarnya menjelaskan.
Prof. Anom juga mengingatkan bahwa kasus semacam ini bisa menjadi bahan pertimbangan bagi negara-negara pengirim wisatawan untuk kembali mengeluarkan peringatan perjalanan (travel warning) ke Bali.
Baca Juga: Viral! Mobil Tabrak Motor di Area Villa Kerobokan, Bukan Tanggung Jawab Malah kabur
Apalagi Australia sebelumnya sudah memberikan travel warning karena alasan keamanan.
“Bali sudah tidak dianggap nyaman lagi,” tegasnya.
Selain penembakan, ia juga menyoroti insiden kekerasan lainnya, seperti perkelahian dalam acara tajen (sabung ayam) di Desa Songan, Bangli, yang menambah kesan negatif terhadap situasi keamanan Bali secara keseluruhan.
Baca Juga: Kunjungan ke Bekasi, Dedi Mulyadi Bongkar Praktik Jual-Beli Tanah Negara, Begini Modusnya
“Tidak hanya pedesaan, dimana-mana tidak aman kalau begini,” tandasnya.(***)
Editor : Rika Riyanti