Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Kisah Gila-Gilaan Gede Teguh Rendra Sanjaya dalam Dunia Cosplay

Dian Suryantini • Jumat, 20 Juni 2025 | 19:31 WIB

 

Gede Teguh Rendra Sanjaya saat menggunakan kostum Water Bender
Gede Teguh Rendra Sanjaya saat menggunakan kostum Water Bender

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Di tengah keramaian kota, di antara wajah-wajah biasa yang lalu-lalang, muncul satu sosok yang selalu berhasil menarik perhatian. Gede Teguh Rendra Sanjaya, pemuda asal Singaraja. Sejak tahun 2008, pria asal Singaraja ini menekuni dunia cosplay — dunia yang dulunya dianggap aneh, bahkan sempat membuat orang menganggapnya “gila”.

Saat pertama kali tampil dengan kostum karakter anime, Rendra tidak disambut dengan tepuk tangan atau pujian. Justru cibiran yang ia dapatkan. “Awalnya dikira gila,” kenangnya sambil tertawa kecil. Tapi anggapan itu tak menyurutkan semangatnya. Ia terus melangkah dengan sepenuh hati, karena bagi Rendra, cosplay adalah ekspresi jiwa — bukan sekadar berdandan aneh-aneh.

Dari sekian banyak kostum yang pernah ia kenakan, satu karakter yang paling membekas di hati dan paling disukai penonton adalah Wirosbleng. Ya, sang pendekar 212 yang ikonik dengan kapak maut naga geni itu menjadi alter ego paling melekat pada dirinya.

“Wirosbleng itu bukan cuma karakter, dia simbol keberanian dan kegilaan. Banyak ekspresi yang bisa saya mainkan,” ujar Rendra dengan mata berbinar.

Namun perjalanan cosplay-nya tidak hanya berhenti di dunia fiksi. Rendra juga pernah menghidupkan sosok legendaris dari tanah kelahirannya: Raja Panji Sakti, pendiri kerajaan Buleleng.

“Waktu itu saya pengen mengangkat sejarah lokal lewat cosplay. Ternyata banyak yang tertarik dan bangga,” ucapnya.

Baca Juga: Clarissa Punipun Cosplayer Profesional Yang Mahir Analisa Karakter Lewat Wajah Seseorang

Dengan penuh kebanggaan, ia mengenakan pakaian raja lengkap dengan aksesoris khas Bali Utara, mencampurkan unsur sejarah dan seni pop dalam satu penampilan yang dramatis.

Bicara soal biaya, dunia cosplay memang bukan untuk dompet tipis. Kostum karakter Kamen Rider yang pernah ia buat menghabiskan dana hingga Rp800 ribu, sementara kostum karakter Mortal Kombat yang berbahan dasar kulit menelan biaya sekitar Rp500 ribu. “Kalau dihitung, ini memang hobi mahal. Tapi yang saya kejar bukan uang, melainkan kepuasan,” jelasnya.

Dari sekian banyak karakter yang telah ia perankan, ada satu yang menurutnya paling keren: Walisongo. Dengan kostum yang penuh simbol religius dan spiritual, Rendra berhasil memadukan nilai tradisi dan visualisasi modern. Tapi tetap, hati kecilnya selalu kembali pada Wirosbleng. “Yang paling saya suka tetap Wirosbleng. Ada kenangan khusus, mungkin karena dulu pertama kali sukses tampil penuh itu ya pakai kostum dia,” tambahnya.

Kini, stigma negatif soal cosplay mulai memudar. Apa yang dulu dianggap gila, kini mulai dipandang sebagai bentuk kreativitas tinggi. Rendra pun terus menularkan semangatnya ke anak-anak muda di sekitarnya, lewat komunitas dan ajakan untuk berkarya.

“Dulu dibilang gak bermanfaat, sekarang saya bisa ikut pameran budaya, jadi pengisi acara, bahkan tampil di event nasional. Ternyata dari kegilaan ini, saya bisa jadi sesuatu,” tutup Rendra sambil tersenyum — senyum dari seorang pendekar cosplay yang tak pernah lelah melawan stigma dengan gaya dan warna-warni kostumnya. ***

Editor : Dian Suryantini
#cosplay #Rendra #karakter #anime #singaraja