BALIEXPRESS.ID – Di balik gemuruh arus Bengawan Solo, pagi ini tersimpan kisah pilu yang membuat warga sekitar Jembatan Jurug terdiam.
Seorang perempuan muda, diduga mahasiswi tingkat akhir, melompat dari jembatan tersebut.
Korban meninggalkan sepeda motor, sebuah tas hitam, dan secarik pesan yang menggetarkan hati.
“Aku hanya bermasalah dengan diriku sendiri… Aku capek,” tulisnya dalam catatan yang ditemukan di dalam tas.
Sederet kalimat yang merekam kepedihan mendalam seorang anak manusia yang berjuang dalam diam.
Saksi mata, seorang pengemudi ojek online, menceritakan bahwa ia melihat perempuan itu berdiri di pinggir jembatan, lalu dalam sekejap melompat ke bawah.
Tak sempat dicegah, hanya teriakan yang menggema, terlambat untuk menyelamatkan.
Tim SAR masih menyisir aliran Sungai Bengawan Solo. Pihak kepolisian turut mengamankan barang-barang korban dan melakukan penyelidikan lanjutan.
Namun, tragedi ini mengingatkan kita pada jeritan sunyi yang kerap luput dari perhatian: masalah kesehatan mental di kalangan mahasiswa dan anak muda.
DSA, mahasiswi jurusan Kesehatan dan Keselamatan Kerja, dikenal cerdas dan rajin.
Namun, siapa sangka di balik senyumnya, tersimpan konflik batin yang tak terucap.
Dalam pesannya, ia meminta agar tidak menyalahkan keluarga atau kampus. Ia tak sedang menyalahkan siapa pun, ia hanya lelah.
Editor : Nyoman Suarna