Prinsip inilah yang dipegang teguh oleh Luh Irma Susanthi, S.Sos., M.Pd., penyuluh agama Hindu asal Desa Tajun, Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng.
Sejak tahun 2015, Irma telah mendedikasikan hidupnya sebagai penyuluh dengan misi menyebarkan nilai-nilai Hindu yang relevan dan membumi.
Sebagai lulusan Magister Pendidikan Agama Hindu dari STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Irma dikenal sebagai sosok penyuluh yang produktif dan reflektif.
Ia tidak hanya menyampaikan isi kitab suci secara tekstual, tetapi juga mengkontekstualisasikannya dengan dinamika masyarakat.
Materi penyuluhannya sering kali diperkaya dengan analisis sosial dan pendekatan kultural yang menyentuh isu-isu aktual seperti lingkungan hidup dan pengentasan kemiskinan.
Bagi Irma, upaya memberdayakan umat secara ekonomi merupakan wujud nyata dari Manusa Yadnya.
Ia aktif memberikan pendampingan, pelatihan, dan edukasi keterampilan kepada warga di kampung halamannya agar mampu bertahan dan berkembang di tengah tantangan globalisasi.
Melalui penguatan kapasitas lokal, Irma berharap umat Hindu tidak hanya menjadi pemeluk yang taat, tetapi juga pelaku ekonomi yang tangguh.
Salah satu inisiatifnya yang mencuri perhatian adalah pendirian usaha kuliner Irma Bumbu Bali. Usaha ini memproduksi berbagai bumbu siap saji khas Bali seperti minyak bali, bawang goreng, dan urutan asap.
Selain menjadi sumber pendapatan bagi keluarganya, Irma menjadikan unit usaha ini sebagai wadah pemberdayaan perempuan dan generasi muda desa.
Konsep usaha yang dikembangkannya dilandasi semangat yajña karma, sebagaimana termaktub dalam Bhagavad Gita III.9.
Irma meyakini bahwa setiap aktivitas ekonomi yang tidak berlandaskan yadnya akan membawa keterikatan dan penderitaan.
Irma memilih untuk menjadikan usahanya sebagai bentuk pelayanan. Setiap hasil penjualan sebagian dialokasikan untuk kegiatan sosial tanpa publikasi sebagai langkah nyata dari semangat seva, yaitu pelayanan tanpa pamrih.
Baginya, berbagi secara diam-diam lebih bermakna daripada publikasi yang sekadar mencari simpati.
Konsistensinya dalam mengabdi membuat Irma diganjar sejumlah penghargaan, termasuk sebagai Penyuluh Agama Hindu Inovatif oleh Kementerian Agama Buleleng tahun 2023, serta Koordinator Terbaik Penyuluh Non-PNS tahun 2019.
Irma juga diakui sebagai Tokoh Perintis UMKM Buleleng tahun 2017 karena perannya dalam menumbuhkan wirausaha berbasis budaya lokal.
Sebagai Koordinator Penyuluh Agama Hindu Kecamatan Kubutambahan, Irma juga berperan strategis dalam menyinergikan gerakan spiritual dan pemberdayaan ekonomi.
Ia meyakini bahwa penyuluh tidak hanya menjadi pengajar kitab suci, tetapi juga fasilitator transformasi sosial.
“Penyuluhan bukan hanya menyampaikan ajaran suci, tetapi bagaimana ajaran itu hidup dalam keseharian umat,” ujarnya.
Motivasi Irma menjadi penyuluh berakar dari rasa hormat pada almarhum ayahnya dan kasih kepada keluarga.
Ia menyebut tugas penyuluh sebagai dharma bhakti tertinggi yang dapat ia persembahkan kepada leluhur, ibu, suami, anak, dan masyarakat di kampung halaman.
Baginya, kemiskinan bukan hanya soal keterbatasan materi, melainkan juga akibat hilangnya akses, semangat, dan pengetahuan.
“Di sinilah penyuluhan menjadi cahaya dharma, membimbing umat keluar dari kegelapan menuju kebijaksanaan,” tegas Irma.
Ia juga aktif mempromosikan produk sattwika, makanan yang menenangkan dan memurnikan tubuh dan pikiran, sebagai bagian dari pelayanan pada semesta. Melalui kuliner spiritual ini, Irma menyampaikan pesan bahwa makanan juga bisa menjadi jalan menuju Tuhan. (dik)
Editor : I Putu Mardika