BALIEXPRESS.ID-Peristiwa tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya di perairan Selat Bali terus menyisakan luka mendalam bagi para korban dan keluarga.
Dalam unggahan di akun resmi BBC Indonesia di Facebook, pada Kamis, 3 Juli 2025, dua korban selamat membagikan kesaksian mencekam yang mereka alami saat kapal mulai karam.
Baca Juga: Lolak Komentari Gaya Lawakan Petruk, Niluh Djelantik Beri Sindiran Menohok
Salah satu korban selamat, Samsul, menceritakan bagaimana dirinya nyaris tak selamat ketika kapal tiba-tiba terguling diterjang ombak tinggi.
“Kapal terbalik saya lompat, ikut masuk ke dalam (laut) tertarik arus kapal,” ujar Samsul, dikutip Sabtu, 5 Juli 2025.
Dalam kondisi panik dan gelapnya malam, Samsul salah satu korban selamat, mengaku hanya bisa pasrah saat tubuhnya terseret arus setelah kapal terbalik.
“Untungnya pelampung baju keluar sendiri, jadi saya pegangan baju pelampung jadi ditarik sama baju pelampung (ke permukaan),” imbuhnya.
Baca Juga: Sumanto Jadi Konten Kreator TikTok, Ikut Tren “Dame Un Grrr”, Begini Komentar Kocak Netizen
Namun, keberuntungan masih berpihak padanya berkat pelampung yang terbuka otomatis dan menyelamatkannya dari tenggelam.
“Kami semua ditemukan nelayan.” ucapnya.
Ia juga menggambarkan betapa cepatnya kapal tenggelam disaat kejadian tragis tersebut.
“Kondisinya itu riskan, kejadiannya itu cepat, waktu ombak masuk, tinggi, itu kapal miring. Setelah itu kendaraan (di kapal) juga ikut tertarik (ombak). Setelah ombak datang lagi mesin (kapal) mati.” Jelasnya.
Samsul juga menggambarkan betapa cepatnya insiden itu terjadi. Menurutnya, sejak kapal mulai oleng hingga benar-benar tenggelam, semua berlangsung dalam hitungan menit tanpa banyak waktu untuk menyelamatkan diri.
“Hitungan 3 menit kapal langsung tenggelam.”
Korban selamat lainnya, Bejo Santoso, mengaku harus berenang selama tujuh jam di laut sebelum akhirnya dievakuasi oleh nelayan.
“Kami berenang itu tujuh jam, karena kisaran (kapal tenggelam) di jam 22.30 atau jam 23.00, kita bertemu dan dievakuasi nelayan, kita diselamatkan itu jam 05.30,” jelas Bejo.
Ia menyebut kapal mulai miring sekitar 30 menit sebelum benar-benar terbalik.
“Kondisi perahu itu posisinya miring, tadinya masih bisa (tegak kembali), menjelang yang ke 30 menit, perahu itu sudah oleng ke kiri, enggak bisa balik lagi,” imbuhnya.
Namun, kata Bejo, tidak ada imbauan evakuasi dari awak kapal, karena waktu kejadian sangat cepat.
“Waktu (kapal mulai) oleng memang ada satu ABK yang ke belakang, kemungkinan menengok, meninjau kondisinya bagaimana. Dia masuk, posisi kapal sudah hampir terbalik.”
Dirinya juga menegaskan bahwa proses tenggelamnya kapal terjadi sangat cepat. Ia menyebut tak ada waktu bagi kru untuk memberikan peringatan atau imbauan evakuasi kepada para penumpang.
“Jadi gak sempat ada himbauan (menyelamatkan diri), Waktunya mepet sekali, 3–5 menit,” tutupnya.
Baca Juga: SAKIT! Ayah Kandung Aniaya Balita 22 Bulan, Rekam Lalu Kirim ke Istri, Alasannya Bikin Emosi
Cerita kedua korban ini memicu reaksi dari warganet, yang menyoroti lemahnya sistem keselamatan dan dugaan kelalaian perusahaan kapal.
“Memang yg benar safety yg aman semua penumpang masuk kapal sudah pakai pelampung. Dan ambil tempat duduk cari deck paling atas. Ketika urgensi kita sudah siap tinggal lompat. Tapi safety seperti ini diabaikan oleh pihak perusahaan kapal.” komentar akun @Paminto Amin.
“Tiap kali nyebrang gak pernah dibagiin baju pelampung. Gak dikasi pelajaran cara penyelamatan diri klu terjadi kecelakaan,” tulis akun @I Gusti Ayu.
“Padahal Bali dan Banyuwangi itu dekat, nelayan yang evakuasi, tim SAR datang terlambat. Terlalu banyak SOP,” ujar akun @Sabto Popeye.
“Dari cerita ini kapal sudah bermasalah tetap dipaksakan jalan. Memang banyak kapal-kapal di Selat Bali sudah tua-tua dan dipaksakan berlayar demi keuntungan tapi mengabaikan keselamatan penumpang,” tambah akun @Igusti Made Anom.
Editor : Wiwin Meliana