7 Fakta Tragedi Selat Bali: KMP Tunu Pratama Jaya Tenggelam, Diduga Ada WNA Tak Masuk Manifes Kapal
I Putu Suyatra• Sabtu, 5 Juli 2025 | 19:32 WIB
Tampilan KMP Tunu Pratama Jaya semasa masih beroperasi, sebelum tenggelam di Selat Bali. (istimewa)
BALIEXPRESS.ID – Sebuah tragedi memilukan menyelimuti perairan Selat Bali. Kapal Motor Penumpang (KMP) Tunu Pratama Jaya dilaporkan tenggelam secara misterius saat menyeberang dari Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, menuju Pelabuhan Gilimanuk, Bali, pada Kamis dini hari (3/7).
Insiden ini telah merenggut nyawa dan menyisakan duka mendalam, sekaligus memicu pertanyaan besar: apa sebenarnya yang terjadi di balik tenggelamnya kapal ini?
Tim SAR gabungan telah berhasil mengevakuasi 36 orang dari kapal nahas tersebut, namun mirisnya, 6 di antaranya ditemukan dalam kondisi meninggal dunia.
Hari ini, Sabtu (5/7), upaya pencarian korban masih terus digencarkan, bahkan hingga ke dasar laut yang memiliki kedalaman 40-50 meter.
Fakta-fakta Mengejutkan di Balik Tragedi KMP Tunu Pratama Jaya
1. Sinyal Darurat Sebelum Blackout
Insiden tragis ini dimulai tak lama setelah KMP Tunu Pratama Jaya bertolak dari Pelabuhan Ketapang pada Rabu (2/7) pukul 23.35 WIB.
Kepala Kantor SAR Surabaya, Nanang Sigit, mengungkapkan bahwa kapal sempat mengirim sinyal darurat melalui channel 17 pada pukul 00.16 WITA, melaporkan adanya kebocoran di ruang mesin.
Hanya berselang tiga menit, pada pukul 00.19 WITA, kapal mengalami blackout total, terbalik, dan hanyut ke arah selatan.
2. Mengangkut Puluhan Orang dan Kendaraan
Berdasarkan data manifes, KMP Tunu Pratama Jaya membawa 53 penumpang dan 12 kru kapal, serta 22 kendaraan.
Dengan 36 korban yang telah dievakuasi (30 selamat dan 6 meninggal), artinya masih ada 29 orang yang belum ditemukan.
3. Instruksi Cepat dari Presiden dan Menhub
Presiden Prabowo Subianto, melalui Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, langsung menginstruksikan jajarannya untuk sigap menyelamatkan korban dan memantau operasi penyelamatan.
Senada, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi juga memerintahkan percepatan proses pencarian dan pertolongan, dengan mengedepankan koordinasi dan keselamatan.
4. Kendala Cuaca dan Jarak Pandang
Pada hari kedua pencarian (Jumat, 4/7), upaya tim SAR belum membuahkan hasil.
Deputi Operasi SAR dan Kesiapsiagaan Basarnas, Laksamana Muda TNI Ribut Eko Suyatno, menyebut bahwa kendala utama adalah penurunan jarak pandang dari 10 kilometer menjadi hanya 3 kilometer, serta tinggi gelombang yang mencapai 2-2,5 meter.
Dugaan Baru: Penumpang Tak Terdaftar dan Investigasi KNKT Dimulai
5. Muncul Dugaan Penumpang Tak Terdaftar di Manifes
Sebuah fakta mengejutkan terungkap. Yatini, warga Banyuwangi, menduga suaminya, Fauzey bin Awang (WNA Malaysia), menjadi korban namun tidak tercatat dalam manifes kapal.
Padahal, mobil travel bernopol DK 7994 yang ditumpangi suaminya, tercatat dalam muatan kapal. Dugaan ini menambah kompleksitas pencarian dan identifikasi korban.
6. KNKT Turun Tangan Selidiki Izin dan Prosedur Darurat Komisi Nasional
Keselamatan Transportasi (KNKT) telah memulai investigasi. Ketua KNKT, Soejanto Tjahjono, menegaskan bahwa mereka akan menelusuri segalanya, mulai dari surat persetujuan berlayar (SPB) untuk memastikan kelaikan kapal hingga video-video yang beredar di media sosial.
"Setelah SAR selesai, baru sepenuhnya kami melakukan investigasi lanjutan,” jelasnya.
7. Jasa Raharja Pastikan Santunan
Korban Plt Dirut Jasa Raharja, Rubi Handojo, memastikan bahwa seluruh korban yang tercatat dalam manifes akan menerima hak perlindungan, dengan santunan sebesar Rp 50 juta untuk korban meninggal dan Rp 20 juta untuk korban luka-luka.
Pencarian Berlanjut, Harapan Menipis?
Hari ini, pencarian korban KMP Tunu Pratama Jaya memasuki babak krusial dengan fokus diperluas hingga ke dasar laut.
Kedalaman perairan yang mencapai 40-50 meter menjadi tantangan tersendiri bagi tim SAR.
Akankah operasi hari ini membuahkan hasil dan mengungkap lebih banyak korban?
Dan yang tak kalah penting, apa sebenarnya yang menyebabkan kapal ini tenggelam begitu cepat? Publik menanti jawaban dari misteri kelam Selat Bali ini. ***