Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sanggar Seni Candrawangsa Badung Tampilkan Gamelan Inovatif di PKB 2025, Usung Tema Tapa Prakerti

Putu Resa Kertawedangga • Minggu, 6 Juli 2025 | 23:27 WIB
MEMUKAU: Penampilan Sanggar Seni Candrawangsa, duta Kabupaten Badung dengan gamelan inovatif, di Kalangan Angsoka, Art Centre, Denpasar, Jumat (4/7).
MEMUKAU: Penampilan Sanggar Seni Candrawangsa, duta Kabupaten Badung dengan gamelan inovatif, di Kalangan Angsoka, Art Centre, Denpasar, Jumat (4/7).

BALIEXPRESS.ID – Nuansa spiritual dan inovasi musikal berpadu apik dalam penampilan Sanggar Seni Candrawangsa dari Banjar Dalem, Desa Angantaka, Kecamatan Abiansemal.

Sebagai duta Kabupaten Badung, mereka tampil memikat dalam ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-47 pada Jumat (4/7), di Panggung Kalangan Angsoka, Art Centre Denpasar.

Dengan membawakan empat garapan, tiga di antaranya berupa tabuh inovatif dan satu tari sebagai penutup, penampilan Sanggar Candrawangsa berhasil menyita perhatian ratusan penonton.

Mayoritas seniman yang terlibat dalam pertunjukan ini adalah generasi muda yang sarat talenta dan semangat pelestarian budaya.

Koordinator Sanggar, I Gede Ananta Diparesta, menjelaskan bahwa garapan gamelan inovatif kali ini lahir dari konsep Tapa Prakerti—sebuah refleksi dari prosesi Hari Raya Nyepi dan pelaksanaan Catur Brata Penyepian.

Tapa melambangkan pengendalian diri melalui meditasi, sementara Prakerti mengacu pada kemurnian alam semesta.

“Dari konsep besar ini kami menciptakan tiga garapan musik inovatif yang terinspirasi dari nilai-nilai Tri Hita Karana, yaitu Swara Pawitri, Suda Prawerti, dan Tepa Slira,” jelas Ananta.

Garapan pertama, Swara Pawitri, lahir dari prosesi pemelastian menjelang Nyepi. Musiknya memadukan nuansa alam dengan konsep persembahan spiritual.

Swara berarti suara, dan Pawitri bermakna suci. Komposisi ini diolah dalam bentuk kawi gending yang berfungsi sebagai media komunikasi dan persembahan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Tabuh kedua, Suda Prawerti, terinspirasi dari ritual Tawur Kesanga. Garapan ini mencerminkan kerusakan alam akibat keserakahan manusia, lalu bergeser menuju penyucian dan kesadaran spiritual.

Dengan dinamika kuat, alur musikal ini menyuarakan proses penyucian palemahan atau bumi sebagai bagian penting dalam perjalanan batin manusia menuju harmoni.

Karya ketiga, Tepa Slira, diangkat dari suasana malam Pengerupukan yang identik dengan arak-arakan ogoh-ogoh. Komposisi ini menggambarkan ujian bagi manusia dalam menahan ego, emosi, dan euforia.

Tepa Slira menjadi refleksi tentang pentingnya tenggang rasa di tengah kegembiraan yang kadang melupakan esensi spiritual di balik tradisi.

“Melalui gamelan inovatif ini, kami ingin menyampaikan pesan spiritual yang lahir dari budaya dan keseharian masyarakat Bali,” pungkas Ananta.

Penampilan Sanggar Seni Candrawangsa tak hanya memikat dari sisi musikal, tetapi juga menjadi bukti bahwa generasi muda mampu menyuguhkan karya inovatif tanpa meninggalkan akar tradisinya.

Dengan semangat Tapa Prakerti, Sanggar ini menunjukkan bahwa karawitan Bali dapat terus berkembang, relevan, dan menyentuh nurani di tengah perkembangan zaman. (*)

Editor : Nyoman Suarna
#duta #inovatif #seni #gamelan #badung #Sanggar #pkb